Distorsi Kampung, Kota dan Rumah

Distorsi Kampung, Kota dan Rumah

penulis : Nopri Aan Saputra

Setiap kita terbangun dalam sebuah ruang sejarah dengan dimensi yang kompleks. Dimensi yang terdiri dari narasi keakuan lewat relasi dengan kerabat, kekitaan lewat relasi dengan orang lain maupun kedirian lewat proses penyadaran diri yang berjalan terus menerus. Kesadaran yang ada lalu menjadi potret diri untuk dipajang dalam jejaring relasi sosial yang ada. Dimana image diri menjadi pesan untuk orang lain untuk mempersepsikan sesuai keinginan. Interaksi berproses atas tarikan-tarikan makna antar individu dan pemaknaan atas seseorang untuk dipertentangkan dengan realitasnya sehari-hari.

Kedirian kita kemudian terbelah dalam beragam konstelasi. Jamak orang bersepakat, antara privat dan publik. Ruang-ruang tersebut kemudian secara berlahan menjadi konstruksi kedirian kita, dengan beragam atribut yang menyertainya. Privat seperti memberi batas secara tegas keberadaan diri dengan relasi yang luas, kompleks, saling menguntungkan, tidak terkira, penuh dengan tanda tanya. Sedangkan makna publik kemudian menjadi sederhana karena dekat, tidak kompleks, dan sangat terbatas.

Kehadiran diri kita, bagi saya kemudian menemukan tempatnya dalam diskursus ruang. Ruang dimana diri hadir secara privat dan publik secara bersamaan. Ruang-ruang tersebut kemudian menjadi penanda kedirian kita dalam formasi rumah: bentuk, pola pintu, jenis tanaman, warna cat, hingga nama kampung. Kesemuanya mempunyai nalar yang bagi saya bisa dijelaskan. Setiap pilihan yang mencipta makna dalam rumah akan disusun lewat berlapis-lapis alasan. Mulai dari yang paling sederhana hingga paling rumit. Karena disitulah letak konsepsi kedirian kita kemudian didefinisikan oleh orang lain. Kontekstualisasi privat serta merta menjadi indikator yang kompleks. Sebab seorang dilekatkan oleh beragam piranti-piranti sebagai tanda oleh negara, oleh lingkungan dan oleh keluarga. Dan rumah menjadi bingkai besar sekaligus batas-batas makna tentang diri kita.

Rumah adalah bingkai kekitaan. Di dalam rumah, kita menjadi pemilik sekaligus pengikat atas batas-batas kepemilikan. Rumah menjadi asal muasal sekaligus simpul bagi bangunan yang nilai, bangunan kedirian, termasuk kesejarahan individu yang melebar dan membentuk kekerabatan yang luas. Dari rumahlah rangkaian panjang narasi dimulai untuk kemudian diteruskan menjadi jejak-jejak biografis. Rahasia dirakit menjadi ikatan kepercayaan sekaligus memulakan hidup dan kehidupan.

Sejarah individu dirancang dalam alam mimpi orang-orang tua lewat nama-nama yang disematkan sebagai penolakan untuk capaian tentang masa depan maupun rekaman atas makna-makna subjektif. Cerita masa lalu selalu diperdengarkan sebagai warisan untuk titian masa depan, peristiwa masa lalu yang terdokumentasi dalam foto, lalu dipajang sebagai pengingat, dan petuah-petuah kemuliaan didengarkan sambil mengiringi larutnya malam. Canda cerita dirangkaikan dalam keseharian bersama narasi-narasi monumental yang mengikuti siklus pada kalender untuk menikmati libur, berkumpul dengan kerabat, arisan kampung, jadwal pertemuan muda-mudi, hingga hajatan tetangga, untuk kemudian mengulanginya kembali pada tahun yang akan mendatang.

Di dalam rumah pula semuanya dilakukan. Mulai dari memilih apa yang mau kita makan, memakannya bersama-sama, berbincang, merancang cita-cita, mandi serta mencuci setiap hari, dan beragam kegiatan lainnya. Sebenarnya secara rutin kita melakukannya. Semuanya menjadi asal muasal dari sebuah aktivitas yang akan memberi dampak bagi aktifitas publik. Dari rumah, potret diri yang ideal dirangkai secara detail untuk dikenakan, mulai pasta gigi, sabun, sampho, minyak rambut, baju dalam, baju yang telah disetrika, celana yang rapi, lengkap dengan gesper, sepatu beserta kaos kakinya. Ibarat make-up maka utuhlah konsep diri kita kemudian. Sebuah kondisi yang seragam, yang terjadi di setiap balik pintu yang tertutup rapat hampir pada saat yang bersamaan. Serentak dalam hitungan waktu-waktu yang diakumulasikan.

Yang berbeda adalah dari luar hanyalah pagar yang melintang pada setiap rumah. Pagar seakan-akan menjadi batas pembeda dari satu ruang ke ruang lainnya. Pagar dipersiapkan dalam kepentingan imaji pemasangnya. Imaji tentang keterbukaan, persaudaraan, kepemilikan, kemampuan maupun keamanan. Pagar dihias dalam berbagai motif untuk menyampaikan pesan tentang seisi rumah kepada tetangga, orang yang melintas, pengemis yang mengantri maupun pengamen yang tengah berdendang menunggu sang pemilik rumah memberikan segelintir uang logam. Pesan tentang konsep diri kita agar bisa dipahami secara instan.

Pagar lantas menjadi urgent karena berada dilingkar paling luar dari rumah. Simpul paling krusial untuk membuat penegasan batas domestik dan privat agar menemukan penjelasannya lewat pagar yang dirangkai di depan rumah. Variasi bentuknya merupakan ekspresi perbedaan yang terdapat di dalam rumah. Entah itu akan berkaitan dengan praktek tentang relasi ketetanggaan, ide kapital yang telah terakumulasikan, sekaligus menjadi batas penegas otoritasisasi ruang. Pagar mentransisikan sebuah interaksi yang ada, dimana seseorang boleh atau tidak melanjutkannya menjadi pola hubungan lebih lanjut. Rangkaian rumah dengan pagar adalah tempat untuk memulai sekaligus untuk mengakhiri. Bermulanya semua perbincangan kita akan berakhir dengan batasan pagar lalu rumah maupun sebaliknya.

(Dok. Pribadi: Noel)

Rumah dan pagar, tak luput pula dari perubahan yang diperbincangkan oleh para teoritisi. Perubahan sebagai keniscayaan tentang sifat dasar manusia untuk berubah. Rekaman perubahan sejatinya terentang teramat panjang namun kenyataan hari ini adalah bagian yang terpisah dari catatan tentang kesadaran menusia tentang akal budi, kebebasan, demokrasi, kapitalisme hingga teknologi. Realitas paling akhir dan kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah tarik ulur atas kondisi tersebut.

Saat Kita Membentuk Rumah

Kesemuanya bertransformasi, mencari bentuk untuk mengakselerasi keberadaan maupun kebutuhan manusia yang telah teradministrasi baik secara politik, ekonomi dan budaya. Serta stimulasi proses mobilisasi manusia dalam jumlah yang banyak menuju titik-titik yang menyimpul semua kepentingan yang ada dalam bentuk urban. Terdistribusikannya semangat manusia modern menciptakan mekanisme pencarian kebutuhan hidup di luar sistem masa lalu dan menuntut ruang-ruang baru dari keberadaan zaman untuk menyediakan berbagai harapan tersebut. Modernitas seakan-akan diwakili fenomena terbentuknya kota dan masyarakat kota, sebab kehadirannya menjadi sebuah magnet atas gerak mobilisasi dengan beragam kebutuhan. Diranah ekonomi, kota menyediakan sarana pemenuhan kebutuhan hidup lewat beragam bentuk, diranah kota pula budaya menjadi bagian dari distribusi asset-aset manusia untuk pembentukkan identitas. Pada kota, kita pula menemukan konstruksi atas kehidupan yang menjanjikan tawaran-tawaran lebih baik dengan semua mekanisme pemenuhannya yang lebih efisien dan modern.

Kita membentuk rumah: Realitas yang dinamis juga mengakselerasi tumbuh kembangnya rumah-rumah kita. Progresivitas kota dan masyarakat kota menjadi potret tentang bagaimana rumah berubah lalu menjadi bagian tersendiri dari peradaban manusia. Rumah terbentuk dengan pola berduyun-duyun memadat di sisi jalan yang memanjang, berjejal-jejal dengan rumah yang dirombak secara paksa menjadi tempat-tempat pertukaran komoditi manusia modern. Pergerakan untuk perubahan tidak lagi dimonopoli oleh manusia semata karena ruang-rumahpun mengalami hal sama sebab pergeseran yang sesungguhnya adalah pergeseran peta mental manusia modern.

Epistem keterbangunan rumah dan pagarnya sebagai sejarah tak lagi ada karena esensi rumah kini hadir dalam bentuk-bentuk pilihan yang pragmatis. Pilihan yang akan menentukan standar kelas sosial, pilihan untuk menempatkan diri dalam klaster sosial yang baru maupun pilihan untuk membuat hidup semakin mudah. Kategorisasi dibuat sebagai landskap bagi tatanan ruang-rumah di tengah-tengah kota yang semakin melebar. Identitas baru disematkan sebagai susulan  atas bangunan fisik yang telah mendahuluinya. Sejarah tak lagi harus memuat masa lalu sebab masa kini sudah menjadi masa lalu. Pesan-pesan mulia yang dipajang ada disetiap teras rumah adalah narasi masa depan yang penuh dengan kegembiraan.

Rumah baru dan pagar baru adalah perayaan tentang kegembiraan. Kegembiraan atas kontrasepsi nalar-nalar modern yang terbirokrastisasi. Rumah menjadi sepi dan rapuh oleh minimnya aktivitas keseharian manusia. Tak ada lagi cerita yang diperdengarkan dari yang dulu ke kini, karena senyap telah merambat sejak jam di dinding menjadi penanda dan mempercepat derek-derak kehidupan. Keramaian rumah hanya dipenuhi oleh pertukaran-pertukaran waktu dan uang untuk menjadi tanda adanya kehidupan di rumah-rumah yang semakin membesar dan meningkat. Pada setiap bagian-bagian rumah hanyalah ruang tanpa makna karena tidak ada lagi aktivitas di dalamnya. Berbagai tanda kebanggan dipajang untuk dinikmati dalam kesendiriannya dan semuanya semakin tenggelam dan menebal, meninggi dan semakin menguatnya pagar-pagar rumah di kampung.

Sisi lain yang lebih menakutkan hadir lewat desakan arus komoditi yang tak terbendung, menggelontor seisi-seisi rumah kita lewat pesan maupun dalam panduan tentang semua kebaikan menjadi manusia modern. Sebaiknya kita minum apa, efek positif makanan tertentu, mengidentifikasi rambut dengan jenis shampoo yang sesuai, mengurai kandungan dalam sejumlah susu formula yang tepat untuk anak-anak kita, sekaligus menyesuaikannya dengan cita-citanya kelak. Semua ini nyata dan tersedia dalam sesaat lalu menjadi alasan kita untuk memilih dengan alasan yang kita susun kemudian. Formasi nilai barupun diciptakan untuk menentukan standar hasrat yang harus sesegera mungkin dipenuhi dan identitas kita dibentuk dari dalam rumah. Kebutuhan seisi rumah dan kehidupan kita, kini ditentukan oleh struktur yang hanya memberi ruang bagi insting kita untuk segera memenuhinya dan tidak lagi punya kemempuan menolak.

Rumah berubah menjadi penuh sesak dengan apa yang sudah dibeli, apa yang akan dikonsumsi dan catatan apa yang sudah dibeli apa yang akan dikonsumsi dan catatan tentang apa saja yang harus dikonsumsi esok harinya. Pada saat bersamaan, jejaring kode yang secara intens menjerat untuk menerima panduan yang tidak lagi bisa dihindari, karena telah bertransformasi menjadi suatu hal yang sifatnya primer. Kita tidak bisa lepas dari hamparan tawaran yang membentang  didengarkan oleh telinga hingga tampak pada setiap pandangan diarahkan. Sebuah kondisi yang ekstrim, yang tidak memungkinkan hadirnya pilihan-pilihan yang lain kecuali mengadopsinya sebagai nilai-komoditi untuk kemudian mengkonsumsinya. Karena konsumsi juga sebuah penanda baru bagi masyarakat modern.

Energi hidup kini mulai terserap dalam upaya-upaya pemenuhan hasrat semata. Rantai jejaring individu semakin rentan untuk putus karena bingkai-bingkai sosial retak oleh formasi pagar rumah yang terbaharui. Jarak yang dibentuk oleh kepentingan status tak terasa semakin melebar. Asing dan terasing menjadi pola relasi satu sama lain. Intensi dalam rumah yang tidak lagi bisa dipertahankan kini ikut memendar keluar pagar dan merangsek rumah-pagar yang lainnya. Tidak ada lagi tegur sapa, tak ada lagi sejenak untuk berbincang, tak ada lagi alokasi untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia sebab semuanya telah terjadwal, tertarget dan terukur. Skala waktu menjadi daya tolak ukur untuk melakoni hidup sehingga semua terasa terburu-buru, mendesak dan tidak cukup untuk menghela nafas, apalagi rehat.

Budaya Terteknologisasi

Nalar kehidupan masyarakat kampung dan kota seakan-akan mutlak rasional. Budaya terteknologisasi  tidak memberi ruang bagi emosi dan kesadaran tentang makna. Irasionalitas hadir dalam bentuk lain dan terasa seperti masuk akal karena menjadi komoditi baru dengan jargon-jargon yang diedukasikan secara massif. Tuntutan agar semuanya rasional otomatis mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain dan kondisi ini menjadi teror yang terus menerus diingatkan oleh kepentingan pemerintah secara akumulatif dan kompetisi yang seakan-akan tiada akhirnya.

Konflik mengalami signifikasinya. Tarikan domestik ke publik dan sebaliknya menjadi pelengkap bagi kebingungan-kebinguan tentang arah peradaban. Mekanisme yang memacu semangat untuk berkompetisi lalu meniadakan kehadiran yang lain merupakan sebuah kondisi yang mengingatkan kita tentang teks-teks klasikabsennya hukum dan absolutnya kekuasaan. Persoalan sederhananya lalu memicu gelombang konflik yang besar, bahkan terlalu besar pada beberapa rekaman yang bisa kita lihat di media-media. Pesan-pesan horror tidak lagi dimonopoli pelaku kejahatan, namun telah meluas menjadi bentuk-bentuk kebanggan baru dalam masyarakat yang senantiasa terawasi oleh teknologi media yang merekamnya tiada henti.

Pembiaran ada dimana-mana. Praktek kekerasan menjadi cara paling mudah untuk berkonflik dan upaya untuk menyelesaikan konflikpun tidak tersedia opsi yang memadai sehingga imaji yang terserap dalam lamunan-lamunan di depan kotak televisi menjadi sebuah pilihan. Pagar di kampung-kampung yang kini mulai merapat sebagai sekat-sekat domestik hanya menyisakan ruang-ruang konflik yang penuh semangat untuk duel dan tak memberi kesempatan orang lain menengahi. Aparat tidak lagi berfungsi sebagaimana semestinya dan penuh olok-olok kelemahan. Tidak ada lagi keteladanan yang mesti dijadikan rujukan sebab teror didistribusikan oleh figure-figut yang seharusnya melakukan kendali atas realitas.

Eksistensi rumah semakin rapuh. Tidak sama dengan menebalnya fisik rumah-pagar, mentalitas yang terbangun luluh oleh kenyataan-kenyataan yang senantiasa pilu. Kepiluan lalu menjadi maenstrim untuk dikomoditikan. Kisah-kisah domestik tersebar karena dirasa penting. Kejadian yang nunjauh dan tiada urgensinya tiba-tiba dihadirkan agar setiap kita sadar lalu terlibat. Alam sadar kita diasupi dengan ragam info yang tiada guna kecuali kita menganggapnya layak untuk dipahami. Anehnya adalah kenyataan tersebut dianggap krusial buktinya adalah membanjirnya semua realitas semu dalam rumah-rumah kita. Dimulai dari terbuka kelopak mata maka sajian-sajian untuk diserap sudah tersedia dan tidak akan habis sampai kita memulai menutup mata maka sajian-sajian untuk diserap sudah tersedia dan tak akan habis sampai kita memulai menutup mata karena lelah. Kondisi yang senantiasa berulang dalam hitungan waktu.

Tidak ada lagi kesempatan untuk merenung sebab berdiam diri adalah kesalahan. Kerja, kerja, dan kerja yang melintas dalam otak-otak kita. Kondisi yang bisa dimaklumi mengingat sangat sistematisnya pendidikan merancang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari kegagalan.  Ketidakmampuan lalu jarang kita temui sebab setiap kita merasa mampu. Berpengetahuan harus senantiasa liner dengan kompensasinya karena hidup adalah memperbincangkan hasil lalu menumpuk-numpuk kapital sebagai tujuan akhir. Bagi penulis, itulah yang ditanamkan di kelas-kelas, yang diingatkan ketika keluar rumah dan yang diburu ketika berada dalam jejaring sosial yang ada. Tidak ada lagi makna pelayanan layaknya anak kepada orang tua, seperti relasi suami-istri maupun alam pada kehidupan.

Rumah kita adalah bagian dari yang lain. Rumah menjadi persinggahan diantara kompleksitas kehidupan manusia modern. Rumah harus menjadi konteks bagi kehidupan sosial yang kita miliki. Kehidupan dengan keseharian yang sederhana. Bertegur sapa, menyapu sampah, membagi makanan, berbagi kabar, mengantar oleh-oleh, mendengar bentakan, berbagi suara televisi, hingga berkumpul dalam rangkaian ritual arisan, tahlilan maupun jagongan ala kadarnya. Begitulah rumah menjadi penanda bagi kita dalam konteks ruang. Kampung lalu menegaskan kedirian kita dalam relasi sejarah, kekerabatan, kebiasaan maupun relasi tali temali identitas.

Kampung kita hari ini telah ada, sebelum kita. Menjadi wajar setiap rumah adalah sejarah, setiap kita bagian dari sejarah  yang sedang berjalan, dan membentuk narasi tentang kampung. Setiap kampung lalu hadir menegaskan kediriannya dalam relasi yang lebih luas, berjejaring dengan kampung yang lain. Semuanya membentuk simpul-simpul kebiasaan dalam pola untuk memenuhi setiap jengkal kebutuhan hidup. Rumah di kampung harusnya menjadi jeda bagi detak kehidupan yang terasa sesak. Jeda untuk bisa menikmati tegur sapa, menyapu sampah, membagi makanan, berbagi kabar, dan mengantar oleh-oleh, mendengar bentakan, berbagi suara televisi hingga berkumpul dalam rangkaian ritual arisan, tahlilan maupun jagongan ala kadarnya.

Rumah, kampung dan kota kini berjejal. Berdesakan untuk meletakkan setiap kita menjadi pelaku yang tidak sadar dalam skenario kota. Rumah, kampung dan kota kini melebur oleh perubahan. Perubahan yang berbasis pada nalar ekonomi dan teknologi. Rumah di kampung tidak lagi terasa longgar, kampung di kota tidak terasa lagi ramah, dan kota-kota kita hari penuh dengan tumpukan rasa cemas. Semuanya menjadi terburu-buru oleh jadwal aktifitas didalam rumah, keengganan untuk menjenguk tetangga dan terasing dalam kota. Rumah di kampung kota kemudian hadir dalam deretan angka, tidak lebih tidak kurang dan teradministrasikan oleh birokrasi modern.

Kini, makna hidup layaknya Pandora dengan ujung kebingungan. Pilihan-pilihan tentang kemuliaan adalah minor. Sebab kesadaran tidak lagi berbenih sehingga meminimalisir kesempatan untuk berbuat kebaikan. Kenyataan yang ada di sekitar kita senantiasa berubah namun jaminan tentang kebaikan-kebaikan sebagai sebab akibat dirilisnya akal budi seperti hambar. Namun, jikalau diajukan pertanyaan : “Masih tersisakah ruang-ruang untuk merangkai keyakinan tentang  hidup dan kehidupan yang lebih baik? Bagi  saya, semoga masih..”.

Redaktur : Nunuk Parwati Songki

 

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *