Sumpah Pemuda dan Kebebasan Mahasiswa

Aksi mahasiswa di hari sumpah pemuda. Foto by: La Pade Salay
Aksi mahasiswa di hari sumpah pemuda. Foto by: La Pade Salay

Makassar, cakrawalaide.com – Arah jarum jam menunjuk pukul 13:20 Wita, hujan benar-benar turun. Sebelumnya langit mendung yang menyampaikan bahwa setelah itu akan turun hujan. Hari itu (Jumat/28/10) yang merupakan hari peringatan Sumpah Pemuda.

Hujan yang deras tak berarti membatalkan agenda aksi mahasiswa hari itu. Sebelum pukul 14:00 Wita, suara megaphone telah berbunyi didalam kampus Universitas Muslim Indonesia. Suara hujan yang keras tak membuat suara megaphone hilang, beberapa mahasiswa dengan menggunakan sepeda motor berkeliling kampus sambil mengajak mahasiswa dari berbagai Fakultas untuk turun aksi hari itu.

Dibawah jembatan layang, massa aksi dari Solidaritas Aksi Masyarakat Untuk Rakyat Indonesia melaksanakan aksi damai. Sebelumnya, mereka pawai dari taman makam Pahlawan menuju jembatan layang. Aliansi dari berbagai organisasi internal mahasiswa, organ eksternal, organisasi rakyat/Sipil serta NGO. Pada aksi yang berlangsung, mereka mengangkat isu Militerisme, Pembumkaman Demokrasi, Penegakan dan Pemunuhan HAM, Upah Buruh, serta isu Pendidikan.

Untuk kelompok mahasiswa, pada umumnya isu Pendidikan menjadi isu utama. Dari berbagai organisasi dan kampus yang kemudian tumpah ruah di bawah jembatan layang kota Makassar, isu Pendidikan menajdi salah satu isu penting yang hampir menjadi isu yang disampaikan berbagai organ mahasiswa.

Karena dipadati banyak mahasiswa dan berbagai organisasi, arus kendaraan menjadi macet. Dari berbagai penjuru, berbagai kelompok mahasiswa berdatangan dan membuat ruas jalan dibawah jembatan layang tertutup karena kepadatan massa aksi.

Dua hari sebelumnya, Aliansi KEMA Hukum UMI (Keluarga Mahasiswa Hukum) yang dinaungi oleh BEM Hukum melakukan demonstrasi didepan Fakultas Hukum menolak kebijakan birokrasi kampus yang tidak pro terhadap mahasiswa, Rabu (26/10).

Aksi tersebut dilakukan atas dasar dikeluarkannya himbauan rektor UMI yang meresahkan seluruh mahasiswa UMI terkait surat edaran pelarangan aksi didepan kampus Universitas Muslim Indonesia, mulai dari jembatan depan kampus UNIBOS hingga kantor gubernur dengan sanksi yang diberikan skorsing mulai dari satu sampai empat semester seperti yang dijelaskan Maulana sebagai Kordinator aksi.

Aliansi KEMA ini terbentuk karena adanya himbauan dari rektorat dengan dikeluarkannya surat edaran yang berisi pelarangan aksi yang dilakukan oleh mahasiswa mulai dari jembatan depan kampus UNIBOS sampai depan kantor gubernur dengan sanksi skorsing mulai dari satu sampai empat semester. Sebelumnya, sering terbit di lingkungan kampus UMI terkait pelarangan aktifitas jam malam, pelarangan proses kaderisasi serta pemamsangan spanduk.

Perlu disadari bahwa kehidupan kampus saat ini sedang tidak baik-baik saja, ruang-ruang demokrasi mulai dipersempit oleh pihak birokrasi kampus, belum lagi dengan munculnya isu-isu pungutan liar yang marak terjadi dimana-mana, pembungkaman demokrasi, pelarangan aktivitas malam dikampus, mahasiswa dibebani dengan uang tambahan semisal uang perpustakaan dan penjualan buku oleh dosen dan kebijakan-kebijakan birokrasi kampus lainnya yang tidak pro terhadap mahasiswa dengan cara membungkam gerakan mahasiswa. Dengan banyaknya isu-isu yang berkembang di kampus gerakan mahasiswa malah di bungkam oleh pihak birokrasi kampus dengan ancaman skorsing sebagai senjata yang dipakai untuk meredam gerakan mahasiswa. Ujar Maulana.

Setelah aksi tersebut, keesokan harinya, ratusan mahasiswa Fakultas Teknik Industri (FTI) juga aksi keliling kampus sebelum aksi pada peringatan Sumpah Pemuda. Dibawah guyuran hujan, mereka kemudian berkeliling kampus dan mengajak semua mahasiswa dari berbagai fakultas untuk turut serta dalam  memperingati hari Sumpah Pemuda. Isu yang mereka angkat juga tak jauh berbeda dengan aksi mahasiswa sebelumnya, mereka secara umum menolak Liberalisasi Pendidikan serta Pembumkaman Demokrasi Kampus.

Mahasiswa Makassar dari berbagai organisasi melakukan demonstrasi besar-besaran dalam memperingati hari Sumpah Pemuda, LMND salah satu organisasi yang berdemonstrasi memilih aksi di depan kampus UNIBOS (Universitas Bosowa), dengan tuntutan “Laksanakan pasal 33 UUD 1945, Trisakti dan kembalikan kejalan Pancasila 1 Juni 1945,” berujung saling dorong dengan pihak Kampus UNIBOS (Universitas Bosowa), Jumat (28/10/2016).

Para demonstrasi ini yang mulai aksinya  dari depan kampus UMI (Universitas Muslim Indonesia), menuju titik aksi di bawah flyover, belum sampai pada titik aksi para demonstrasi dari LMND ini memilih untuk menyuarakan orasi politiknya didepan kampus UNIBOS (Universitas Bosowa) yang tidak jauh dari kampus UMI, dengan menutup pintu masuk kampus dengan keranda yang dibuat oleh para mahasiswa tersebut sembari menampilkan teatrikalnya dan berteriak “Saya adalah Presiden dan saya tidak takut pada Mahasiswa,” sambil menghadap masuk ke dalam kampus dan di kawal ketat oleh dua orang satpam agar mahasiswa tidak masuk kedalam kampus.

Kurang lebih 10 menit berorasi, datang dua orang berpakaian rapi dari dalam kampus keluar dan menuju massa aksi sambil marah-marah, tak diduga dua orang itu langsung mendorong para Mahasiswa dengan di iringi suara yang keras mengusir para mahasiswa sambil berteriak dari organisasi mana kalian, kata salah satu orang dari pihak kampus tersebut tanpa alasan yang jelas.

“kronologinya tidak terlalu jelas karena tidak disangka kenapa tiba-tiba datang dua orang dari dalam kampus tanpa alasan yang jelas sambil marah-marah kemudian mengusir kami keluar dari depan kampus,” jelas Hamry salah satu anggota LMND.

Aksi saling dorong terjadi ketika salah satu mahasiswa bernama Rama tidak terima dengan perlakuan dua orang tersebut dan melawan untuk tetap bertahan dan menyuarakan orasi-orasi politiknya.

Dengan tindakan dan suara yang lebih keras mengusir para mahasiswa, akhirnya massa aksi berpindah tempat menuju bawah flyover dengan penuh  kekecewaan terhadap tindakan yang dilakukan oleh dua orang dari pihak kampus UNIBOS tersebut, pihak kampus UNIBOS tidak menghargai demokrasi sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945 ayat 28, ungkap Hamry.

“Pihak kampus UNIBOS tidak menghargai demokrasi sebagaimana telah diatur dalam UUD 1945 ayat 28, yang mengatur  tentang hak asasi manusia mulai dari hak hidup, hak berkreasi dan hak hak lainnya secara umum,” jelas Hamry dengan penuh kekecewaan.

Tindakan ini menjadi salah satu bukti bahwa ruang demokrasi mulai dibungkam oleh pihak-pihak yang tidak pro terhadap demokrasi terkhusus dikampus, gerakan mahasiswa yang menolak kebijakan kampus yang tidak memihak dan merugikan mahasiswa malah diredam dengan ancaman skorsing sebagai senjata yang dipakai untuk mematikan nalar kritis mahasiswa.

Aksi sumpah pemuda tahun ini dipenuhi oleh banyak organ dari berbagai kampus, organisasi, dengan atribut dan warna yang berbeda. Muncul dari berbagai penjuru dan kemudian terkumpul di bawah jembatan layang Makassar.

Berbagai organ yang aksi pada peringatan sumpah pemuda, setelah melangsungkan aksi dibawah jembatan layang, massa aksi menuju kampusnya masing-masing. Untuk mahasiswa UMI, Aliansi Geram dari faklutas teknik bergabung dengan beberapa organ internal dan eksternal kembali melanjutkan aksi didepan pintu keluar kampus UMI. Sebelumnya, para demonstran ini melakukan aksi di gedung DPRD Provinsi Sul-sel dan kemudian long march kembali kedepan kampus.

Mereka secara tegas menolak berbagai aturan yang mengungkung mahasiswa, bertentangan dengan prinsip demokrasi, HAM dan juga persoalan liberalisasi pendidikan. Walaupun menutup sebagian jalan, aksi ini berlangsung damai sampai para massa aksi masuk kembali kekampus.

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.