Refleksi Tiga Puluh Tahun AMARAH: Parade, Diskusi, hingga Panggung Bebas Ekspresi sebagai Bentuk Perlawanan Impunitas Aparat

0

Tiga orang sebagai aktor dalam parade ini sebagai bentuk refleksi sebuah kejadian AMARAH yang merenggut tiga nyawa Mahasiswa UMI .

Makassar, CakrawalaIDE.com Heningnya kampus II Universitas Muslim Indonesia (UMI) tidak menjadi penghalang untuk tetap kembali memperingati tiga puluh tahun tragedi kelam  April Makassar Berdarah (AMARAH). Puluhan mahasiswa turut serta dalam rangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk perlawanan, mulai dari parade di jalan-jalan kampus, diskusi publik, dan panggung bebas ekspresi. Taman Firdaus, Kamis, 23 April 2026.

Jerry menjelaskan tiga orang sebagai aktor dalam parade ini sebagai bentuk refleksi sebuah kejadian AMARAH yang merenggut tiga nyawa Mahasiswa UMI sebagai korban kekejaman aparatur negara terhadap warga sipil.

“Nah kita seeffort itu untuk menampilkan bahwa memang ada betul-betul korban yang terjadi pada saat peristiwa itu,” jelas Jerry.

Menurutnya kampus yang dibuat belajar secara daring merupakan pola yang berulang sama seperti tahun 2024 lalu. Meski dalam surat edaran tidak bertuliskan mengenai kegiatan peringatan AMARAH yang akan dilakukan, hal ini sangat tidak masuk akal jika dikaitkan dengan efisiensi untuk BBM walau di beberapa daerah memang terjadi.

“Cuma, kenapa nanti di 23-24” lanjutnya.

Dokumentasi: Parade di Lingkungan Kampus II UMI.

Peringatan AMARAH ini bukan hanya sekadar parade, tapi juga di rangkaikan dengan beberapa kegiatan, seperti diskusi mengenai impunitas aparat yang terus terjadi, penampilan musik, hingga puisi yang berisi kritikan serta kekecewaan terhadap perbuatan aparatur negara.

Tomi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar mengungkapkan bahwa peristiwa tahun 1996 terkait dengan perlawanan atas kebijakan pemerintah yang merenggut tiga nyawa adalah sebagai titik awal dalam menggulingkan Orde Baru (ORBA). Namun, adapun kaitannya dengan impunitas aparat di mana hukum terhadap pelaku tidak pernah benar-benar diadili.

“Kalau kita lihat berbagai proses penegakan hukum terhadap pelanggaran  HAM biasa maupun pelanggaran HAM berat, terutama pelanggaran HAM berat itu paling susah ditangkap pelakunya, di proses pelakunya. Karena kenapa? Disitu ada elit yang bermain,” ungkap Tomi.

Sultan menuturkan kesannya menyoal  rangakaian kegiatan AMARAH ini, bahwa kita bukan hanya menyuarakan hak korban yang belum mendapatkan keadilan, tetapi juga menjadi luka mendalam bagi mahasiswa UMI dikarenakan para pelaku masih berkeliaran bebas hingga masuk ke dalam ranah pendidikan.

“Momentum AMARAH adalah luka mahasiswa UMI,’’ tuturnya.

Sofyan memiliki harapan terhadap refleksi kejadian tersebut, di mana ini bukan hanya sekadar peringatan.  Namun, bisa menjadi motivasi untuk mahasiswa UMI. Sehingga tragedi AMARAH menjadi kegiatan rutin tiap tahun untuk mengingat kembali yang hampir terlupakan.

“Pertama kita adakan pawai AMARAH, keliling kampus, sampai ke tugu kita berdoa sejenak, dan tahap selanjutnya kita membersihkan tugu,” tutupnya.

Penulis: Sultan Adibrata Naimullah

Redaktur: Nur Syafika Utami

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *