ATPB : Serukan Golput di Pemilu 2019

ATPB : Serukan Golput di Pemilu 2019

Makassar, Cakrawalaide.com – “Pemilu 2019, Golput! Bangun Politik Alternatif! Lawan Militerisme!,” sorak-sorai puluhan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Tolak Partai Borjuasi (ATPB) terdiri dari beberapa organ yakni PEMBEBASAN Kolektif Kota Makassar, PEMBEBASAN Kolektif Kota Bone, KNPB (Komite Nasional Papua Barat), FORMMATT (Forum Mahasiswa Maluku Tengggara Tual) Makassar, AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) Komite Kota Makassar, KNPB (Komite Nasional Papua Barat), CGMT (Central Gerakan Mahasiswa Tual), KOMUNAL (Komunal Marginal), AMPTPI (Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia).

Aksi demonstrasi ini menyerukan agar rakyat tidak memilih  calon-calon legislatif yang korup, partai penipu rakyat yang satu barisan dengan para pelanggar HAM, memecah belah rakyat dengan sentimen agama, menggunakan rasisme, dikendalikan oleh militer serta kepentingan kapital, dan membangun kekuatan politik alternatif. Berlangsung secara damai, sejak pukul 13.30 hingga 14.58 Wita, di Fly Over, Minggu (17/02/2019).

Pemilu 2019 yang kian dekat menurut ATPB sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, tak ada yang memiliki program yang mampu memenuhi tuntutan rakyat atas persoalan demokrasi dan kesejahteraan, kedua kandidat presiden dinilai miskin rekam jejak dalam membela kepentingan rakyat, oleh sebab itu memilih untuk tidak memilih atau golput menjadi sikap politik karena diyakini paling masuk akal.

“Kami tidak akan menggunakan hak pilih pada Pemilu 2019 ini, kami akan golput!” ujar Marco Pahabol selaku jendral lapangan.

Lanjut Marco,”Prabowo adalah pelaku pelanggaran HAM, salah satunya penculikan aktivis 1997-1998. Kemudian Jokowi pun begitu, selama 4,5 tahun masa jabatnya yang memberi janji akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM tapi kenyataannya tidak terbukti, bahkan semakin banyak kasus penggusuran, kriminalisasi aktivis dan perampasan buku” tegasnya.

Salah satu peserta aksi dalam orasi politiknya berpesan pada rakyat agar pintar menganalisis sandiwara politik dewasa ini.

“Pesta demokrasi ala borjuasi kali ini bukanlah pesta demokrasi yang sesungguhnya untuk rakyat, namun hanyalah sandiwara politik!” Ujar Parle’

Dirinya juga menambahkan “Rakyat harus sadar, mengenai persoalan rakyat hanyalah bisa terselesaikan jika rakyat sendiri yang bergerak, membangun kekuatan politik alternatif untuk menciptakan solusi bagi permasalahan-permasalahan rakyat saat ini” tambahnya.

Diketahui sejak pemilu tahun 1999 presentasi rakyat yang ikut memilih terus menunurun. Partisipasi rakyat di tahun 1999 mencapai 92,6%, di Pileg 2004 turun menjadi 84,1%, kemudian Pilpres putaran pertama, turun 78,2% lalu pada Pilpres putaran kedua turun lagi menjadi 76,6%, pada pilpres 2009 turun hingga 71,7% , dan mencapai 70,9% di Pilpres 2014. Penurunan-penurunan tersebut meskipun sebagian merupakan andil dari kelalaian administratif penyelenggara namun hal itu merupakan sinyal bahwasanya semakin banyak rakyat yang tidak berpartisipasi dalam Pemilu atau memilih golput.

 

Penulis : Cung

Red        : Jr

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *