Aktualisasi Nasionalisme Dalam Bingkai Kebudayaan

Dialog akbar yang diselenggarakan oleh PMII bersama Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS) / Foto : Yudha
Dialog akbar yang diselenggarakan oleh PMII bersama Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS) / Foto : Yudha
Makassar – Cakrawalaide.com – Peran kebudayaan dalam mewujudkan spirit nasionalisme menjadi permasalahan yang masih menjadi tanda tanya dalam berbangsa dan bernegara.
Dalam Dialog akbar yang diselenggarakan oleh PMII bersama Persatuan Mahasiswa Tau Sianakkang (PMTS), selasa (20/05) di Pelataran Masjid Umar Bin Khattab UMI, memicu berbagai argumentasi mengenai degradasinya kebudayaan bangsa menjadi akar masalah dalam berbangsa dan bernegara.
Dialog yang bertema “Aktualisasi Nilai-Nilai Kebudayaan dalam Membangun Jiwa Nasionalisme” itu dihadiri oleh beberapa organisasi mahasiswa, baik di internal maupun eksternal kampus UMI.
Dalam pemaparannya, Pengurus GP Anshor, Rahmat Hasanuddin menitik-beratkan bahwa kemajuan suatu bangsa itu tergantung sejauh mana tingkat kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai kearifan lokal. “Pengaruh kebudayaan luar dalam mencekoki kebudayaan bangsa kita seharusnya disikapi secara kritis. Seperti, hegemoni barat dan gerakan islam transnasional yang membuat kita jauh dari pijakan kebudayaan bangsa kita.

Padahal, sebelum bangsa ini ada, lebih dahulu adanya kebudayaan” paparnya. Mengenai gerakan islam transnasional, dia menambahkan keislaman bangsa Indonesia harus sesuai dengan nilai-nilai budaya yang lahir dari leluhur bangsa. “Gapura yang katanya merupakan tradisi yang jauh dari nilai keislaman, nyatanya itu keliru. Gapura sendiri berasal dari bahasa arab, yaitu Ghafur yang bermakna pengampunan.Ada sebenarnya kebudayaan kita yang memiliki hubungan dengan keislaman yang tentunya sesuai dengan epistemologi Rasulullah, bukan arab”. tambahnya

Menurut Ghafur, salah satu narasumber dari LMND, bahwa konsep berbangsa dsecara berbudaya telah dikembangkan oleh Presiden pertama, Soekarno dalam ksalah satu konsep Trisakti, berkepribadian secara budaya. “Nasionalisme hadir bukan untuk menghilangkan budaya, tetapi nasionalisme hadir untuk mempersatukan budaya” paparnya. Terkait dengan adanya berbagai macam fakta yang menggambarkan semangat nasionalisme yang cenderung tak berprinsip kebudayaan, menurutnya, hal itu dikarenakan posisi kebudayaan yang telah terpengaruhi dengan kekuatan politik. “Nasionalisme harus berlandaskan kebudayaan dan perlu diperkuat dalam praktik bernegara agar nasionalisme tidak hanya sekedar berorientasi politis” tambahnya.
Penulis : Yusran
Red : Ukhay

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *