Kronologi Kekerasan Aparat Di Kampus UNM

IMG_20141114_072824[1]
sumber : ist

Makassar, cakrawalaide.com — Aparat kian berulah, rangkaian kejahatan alat negara terhadap sipil terus terjadi, tak hanya campur tangan aparat dalam konflik agraria diberbagai daerah dan posisi aparat yang selalu berada di belakang modal di beberapa kasus. Namun, kekerasan yang dimotori oleh aparat juga masuk dalam lingkungan institusi pendidikan yang terhormat. Kamis, (13/11) ratusan polisi memasuki Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Gunung Sari, mengejar mahasiswa, memaki, memukul dan melakukan rangkaian pengrusakan terhadap fasilitas kampus. Tindakan represif aparat ini merupakan respon terhadap aksi protes mahasiswa yang menolak rencana pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak.

Berikut kronologi yang kami dapatkan dari peserta aksi yang kami temui :

Awalnya kasus bermula dari aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak, siang hari kamis (13/11), Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (BEM UNM) yang tergabung dalam aliansi Front Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan (FPR Sulsel) berkumpul di Gedung Phinisi UNM sebelum bergeser dititik aksi, Kantor DPRD Sulsel dimana beberapa organisasi yang tergabung telah melakukan aksi lebih dulu. BEM UNM memilih titik kumpul berbeda dengan massa aksi FPR lainnya, massa BEM UNM memilih titik kumpul di Gedung Phinisi UNM sedangkan massa FPR yang lain sesuai dengan kesepakatan rapat sebelumnya memilih titik kumpul di Kolong Fly Over.

Menurutnya, aksi FPR Sulsel di Kantor DPRD Sulsel mempunyai targetan untuk mendorong DPRD Sulsel menandatangani petisi penolakan kenaikan harga BBM yang akan dikirim ke DPR RI di Jakarta.

Aksi FPR telah berjalan beberapa jam di Kantor DPRD Sulsel. BEM UNM baru tiba ketika targetan agar dewan menandatangani petisi telah tercapai dan dipastikan bahwa petisi telah dikirim ke DPR RI di Jakarta via fax.

BEM UNM yang beru tiba di titik aksi kemudian dijadikan prioritas untuk berorasi dan menghadirkan beberapa teatrikal yang ditunjukan. Karena targetan telah tercapai, tuntutan kepada dewan telah terpenuhi dan massa aksi menggagap tak perlu berlama-lama di lokasi aksi. Massa menganggap sudah hampir waktunya untuk membubarkan diri. Tapi sebelum massa aksi bubar, pihak BEM UNM meminta izin ke front untuk pergi lebih dulu dengan alasan BEM UNM mempunyai agenda aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak di depan Gedung Phinisi kampus UNM Gunung Sari.

BEM UNM kemudian menuju ke Gedung Phinisi kampus UNM Gunung Sari, dengan ratusan massa aksi yang mengendarai sepeda motor. Menuju ke titik aksi, massa melihat ada beberapa Watercanon, Barakuda, dan Mobil angkutan polisi parkir di depan Kantor DPRD Kota Makassar, Jalan AP. Pettarani. Mungkin saja dengan alasan keamanan.

Dalam perjalanan itulah salah seorang peserta aksi tak sengaja menendang pembatas jalan. Melihat hal tersebut Muhammad Taslim (mahasiswa UNM / Menteri Sosial dan Politik BEM Fakultas Ilmu Pendidikan UNM) mengembalikan pembatas jalan ke tempatnya semula. Polisi yang melihat kemudian menarik Taslim dan memukul dan menendangnya, provos yang ada dilokasi kemudian menahan perilaku polisi yang mengeroyok Taslim. Taslim yang ditangkap kemudian bernegosiasi dengan aparat, ia mengatakan “ketika bapak (polisi) menahan saya, maka teman-teman saya akan datang untuk menyelamatkan saya. Dan pastinya akan terjadi bentrok”. Dengan alasan itu, Taslim pun dibebaskan.

IMG_20141113_184320[1]
Mahasiswa yang menjadi korban kekerasan polisi/ sumber : ist

Sejak di tangkapnya Taslim, massa lebih banyak di depan Gedung Phinisi sedangkan ada sebagian kecil massa yang ada di depan KFC Pettarani. Massa aksi yang menganggap Taslim dan beberapa yang lainnya di tangkap, melempar batu ke arah kerumunan polisi.

Lempar batu mahasiswa kemudian berhenti setelah beberapa menit, Pembantu Rektor III UNM, Prof. Heri Tahir datang menemui pihak kepolisian, beliau jalan kaki dari Gedung Phinisi ke Kantor DPRD Kota Makassar untuk melakukan negosiasi. Hasilnya Taslim dilepaskan polisi

Taslim kemudian kembali ke barisan massa aksi, setelah beberapa langkah, lemparan batu muncul dari barisan mahasiswa kea rah polisi. Bentrok pun terjadi polisi kemudian melepaskan gas air mata kearah mahasiswa, namun tidak berlangsung lama, karena mahasiswa menghentikan lemparan batu setelah mengetahui dalam bentrokan tersebut BEM UNM Zulfikri di tangkap aparat.

PR III UNM dan massa aksi mundur ke Gedung Phinisi untuk mendiskusikan langkah selanjutnya, akhirnya keputusan diambil yaitu massa tetap melakukan aksi sedangkan PR III terus mengontak via Handphone pihak kepolisian guna mengajak bernegosiasi, dari hasil negosiasi tersebut polisi bersedia membebaskan Zulfikri. Tapi sebelum Zulfikri dibebaskan, polisi meminta mahasiswa untuk mundur dari jalan raya, agar arus lalu lintas lancar dan meminta PR III UNM untuk segera ke Gedung DPRD Kota Makassar untuk menjemput Zulfikri.

Setelah Zulfikri bebas, massa aksi kembali melakukan konsolidasi dan BEM UNM mengambil keputusan untuk melanjutkan aksi. Massa aksi kemudian berkumpul di Jalan Pendidikan, awalnya aksi berjalan damai, tapi karena massa aksi yang kurang terkoordinasi dengan baik, aksi yang bermula damai kemudian ricuh setelah adanya lemparan batu keaarah polisi. Kerumunan polisi telah berada di Jalan masuk SMK Telkom. Satuan polisi kemudian maju kearah mahasiswa dan siap melakukan penyerangan,

Namun aksi yang dilakukan kemudian ditanggapi dengan tindakan represif oleh polisi, gas air mata dilepaskan dan kepolisian mengejar mahasiswa hingga kedalam kampus. Motor-motor yang diparkir di Pelataran Fakultas Ilmu Sosial ditendang dan dihancurkan, kaca mobil yang diparkiran juga pecah, kaca-kaca ruang kelas dipecahkan oleh aparat. Tak hanya itu, aparat juga memukul, mencaci maki, dan membubarkan paksa mahasiswa dan dosen yang lagi mengajar dikelas. Polisi juga menangkap 46 mahasiswa, dosen, pelajar, warga sipil dan melakukan pemukulan terhadap jurnalis juga pengrusakan terhadap alat-alat jurnalis.

Penulis : Ayie
Red : Walla

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.