Feminisme dan Per(t)empu(r)an Melawan Budaya Patriarki

Ilustrasi Feminimisme Dan Perempuan Melawan Patriarki.
Ilustrasi Feminimisme Dan Perempuan Melawan Patriarki.

Makassar, cakrawalaide.com – Berbicara tentang feminisme, bukan lagi berbicara tentang produk baru yang masih tersegel dan menunggu untuk diperkenalkan ke masyarakat. Tapi fakta bahwa produk lama ini masih menuai reaksi alergi yang cukup hebat dari berbagai kalangan, juga tidak bisa diabaikan. Entah kenapa, sampai hari ini sebutan feminis menjadi momok menyeramkan bagi masyarakat. Meskipun di saat yang sama mereka juga dengan gamblang menyatakan penolakan atas segala bentuk pengekangan terhadap perempuan.

Zaman dimana perempuan hanya boleh diam di rumah dan tidak berhak menyatakan pendapatnya sudah lama berlalu. Meskipun ternyata diberikan tempat di ruang publik tidak begitu saja menghapuskan penindasan terhadap perempuan. Di luar sana banyak kaum perempuan yang sepakat menyatakan ketertindasannya dalam berbagai hal. Masing-masing bahkan bisa menguraikan secara rinci berbagai bentuk penindasan tersebut, baik yang dialami sendiri maupun yang disaksikan. Tidak sedikit dari perempuan-perempuan ini yang bahkan mengakhiri ceritanya dengan kecaman. Akan tetapi, mayoritas dari mereka dengan tegas menyatakan, “Tapi saya bukan feminis!”

Pertanyaannya kemudian, apa yang menyebabkan daya tolak terhadap satu kata ini sebegitu kuatnya? Padahal kalau diperhatikan, perempuan hari ini sudah jauh lebih vokal dan berkiprah dibandingkan dekade-dekade sebelumnya. Ada apa dengan konsep feminisme?

Dilihat dari kecenderungannya, ada dua poin utama yang menjadi pemicu alergi feminisme. Pertama, terkait pemahaman. Dalam hal ini, pemahaman yang kurang menjadikan mereka sebagai korban atas tuduhan yang mendiskreditkan feminisme sebagai gerakan perempuan yang anti laki-laki, tidak bermoral, penghancur keluarga, dan berbagai stereotipe negatif lainnya. Belum lagi tudingan sebagai kelompok dengan garis perjuangan kebarat-baratan yang semakin menguatkan fobia kebanyakan masyarakat kita yang sangat berpegang erat pada tradisi ke’timur’annya.

Kedua, terkait struktur yang sudah mengakar dalam masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, bahwa mempertanyakan status kaum perempuan pada dasarnya adalah mempersoalkan sistem dan struktur yang telah mapan. Sehingga bisa dilihat bahwa penolakan terhadap feminisme tidak lain merupakan manifestasi ketakutan akan perubahan. Gerakan feminis yang memperjuangkan kebebasan bagi perempuan serta reformulasi pola relasi dan kuasa antar lelaki dan perempuan di lingkup pribadi, keluarga dan publik dilihat sebagai ancaman terhadap kemapanan tradisi institusi keluarga dan ideologi patriarki.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita memadamkan semangat perjuangan hanya karena penilaian sepihak tersebut? Tentu tidak. Karena penilaian ini berangkat dari pemahaman yang kurang, maka memberikan pemahaman yang lebih merupakan jawabannya.

Berdasarkan kedua poin tersebut di atas, bisa disimpulkan bahwa feminisme dapat dikategorikan sebagai budaya tandingan (counter-culture). Hal ini dikarenakan feminisme secara tajam menggugat atau menantang nilai-nilai baku dalam masyarakat. Dilihat dari posisinya, budaya tandingan sebenarnya berfungsi sebagai alarm yang menyerukan peringatan akan goyahnya pranata sosial yang sedang berlaku. Sistem pendukung kultural, mitos dan simbol tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya dan kepercayaan atas semua itu telah mati. Sehingga dengan fungsi semacam ini, feminisme merupakan wacana solusi yang bisa menjaga tata nilai dan norma masyarakat dari kebekuan dan kematian.

Jadi, masihkah kamu takut disebut feminis?

Ninis Arevni
Serikat Perempuan Indonesia

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.