Jeritan Lantang Sang Penguasa Jalan

Jeritan Lantang Sang Penguasa Jalan

Penulis: Alicya Qadriyyah Ramadhani Yaras

Hari ini Rabu 07 September 2022. Di tengah-tengah massa aksi ada seorang bocah pemberani, dia tak sedikitpun ragu untuk berteriak lantang memaki ketidakadilan, “Turunkan Harga BBM.” dengan kaki menjinjit, dia memekik keras seperti tak ada lagi tenaga yang tersisa. Entah bagaimana ia bisa mengetahui kalimat itu, yang ku tahu tak sedikitpun ada ketakutan untuk membersamai massa aksi dalam perjuangan mereka beberapa hari Ini.

Entah dari mana asalnya, sore tadi sejak massa aksi berkumpul di depan Fakultas Agama Islam Universitas Muslim Indonesia (FAI UMI) bocah itu berjalan kesusahan sembari membawa sebuah petaka besar yang bertuliskan “ALIANSI MAHASISWA UMI LAWAN PENINDASAN, TOLAK KENAIKAN BBM” dari mana asalnya petaka itu? Siapa yang memberinya? Tak tahu siapa, intinya dia tahu betul dimana petaka itu harus dibentangkan. Lalu saat massa mulai bergerak, iapun tak kalah lincah dari kelinci, menarik bambu yang panjangnya jauh melebihi tinggi tubuhnya.

Ada jiwa yang haus akan keadilan dalam tubuh mungilnya, ia tak ragu memanggil kawan sebayanya untuk ikut bergabung dan membantunya mengangkat bambu panjang itu. Anak-anak yang lain menggulingkan ban yang siap dibakar oleh massa aksi, tampaknya ia selaku jenderal lapangan, seumpama pemimpin kawanan dalam aliansi bocah-bocah cilik yang tak gentar menyuarakan keadilan.

Teriknya matahari dan ramainya gerombolan massa aksi dari Mahasiswa UMI Dan Universitas Bosowa, tak membuat mereka ragu untuk berjalan di barisan paling depan. Seakan memimpin massa aksi untuk menuju ke tujuan utamanya mereka, yakni katanya sebagai wadah penampung aspirasi rakyat, Kantor DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) Kota Makassar.

Tepat di depan Kantor DPR Kota Makassar Ban yang dibakar menimbulkan kepulan asap hitam, lalu di tengah asap itu para massa aksi bergantian menengadah dan berteriak menyuarakan keresahannya. Anak itu menyimaknya, mendengar dengan seksama, entah apa yang ada dalam kepalanya, kata kata asing yang dikeluarkan oleh para terpelajar membuatnya tampak berpikir, mungkin saja itu adalah kali pertama dia mendengarnya. Namun begitu, saat massa aksi meneriakkan “Sumpah Mahasiswa” dia juga ikut mengepalkan tangan dan turut terhanyut dalam bait bait penuh makna itu.

Ada resah yang tertanam dalam dirinya, mungkin saja itu titipan orang tuanya atau itu adalah buah kesadarannya setelah tumbuh dan melihat kehidupan disekitarnya terdampak oleh harga BBM yang tiap tahun selalu mengalami kenaikan. Ia mungkin belum paham betul bagaimana demonstrasi massa ini bekerja atau bagaimana hak itu diperjuangkan. Intinya dia turut menyanyikan “buruh tani” bersama massa aksi saat berjalan kembali ke depan Kampus Universitas Muslim Indonesia.

Bambu panjang yang dibawanya sedari tadi, digunakan untuk memblokade jalan Urip Sumoharjo. Ia yang tampak kelelahan terduduk disudut trotoar, melihat massa aksi berhamburan.

Disaat anak lain bermain tanpa tujuan, anak ini sudah tahu dimana seharusnya dia berada. mungkin turut menjadi massa aksi baginya sama seperti bermain, namun dia tentu saja belajar melihat dunia nyata dengan tidak naif.

Sembari duduk, ia melihat satu persatu petaka yang dibentangkan. Berisi kata muak pada pemerintah. Seperti, Rezim yang jahat, naikkan upah, Jokowi Ma’ruf gagal.

Redaktur: Sahrul Fahmi

redaksi

One thought on “Jeritan Lantang Sang Penguasa Jalan

  1. A lot of of what you assert happens to be supprisingly precise and that makes me ponder the reason why I had not looked at this in this light before. This particular article truly did switch the light on for me as far as this subject goes. But at this time there is actually just one position I am not necessarily too comfortable with so whilst I make an effort to reconcile that with the central theme of the position, permit me observe just what all the rest of your subscribers have to say.Very well done.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.