Fosis UMI Memperingati Amarah

10001429_393858470757016_7455961499343722823_n
aksi tetrikal yang dikampanyekan fosis terkait Amarah (21/04) didalam kampus UMI / foto: iswan

Makassar, Cakrawalaide.com – April Makassar Berdarah (AMARAH) kembali diperingati oleh beberapa lembaga kemahasiswaan di kampus Universitas Muslim Indonesia Makassar. Momen yang diperingati setiap akhir bulan April tersebut merupakan peristiwa kelam yang tak bisa dilupakan oleh berbagai kalangan, khususnya mahasiswa UMI. Terkait dengan peringatan AMARAH, Forum Studi Issu-Issu Strategis melakukan aks itetrikal di sepanjang jalan kampus UMI, Senin (21/04).

Aksi teatrikal tersebut menggambarkan kekejaman militer terhadap mahasiswa pada saat itu. Menurut koordinator aksi, Burhan, aksi tetrikal ini merupakan kampanye menolak lupa pada AMARAH. “Meskipun momentum AMARAH pada tanggal 24 April nanti, tapi kami ingin menekankan pada seluruh civitas akademika UMI, bahwa AMARAH bukan hanya tanggal 24, karena setiap hari-hari yang kita lalui di UMI adalah AMARAH” tuturnya.

Aksi tetrikal tersebut sempat mengalihkan perhatian mahasiswa, dosen, dan beberapa wartawan yang menghadiri acara Dialog “Inspirasi Bu Rektor” di Auditorium Al-Jibra, UMI. Bahkan beberapa wartawan yang sedang fokus dalam meliput acara dialog, beralih meliput aksi tetrikal. “ Aksi kami merupakan aksi damai dan terorganisir, dan kami mencoba menghindari antipasti masyarakat terhadap aksi tetrika lini” ujar Ari, salah satu anggota FOSIS. Dia menambahkan, aksi tetrikal kali ini sesuai dengan targetan, karena media berhasil meliput aksi ini.

Setelah itu aksi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi trotoar mengenai AMARAH. Diskusi yang dihadiri oleh beberapa organisasi kemahasiswaan itu bertujuan sebagai bahan dalam merefleksi peristiwa AMARAH dan menjadi ajanguntuk menggali lebih dalam tentang peristiwa AMARAH.

“Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh mahasiswa UMI dalam memperjuangkan AMARAH, yaitu menuntut diotopsinya 3 (tiga) korban AMARAH, apakah benar mati biasa ataukah sengajadibunuh” tutur salah satu narasumber, Rasmi Ridjang Sikati.

AMARAH memang sampai saat ini masih menjadi sebuah momentum yang diperingati secara seremonial. Seyogyanya, perlu dilakukan sebuah gerakan yang mengawal terus kasus AMARAH hingga pada proses penyelesaiannya.

Penulis: Wahyu
Red: Her

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.