Robohnya Sekret Kami

Robohnya Sekret Kami

Penulis: Nurul Waqiah Mustaming

Aktivitas di kompleks Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI) tak seperti biasanya hujan mengguyur deras membasahi jalan yang nampak sunyi, Minggu (17/10/2021).

Sebuah spanduk bertulisakan “Tolak pengosongan Sekretariat, UKM Tergusur UMI Lautan Api” dibentangkan menutupi seluruh ruas jalan di depan Fakultas Agama Islam (FAI) begitu pula jalanan di samping Auditorium Aljibra jalan masuk ke area kompleks UKM diblokade dengan tumpukan kayu. Puing bangunan dibiarkan berserahkan, seperti ada kekacauan besar yang terjadi di tempat ini.

Sekretariat Unit Pengembangan Kreativitas Seni Budaya dan Sastra (UPKSBS) telah dirobohkan oleh pihak kampus pada bagian sisi kanan bangunannya, Sabtu (16/10/2021).

Roboh selama 24 jam tetapi masih tetap bersinar dalam kehidupan. Ardi ketua UKM UPKSBS mulai memunguti puing-puing bangunan sekretnya, lukisan hasil kreativitas mahasiswa ia kumpulkan, perlahan membersihkan pecahan mawar merah yang mengotori. Tepat pada bagian kanan bangunan tempat lukisan ini disimpan moncong Excavator mengoyaknya.

Para pengurus UKM UMI mungkin tidak tahu bahwa disaat mereka masih terlelap dalam tidur ruang belajar mereka akan dirobohkan. Tidak ada yang menyangka ditengah ketidakberdayaan, sekretariat mereka dikoyak oleh mesin penghancur itu.

“Dia menipu kami katanya excavator itu digunakan untuk menggali di belakang. Namun, mereka gunakan untuk merobohkan sekret kami,” kata Ardi.

Para pengurus UKM-UMI masih menyayangkan tindakan pihak kampus yang begitu saja ingin merobohkan sekretariat mereka tanpa ada informasi sebelumnya. Bahkan menggunakan tindakan manipulatif agar mengelabui mahasiswa dengan dalih excavator tidak digunakan untuk merobohkan sekretariat melainkan hanya untuk penggalian dan pembersihan.

Bagi Ardi sekret bukanlah sekedar bangunan saja yang sesuka hati pihak kampus ingin membongkarnya akan tetapi lebih dari itu. “Bagi kami itu adalah rumah dengan segala kenangan yang kami lukis, tempat mengembangkan minat dan bakat khususnya kami di bidang seni.”

Wacana pembangunan gedung UKM telah lama menuai penolakan dikalangan para pengurus UKM UMI. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Aliansi UKM UMI menolak pembongkaran dan rencana renovasi yang di wacanakan oleh pihak kampus, dengan alasan pembangunan gedung baru UKM tersebut tidak menjawab kebutuhan.

Pasalnya diatas lahan yang saat ini berdiri 7 UKM akan digusur kemudian dibangun gedung berjumlah 20 ruangan dengan luas masing-masing 2,75 meter x 3 meter yang hanya dilengkapi dengan satu toilet.

Para pengurus UKM-UMI menilai ukuran tersebut tidak mampu menjawab kebutuhan setiap UKM, seperti jumlah pengurus yang rata-rata setiap UKM ialah kurang lebih 20 orang, tidak mampu menampung barang setiap UKM,  yang tentunya dengan kondisi tersebut akan menghambat kerja-kerja organisasi. Serta menurutnya, pihak kampus dalam pengambilan keputusan sangat sepihak dan serampangan, sebab tidak melibatkan mahasiswa.

Pukul 06:55 WITA excavator mulai bergerak memasuki kompleks UKM, Ardi baru saja terbangun dari tidurnya, ia belum sempat membasuh wajah, rambut gondrongnya masih belum sempat ia kuncir. Terbangun karena suara bising excavator. Di depan sekretnya puluhan satuan pengamanan (Satpam) berpakaian serba hitam telah berkumpul. Perlahan moncong excavator itu terangkat dengan sekejap merobohkan bangunan yang telah termakan usia. Tak butuh waktu banyak, hanya sekali sentakan bangunan itu roboh.

“Bruk… brukk…brukk,” suaranya menggema di suasana yang mencekam.

“Woi! Jangan robohkan sekret ku,” teriak Ardi tak kuasa menahan amarah, di depan matanya sekret itu dirobohkan.

“Jangan dirobohkan,” teriak sebagian orang. “Pak, masih ada orang dalam sekret itu jangan dirobohkan dulu,” teriak sebagiannya lagi.

 “Itu bukan urusan kami,” kata kepala keamanan. “Kalian sudah diberi waktu mengosongkan sekret ini, tapi kalian tidak mendengar,” sambungnya.

Sekretariat UKM Seni yang dirobohkan secara paksa oleh pihak kampus (16-10-2021)

Fendi baru saja merebahkan kepalanya, sekitar satu jam ia memejamkan mata, tiba-tiba tubuhnya tersentak, langit-langit bangunan bergetar hebat disertai dengan suara gemuruh. Keributan dari arah luar semakin terdengar. Di sisi kanan bangunan di samping tempatnya tertidur, telah dirobohkan, bangunan ambruk begitu cepat. Fendi tahu bahwa sekret itu akan dirobohkan, dadanya berdebar hebat.

Fendi berlari keluar membawa tas dan barang miliknya. Dia melebarkan langkah dengan tergesa-gesa. Fendi mencemaskan bahwa sekret itu akan segera dirobohkan sedang ia masih ada di dalam, “Saya baru saja membuka mata, seketika panik melihat bangunan disamping saya telah roboh.”

Malamnya, Fendi menyempatkan diri mengunjungi teman-temannya di sekret UPKSBS sekaligus berbagai ilmu dan bersilaturahmi bersama. Ia merupakan alumni di kampus UMI angkatan tahun 1999 Fakultas Sastra. Ia tak  tahu bahwa sekret itu akan dirobohkan esok harinya, bahkan saat masih ada manusia di dalamnya pihak kampus tega merobohkannya. Bagi Fendi tindakan itu sangat tidak sesuai prosedur.

“Tindakan itu tidak manusiawi, sekretariat adalah bagian dari kampus. Mahasiswa berkegiatan juga bagian dari pencitraan nama kampus. Jika sekret dirusak nama UMI juga ikut rusak.”

Suara keributan semakin terdengar, Ari bersama kawannya tengah beristirahat di sekretnya Unit Penerbitan dan Penulisan Mahasiswa (UPPM-UMI).

“Suara bising excavator mengagetkan kami, serta puluhan satpam yang tiba-tiba mendatangi sekretariat UKM.”

Melihat UKM Seni telah dirobohkan pada sisi kanan, Ari tak mampu lagi menahan amarahnya, dadanya serasa sesak, kakinya bergetar hebat namun ia tetap harus melawan. Ari berlari agar dapat bernegosiasi dengan para petugas keamanan agar jangan dirobohkan sebelum ada audiensi dengan pihak kampus.

“Tunggu dulu pak bukan begini caranya, masih ada alat belajar di dalam,” teriaknya suaranya terdengar parau matanya memerah.

“Itu urusan kalian bukan urusan kami,” balas kepala keamanan.

Ari tak begitu menyadari. Namun, yang ia rasa pada bagian leher ia disekap (dipiting) kemudian tubuhnya terbanting ke tanah.

Amarah para mahasiswa tak bisa terbendung lagi menyaksikan sekret mereka dikoyak begitu saja. Hingga bentrokan pun terjadi, batu beterbangan seperti kapas yang dihamburkan. Hingga membuat mesin yang awalnya  menyeramkan bak raksasa tak ayal seperti mainan yang sangat kecil. Lemparan terus dilakukan agar mampu menghalau pembongkaran paksa sekretariat itu.

Sulaiman, sopir yang menjalankan excavator, ia tak tahu bahwa pagi itu ia akan menggusur sekretariat UKM-UMI. Ia menceritakan bahwa hari itu dirinya hanya diminta untuk datang ke kampus UMI melakukan pembersihan di depan bangunan baru Fakultas Hukum. Namun, saat sampai ia diarahkan ke belakang (sekretariat UKM) katanya pembersihan dimulai dari belakang.

“Di situ katanya mau bekerja, pindah dulu di belakang pembersihan, saya ikuti saja arahan,” tuturnya.

Ia juga mengatakan tak ada informasi sebelumnya bahwa dirinya akan menggusur sekretariat UKM yang pada saat itu juga masih ada mahasiswa berada di dalam bangunan tersebut. Arahan yang ia terima adalah perintah pembersihan.

Pembersihanji, seandainya ditau soal penggusuran saya juga tidak berani itu hari,” tambahnya.

Suasana menjadi sedikit aman ketika mesin itu berhasil dijauhkan dari kompleks UKM.

Bagi kampus membongkar bangunan tua ini adalah soal kecil. Dan aspirasi serta protes mahasiswa yang menuntut agar sekret mereka sesuai kebutuhan juga adalah hal kecil. Kritikan mahasiswa adalah batu loncatan yang tak bisa dielakkan dari sejarah besarnya nama sebuah kampus.

Jauh sebelum pembongkaran itu dilakukan, Aliansi UKM UMI telah melakukan berbagai upaya agar pihak kampus membuka ruang membahas soal ukuran sekretariat yang menghianati cita-cita awal akan dibangunnya gedung sekretariat yang baru agar mampu meningkatkan produktivitas kerja organisasi.

Berawal dari pemasangan baliho di depan Sekretariat UKM KSR PMI yang bertuliskan “Insya Allah Segera Dibangun Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia,”  tanpa mengkonfirmasi kepada pengurus UKM. Selang delapan belas hari pasca pemasangan spanduk. Selanjutnya pada tanggal 24 Mei 2021 pengurus UKM  dikagetkan dengan masuknya surat dengan nomor 249/F.08/BAKA-UMI/V/2021 yang berisi perintah pengosongan sekretariat selambat-lambatnya tanggal 25 Mei 2021.

Wakil Rektor III saat ditemui oleh para pengurus UKM pada (24/5/2021), hanya memberikan jawaban dengan mengatakan alasan pembangunan adalah karena kesan kumuh yang terlihat di kompleks UKM dan hal tersebut menyangkut citra kampus.

Pihak kampus kemudian melayangkan kembali surat kedua pada tanggal 20 September 2021 dengan nomor 496/F.8/BAKA-UMI/IX/2021. Perihal surat tersebut masih sama soal perintah pengosongan sekretariat paling lambat 23 September 2021. Menanggapi surat tersebut para pengurus UKM mengirimkan surat audiensi kepada WR III agar segara membahas masalah ini.

Namun, pihak  Wakil Rektor  III yang ditemui di ruangannya tak mengindahkan permintaan para pengurus UKM dengan mengatakan bahwa mahasiswa tidak memiliki hak dilibatkan dalam proses perecanaan pembangunan sekretariat.

“Tidak usah protes, bangunan itu sudah yang terbaik untuk mahasiswa,” (21/9/2021).

Apa yang terbaik sebenarnya, dan apa yang tidak baik?

Bagi pengurus UKM belajar serta mengembangkan bakat mereka di sekret saat ini adalah yang terbaik, Sebuah sekretariat, bangunan tua yang masih tetap bersinar, rumah tempat lahirnya insan intelektual dengan keterampilan terasah adalah sebuah hal besar bagi seluruh pengurus UKM.

Mereka Memang tak begitu yakin mampu terus mempertahankan sekret itu, karena suara mereka adalah suara kecil bagi sebuah kampus yang namanya terlampau besar.

Hujan semakin melecut, aroma tanah semakin terasa, kampus masih tetap sepi gerbang tertutup dengan rapat tak ada akses untuk masuk kedalam.

Terpal berwarna biru mulai di bentangkan oleh pengurus UKM seni. Bekas koyakan bangunan pada bagian sebelah kanan membuat derai hujan tak mampu lagi tertahan. “Ketika hujan air akan masuk kedalam sekret, kami pakai terpal ini dulu untuk bertahan.” Bekas amukan mesin itu menyisakan jejak.

Kondisi sekretariat UKM seni pasca pembongkaran

Tak banyak yang bisa mereka perbuat, baginya bangunan tak selamanya benda mati. Namun, sebuah tempat memproduksi manusia dengan berbagai keterampilan. Bagi para pengurus UKM perjuangan mempertahankan ruang ini akan terus ada dan berlanjut sampai pihak kampus ingin membuka ruang membicarakan kejelasan ukuran sekretariat UKM.

Di depan sekretariatnya, Nunuk, Ketua UPPM-UMI duduk  bersama para pengurus dan anggotanya. Baginya sekret ini terlalu tua jika ingin dipertahankan. Namun, bukan soal itu tapi di sekret ini mereka bisa belajar dengan merdeka, menganalisis, mengkritik segala ketimpangan sosial yang ada.

“Kita bisa melakukan apa di luas ruangan 2,75 meter X 3 meter, bahkan untuk rapat saja sempit,” katanya.

UMI tak boleh menafikkan hal ini bahwa kampus terbaik di luar pulau Jawa yang disandangnya saat ini tidak lepas dari prestasi yang diraih oleh UKM.

“UMI besar karena UKM-nya,” tutupnya.

Jalanan masih basah bekas hujan tadi, matahari tak tampak sore ini. Namun,  harapan selalu tampak, semoga keadilan di kampus hijau yang berdiri di tanah wakaf, masih benar ada dan berpihak kepada ummat.

Redaktur: Nunuk Parwati S

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *