Jangan Rebut Senjaku

Jangan Rebut Senjaku

Oleh : Nurul Waqiah Mustaming

Terdengar suara motor yang tetiba berhenti di depan kosanku. Dengan rasa penasaran aku mulai mengintip melalui jendela kamar, betapa kuterkejut. Adalah ia Raihan lelaki yang kini berusaha mendekati dan meluluhkan hati ini. Debar jantung yang kian memburu, berhasil aku kuasai setiap denyut. Lalu segeralah aku keluar menemuinya.

“Kenapa kak?” Tanyaku sembari mendekati motor biru yang dikendarai.

“Ayo jalan daripada bosan tinggal indekos. Aku akan menunjukkan kepadamu sisi terindah dari sudut kota ini!” Balas kak Raihan, sembari melempar senyum ke arahku.

Setelah mengiyakan ajakannya, aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Baju coklat, celana hitam, serta jilbab dengan motif bunga-bunga nampaknya akan menjadi saksi perjalananku hari ini bersama kak Raihan.

Selang 5 menit, aku telah selesai dan kembali menemuinya. “Ayo naik!” pintah Raihan padaku. Aku hanya tersenyum, kemudian naik ke motornya, yang kala itu ia mengendarai motor berwarna biru.

Sepanjang jalan berbagai pertanyaan menghampiri. “Akan ke mana arah tujuan kami?” Namun aku memilih untuk membungkamnya dan mengurungkan niatku bertanya kepada kak Raihan, laki-laki yang sesekali melemparkan senyuman kepadaku lewat kaca spion motornya.

Tak berselang lama, Raihan singgah di sebuah pertokoan tuk membeli beberapa cemilan dan satu bungkus rokok. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan. Langit kota Makassar sangat bersahabat sore itu menjelang sang senja menyinari bumi pertiwi.

Aku bisa merasakan kebisingan kota, yang sangat jauh berbeda dengan keadaan di kampung. Kami pun telah sampai. Tempat yang baru pertama kali aku kunjungi selama tinggal di Makassar.

Waktu itu, aku masih berstatus sebagai mahasiswa baru (Maba) di Universitas Muslim Indonesia (UMI), sedangkan kak Raihan merupakan salah satu pengurus di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yakni UKM yang konsentrasi belajarnya adalah berkaitan dengan dunia jurnalistik atau biasa disebut Pers Mahasiswa.

“Ayo ke sini,” ajak Raihan sambil memegangi tangan kiriku dengan sangat erat. Aku melewati bebatuan besar yang tak tersusun dengan rapi, tapi sangat indah dipandang.

Aku pun tidak tau nama tempat itu, yang aku lihat hamparan air laut dengan ombak saling berkejaran. Angin yang berhembus membuatku sesekali kesulitan merapikan jilbabku. Kami duduk, Raihan mulai mengeluarkan beberapa cemilan dari tasnya dan membakar sebatang rokok yang terselip di jemari tangan kanannya.

Tetiba ia berdiri di hadapanku, jari telunjuk mengarah ke sebuah proyek pembangunan megah di kota Makassar. Center Point of Indonesia (CPI), proyek itu menurut Raihan sangat merugikan masyarakat di wilayah pesisir. Terjadi abrasi pantai dan hilangnya mata pencaharian masyarakat pesisir dirasakan akibat dari pengerukan pasir di tengah hamparan laut biru.
“Proyek pembangunan itu bukan untuk kepentingan masyarakat kecil, tetapi untuk masyarakat elit,” kata Raihan sembari menikmati sebatang rokoknya yang sedari tadi belum habis.

Kedua bola mata ini menatap telunjuknya dengan lekat. Lalu aku merasa penasaran dengan perkataan yang dilontarkan itu. Aku pun mengajaknya duduk di sisi kiriku. “Kak duduk di sini!” Pintaku kepada Raihan. Ia pun membeberkan pengalaman bersama kawan-kawannya.

“Terhitung sejak tahun 2014, penolakan terhadap reklamasi ini telah dimulai. Kami menilai proyek reklamasi Makassar adalah proyek haram yang memicu lahirnya polemik sosial. Sekitar 43 kepala keluarga (KK) nelayan yang tinggal di daerah tersebut, digusur secara paksa oleh pemegang proyek CPI,” lanjutnya menjelaskan.

“Kalau seperti itu, ada pelanggaran HAM dalam proyek itu yah kak?” Tanyaku kepadanya dengan rasa penasaran.

“Yah, betul sekali!” Timpalnya, sembari membersihkan ujung bibirku yang kotor karena makanan.

Ia juga menambahkan bahwa selain merusak lingkungan, terjadi pula pelanggaran hak asasi manusia dan Raihan bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam Aliansi Selamatkan Pesisir menuntut pemulihan hak bagi korban yang terdampak, juga menginginkan agar proyek reklamasi ini dihentikan, dan mendesak pemerintah untuk membatalkan semua permohonan surat izin lingkungan tambang di perairan. “Pesisir Makassar perlu dipulihkan,” harapnya.

Saat Raihan yang tak henti-hentinya memandangi proyek tersebut. Di sisi lain mataku dibuat terpanah dengan pemandangan. Aku menyaksikan hamparan sinar jingga kemerahan yang berada di batas garis terbarat cakrawala seakan tak ingin pergi tanpa meninggalkan kesan.
“Di sini memang menjadi salah satu tempat untuk menikmati keindahan Tuhan yang satu ini, tapi kamu tidak akan menikmati senja ini lagi ketika proyek reklamasi ini semakin diteruskan. Gedung-gedung tinggi akan menutupi eloknya sang mentari terbenam, ” kata Raihan seraya kedua bola matanya lekat dengan bola mataku.

Aku dan kak Raihan saling menatap. Seakan aku tak ingin siapapun merebut senja di hadapanku.

“Tentu saja ini juga untuk mahluk Tuhan yang ingin menikmati eloknya sang matahari tatkala berpisah dengan terang dalam dirinya. Seperti halnya dirimu, aku juga tak ingin tempat ini menjadi ladang keuntungan bagi masyarakat elit dan menyisakan kerugian bagi kami masyarakat kecil. Dan terlebih, aku tak ingin seorang pun merebut kamu dariku!” tegas Raihan kepadaku, sembari membawaku dalam dekapannya. Disaksikan oleh senja yang perlahan ditelan oleh sang dewi malam.

==========

Ilustrasi : @extra.exspose

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *