Dampak Pembangunan Terhadap Lingkungan

Dampak Pembangunan Terhadap Lingkungan

Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat di segala bidang yang menyangkut kehidupan manusia. Manusia harus pintar dalam merancang pembangunan agar tidak berdampak pada lingkungan. Sebab, lingkungan sangat berpengaruh secara langsung dan memiliki peranan yang sangat penting bagi seluruh kehidupan mahluk hidup.

Dewasa ini, banyak sekali kasus pencemaran atau kerusakan lingkungan akibat dari pembangunan. Seperti beberapa hal diantaranya, banjir, longsor, air sungai yang terkena limbah, rusaknya pepohonan di hutan, dan spesies hewan yang nyaris punah karena daerahnya dirusak. Oleh karena itu, manusia harus benar-benar memperhatikan lingkungan di sekelilingnya agar tidak menimbulkan dampak buruk yang lebih besar ketimbang manfaatnya. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang tidak merusak lingkungan sekitar.

Dampak Baik dan BURUK dari Pembangunan

Dalam sebuah pembangunan sangat berpengaruh besar terhadap lingkungan dan menimbulkan sejumlah dampak, dimana dampak tersebut bisa saja berdampak baik maupun buruk.

Dampak baik dari pembangunan sangat dibutuhkan negara berkembang untuk kemakmuran penduduknya. Khusus di Indonesia, salah satu upaya Indonesia menjadi negara maju adalah meningkatkan pembangunan di daerah terpencil atau daerah perbatasan. Manfaat sektor industri bukan hanya bagi sektor pertanian, tetapi juga penting bagi masyarakat. Barang-barang seperti pakaian, makanan, kendaraan pribadi dan sebagainya adalah jenis-jenis kebutuhan manusia yang dapat dihasilkan dari sektor industri. Terutama sektor industri barang.

Pembangunan yang menghasilkan industri yang melimpah membuat lapangan kerja meningkat dan jumlah hasil produksi pun melimpah. Barang mentah yang diolah di industri bisa menjadi barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Selain kebutuhan masyarakat, pembangunan juga dapat menambah jumlah sarana dan prasarana baru. Mesin-mesin pabrik, kantor, dan traktor adalah beberapa diantaranya. Pembangunan tak hanya dalam ranah industri. Pembangunan di ranah transportasi juga perlu diperhatikan dalam proses pembangunan. Dengan adanya jalur transportassi baru, jarak antar wilayah yang jauh bisa semakin dekat.

Dampak buruk dari pembangunan tidak terlepas dari pengolahan limbah industri yang buruk dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, entah itu pencemaran air, tanah, maupun udara. Akibatnya, warga yang tinggal di lingkungan sekitar akan ikut tercemar dan terserang berbagai macam penyakit. Word Health Organization (WHO) mencatat banyak pabrik industri yang menimbulkan polusi udara, diperkirakan telah menyebabkan 4,2 juta kematian pada tahun 2016. 3,8 juta orang diperkirakan meninggal selama periode waktu yang sama karena polusi udara pabrik industri yang disebabkan oleh hasil produksi di pabrik dengan bahan bakar polutan seperti solar dan lain-lain.

WHO juga mencatat bahwa lebih dari 40 persen pabrik industri tidak memiliki akses ke bahan bakar produksi bersih atau teknologi yang lebih bersih. Polusi ini akan menimbulkan pencemaran udara dan berbagai macam penyakit yang diderita manusia itu sendiri, dalam proses pembangunan memerlukan banyak lahan yang dibutuhkan.

Tidak jarang, lahan-lahan di perhutanan dan perbukitan pun digunakan untuk pembangunan. Berdasarkan data  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terdapat 2.175 kejadian bencana di Indonesia. Dari data itu, 99,08% merupakan bencana   ekologis, disebabkan meningkatnya penebangan pohon sebagai dampak perubahan iklim. Salah satu permasalahan juga dalam penebangan pohon banyak sekali kerugian yang terjadi. Menurut data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mencatat untuk 1 pohon dapat membuat 41,6 Kg kertas sama dengan 12 Rim kertas, sementara untuk 1 pohon dapat menghasilkan 1,2 oksigen per harinya dan untuk 1 orang bernafas membutuhkan 0,5 oksigen per harinya, jadi untuk 1 pohon dapat menunjang kehidupan 2 orang. Apabila 1 pohon di tebang maka akan membunuh 2 orang.

Hal ini membuktikan betapa ruginya pembangunan yang dilakukan di hutan dan perbukitan akan mengurangi daerah resapan air dan oksigen. Sebab keduanya sangat penting buat kehidupan, dimana resapan air mampu menyerap air dalam jumlah banyak dari sebuah pohon. Bila suatu daerah tandus atau rusak, maka air dari resapan pepohonan yang muncul dari air hujan tidak akan bisa ditampung dalam jumlah banyak oleh tanah, karena tidak adanya pepohonan yang menyerap air dari tanah langsung, sebagai cadangan air untuk dimassa berikutnya. Itulah sebabnya jika pohon ditebang dan menyebabkan hutan gundul maka akan menimbulkan longsor dan banjir.

Tak hanya di hutan atau pun perbukitan, lahan pertanian pun tidak jarang dijadikan obyek pembangunan. Padahal, kita ketahui sektor pertanian mampu menjangkau kebutuhan utama manusia. Yaitu dalam pemenuhan kebutuhan pangan, hal ini tidak boleh dianggap mudah karena pada dasarnya dalam sektor pertanian bergantung pada kebutuhan hidup orang banyak dan berpengaruh sekitar 17,3% penyumbang pemasukan negara pada Produk Domestik Bruto (PDB). Namun pada kenyataanya kehidupan para petani memang sangat memprihatinkan mulai dari pendanaannya didalam pertanian hingga lahan yang berkurang dikarenakan banyaknya pembangunan yang terjadi di wilayah pertanian.

Disini kita bisa melihat suatu ketimpangan. Seharusnya pembangunan mampu membantu sektor pertanian, bukan malah mengurangi lahan pertanian. Bila lahan pertanian berkurang, maka ketersedian beras pun akan berkurang. Seperti yang terjadi saat ini, dimana Kementerian Perdagangan (KEMENDAG) diawal tahun  2018 pemerintah mengimpor beras dari beberapa negara bagian seperti Thailand dan Vietnam yang berjumlah 500.000 Ton, ini yang jadi kabar buruk buat petani lokal, pasalnya saat pemerintah mengeluarkan wacana impor beras tersebut mendekati panen raya, otomatis ini sangat merugikan pendapatan petani lokal. Ini membuktikan lahan terbuka hijau turut menjadi korban pembangunan. Akibatnya, lahan yang mestinya terbuka bagi semua orang kini malah menjadi milik perseorangan. Hal ini tentu akan mengurangi wilayah-wilayah untuk publik dan berpotensi menimbulkan penyalahgunaan lahan terbuka hijau. Padahal, lahan terbuka sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sebab, lahan tersebut bisa digunakan masyarakat untuk bercocok tanam, bersosialisasi atau rekreasi, dan lain-lain.

Masalah Besar dari Reklamasi

Masalah pembangunan yang berdampak langsung pada lingkungan sangat banyak, seperti reklamasi, penggundulan hutan, serta pembangunan pabrik industri. Tidak heran masyarakat resah dengan pembangunan-pembangunan yang terjadi seperti halnya reklamasi yang terjadi di Teluk Benoa Bali.

Reklamasi di Teluk Benoa Bali, pembangunan pulau-pulau buatan di kawasan perairan Teluk Benoa. Padahal di teluk tersebut banyak sekali mangrove yang berjejer di pinggiran Teluk Benoa,  Proyek reklamasi dengan menciptakan pulau-pulau baru di kawasan Teluk Benoa akan membuat proses sedimentasi atau pendangkalan berlangsung semakin cepat, hal ini disebabkan karena material-material sedimen yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke Teluk Benoa akan terhalang oleh pulau-pulau baru hasil reklamasi.

Reklamasi tidak akan menyelamatkan habitat dan ekosistem Teluk Benoa, namun sebaliknya, reklamasi akan menghancurkan habitat dan ekosistem Teluk Benoa yang telah terbentuk dari jutaan tahun yang lalu. Habitat dan ekosistem mangrove Teluk Benoa berperan penting dalam menjaga kestabilitasan produktivitas dan ketersediaan sumberdaya hayati wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang juga merupakan daerah buatan.

Analisis Dampak Lingkungan (AMDAl)

AMDAL adalah suatu cara yang digunakan dalam mengendalikan perubahan lingkungan sebelum suatu tindakan kegiatan pembangunan dilaksanakan.  Hal ini dilakukan karena setiap kegiatan pembangunan selalu menggunakan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya, sehingga secara langsung (otomatis) akan terjadi perubahan lingkungan. Dengan demikian perlu pengaturan pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan hidup, serta  cara meminimalisir dampak, supaya pembangunan-pembangunan yang lainnya dan berikutnya dapat tetap dilakukan.

Pembangungan tanpa AMDAL

Pembangunan suatu proyek tanpa menggunakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tentu sangat merugikan banyak masyarakat. Misalnya, mengalami banjir saat hujan, kelangkaan air sumur, bising akibat proyek konstruksi, karena letak atau lokasi proyek berada ditengah permukiman.

Untuk itu perlu direvisi kembali setiap aturan pembangunan, karena dalam UU No 26 tahun 2007 pasal 17 memuat, bahwa proporsi kawasan hutan paling sedikit 30% dari luas Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dimaksudkan dapat menjaga kelestarian lingkungan. Maka dengan ini perlu adanya perhatian kembali untuk pemerintah daerah setempat, agar kiranya dalam mengambil kebijakan mengenai pembangunan di perlukan AMDAL. Agar setiap pembangunan tidak merugikan lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya.

Maka dari itu pembangunan disatu pihak dapat menimbulkan dampak positif terhadap lingkungan dan masyarakat seperti tersedianya jaringan jalan, telekomunikasi, listrik, air, kesempatan kerja serta hasil produksi sendiri memberi manfaat bagi masyarakat luas dan juga dapat meningkatkan pendapatan. Masyarakat sekitar pabrik, langsung atau tidak langsung dapat menikmati sebagian dari hasil pembangunan. Disisi lain apabila pembangunan ini tidak diarahkan bisa saja terjadi berbagai masalah seperti konflik kepentingan, pencemaran lingkungan, kerusakan, pengurasan sumberdaya alam, masyarakat konsumtif serta dampak sosial lainnya yang pada dasarnya merugikan masyarakat.

Untuk itu pembangunan harus menjadi salah satu usaha yang sebenarnya dapat membantu manusia. Tetapi, jika pembangunan tidak sesuai dengan tata aturan yang ada, dimana manusia tidak memperhitungkan dampak-dampak yang terjadi dimasa mendatang maka dampak dari perubahan itu akan ditanggung sendiri oleh manusia. Pembangunan yang ada sekarang mempunyai hubungan dengan semuanya, baik itu, iklim, sosial, struktur tanah dan sebagainya. Sebagaimana pemerintah diharapkan untuk mempertimbangkan dengan baik dalam mengeluarkan kebijakan terkait pembangunan, dimana pembangunan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk memilih suatu wilayah yang akan dibanguni sesuai dan tidak akan merusak ekosistem.

Penulis: karno
Red : Izhan Ide

redaksi

One thought on “Dampak Pembangunan Terhadap Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *