Meniadakan “AMARAH”, memicu amarah Mahasiswa

20150423_132938
Gambar : Aksi Bungkam Mulut yang dilakukan oleh salah satu anggota UPKSBS UMI/ by Dhani

Makassar, cakrawalaide – Sejak dikeluarkannya Surat edaran dari pihak Rektorat Universitas Muslim Indonesia nomor 3494/F.01/UMI/IV/2015 perihal peringatan Amarah ditiadakan dan kegiatan perkuliahan diliburkan pada tanggal 24 April besok. Hingga minus satu hari AMARAH, surat edaran tersebut terus menuai sejumlah protes dari mahasiswa yang bernaung dalam kampus hijau.

Unit Pengembangan Kreatifitas Seni, Budaya, dan Sastra (UPKSBS) UMI melakukan aksi teatrikal monolog di Kampus II UMI (23/04) guna menanggapi sikap birokrasi kampus UMI yang memilih untuk meliburkan aktivitas mahasiswa. “Kami turun karena bertepatan dengan isu atau moment UMI/AMARAH”. Ungkap Andreas, Ketua UPKSBS UMI.

Aksi tersebut menarik perhatian sejumlah mahasiswa karena dilakukan dengan adegan mulut di tutupi dengan lakban dan mengangkat kursi sebagai perlambangan permasalahan praktek pendidikan yang ada di kampus UMI. “Dalam aksi ini kami sengaja memilih dalam bentuk diam karena kita akan mengajak teman-teman mahasiswa untuk merespon isu AMARAH” lanjut Andreas. Menyinggung terkait surat edaran tersebut Andreas menyatakan hal tersebut tak perlu dilakukan karena akan menambah masalah baru. “Melarang AMARAH itu malah akan membuat mahasiswa semakin menjadi-jadi” tambahnya.

Selain permasalahan dibungkamnya kebebasan berekspresi yang terjadi di dalam kampus UMI, dalam aksi teatrikal mereka juga mengkritik tentang permasalahan kekuasaan politik yang mengkooptasi institusi pendidikan. “Sekarang pendidikan bermasalah dengan praktek kekuasaan yang diterapkan dalam sistem pendidikan, sehingga dalam proses belajar kita masih dianggap sebagai anak kecil” ujar seorang mahasiswa yang tak ingin di sebut identitasnya.

Akibat dari praktek kekuasaan yang ada dalam kampus, praktek perkuliahan yang terjadi di UMI dianggap masih banyak yang menganut sistem pedagogi, yaitu perkuliahan dimana dosen menganggap mahasiswa hanya sebagai objek pendidikan sehingga prosesnya berhenti hanya pada dosen memeberikan materi perkuliahan tanpa proses diskusi. “Tidak bagus ki, kita mahasiswa masa terus-terus disuap” tambahnya.

Penulis : IDE

Red : Ukhay

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *