Ber-Islam Tanpa Substansi, Hijrah Zaman Now !!

Akhir-akhir ini ada semacam dinamika sosial yang terjadi dikalangan anak muda Indonesia, penulis tak tahu betul kaitannya dengan menjamurnya ustad-ustad baru di sosial media, atau hubungannya dengan aksi massa 212 di Monas. Yang jelasnya penulis mencium ada trend baru dalam masyarakat khususnya para kawula muda. Yah, tak boleh lain fenomena hijrah. Dengan alasan itu pula penulis mengangkat judul diatas, karena seolah istilah hijrah diartikan dan maknanya direduksi menjadi transformasi gaya berpakaian. Perlu ditegaskan diawal bahwa penulis tidak tertarik mempermasalahkan pilihan berpakaian seseorang namun ada hal lebih substantif yang ingin disampaikan penulis.

Hijrah dalam kamus besar bahasa Indoesia (KBBI) adalah perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagiannya dari tekanan kaum kafir Quraisy. Pendeknya menuju sesuatu yang lebih baik. Kalau dulu Nabi hijrah ke Madinah selain menghindari konfrontasi dengan musuh juga untuk membentuk tatanan masyarakat madani yang berlandaskan nilai etis. Lalu secara personal tujuan hijrah akhirannya kemana ? menurut Prof Nadirsyah Hosen yaitu harus menjadi pribadi yang berakhlak mulia.
Jadi poin utama dari hijrah itu sendiri adalah perbaikan akhlak dari semula kurang baik menjadi agak baik, titik beratnya bukan dalam ranah simbolis atau gaya berpakaian semisal Hijab dan cadar untuk perempuan lalu gamis dan sorban untuk laki-laki. Dan juga istilah hijrah bukan label utuk memberi justifikasi dan pembeda antara kelompok yang soleh dan yang tidak soleh, persoalan soleh dan tidak soleh bukankah hak preogratif Tuhan ? Alangkah kontrasnya bila seorang perempuan yang telah mantap berhijab namun menghakimi sesamanya yang tidak mengenakan hijab dengan kata “tidak soleha, calon penghuni neraka !“ semoga pada realitanya memang tidak ada, naudzubillah min zalik.

Apakah perempuan bercadar akhlaknya lebih baik dari orang yang berhijab ? Belum tentu. Lalu apakah perempuan berhijab akhlaknya lebih baik dari perempuan yang tidak mengenakan hijab atau cadar ? Belum tentu juga. Mari hormati pilihan masing-masing selama pakaian yang kita kenakan tidak membuat kita merasa lebih mulia dari orang lain.

Bicara tentang hijab, ada pengalaman menarik dari Ibu Gayatri Muthari seorang akademisi lulusan Pontifical University of St. Thomas Aquinas pada saat berada di Roma dan Vatikan. Beliau sangat menyukai memotret pakaian biarawati yang beragam itu, sangat jauh dari yang selama ini umum lihat. Sebelum ke Roma, oleh karena Ibu Gayatri menerima inisiasi sebagai Darwis Daudiyah Bektansi maka beliau memutuskan mengenakan pakaian penutup kepala yang menunjukan bahwa hijab bukan hanya pakaian muslimah namun juga dikenakan oleh banyak perempuan beragama lain di dunia. Selain itu, beliau juga beranggapan bahwa hijab bukanlah suatu kewajiban dan tidak percaya bahwa perempuan yang tidak berhijab itu berdosa, tidak taat, dll yang merendahkan perempuan tak berhijab.

Bahkan menurutnya aurat tidak berkenaan dengan pakaian yang kita kenakan, melainkan berkenaan hasrat kita sendiri. Wanita dengan gelar RADEN AJENG ini memberi contoh kasus saat membaca dan menyaksikan serta mendengar dimana-mana, perkosaan tetap dilakukan kepada perempuan-perempuan berhijab, bercadar dan berpakaian sopan, bahkan anak-anak. Jika anda membiarkan pemikiran seluruh tubuh molek anda ialah pembangkit birahi lelaki maka anda harus menutupinya agar anda merasa nyaman, maka siapa yang anda salahkan jika saat berniqab atau berhijab anda tetap diperkosa ? Anda tak mengendalikan siapa pun kecuali diri Anda sendiri. Rambut anda indah ciptaan Allah, dan diseluruh belahan dunia manusia biasa melihat rambut.

Tentu, ini agak berbeda dengan bagian kemaluan dan payudara wanita oleh karena konstruksi evolusi budaya manusia selama ribuan tahun. Juga mengenai gamis yang saat ini menjadi trend bagi sebagian kaum muslim masyarakat kita, lagi-lagi penulis menegaskan bahwa pilihan berpakaian adalah hak setiap orang namun jika suatu model berpakaian dijadikan sebagai legitimasi dan pembeda untuk persoalan aqidah seseorang maka sangatlah tidak etis. Sebagai contoh, musuh Rasulullah yaitu Abu Jahal (Amr bin Hisyam) juga memakai gamis dalam kesehariannya sama dengan yang dipakai oleh Rasulullah, pendiri Nahdatul Ulama K.H Asy’ari, serta berbagai Ulama yang ada di belahan duia ini.

Kedua contoh diatas memiliki poin dan semakin mempertegas bahwa persoalan hijrah adalah bukan hanya sebatas simbolis belaka, namun ada hal substansif yang menjadi tujuan dari hijrah itu sendiri yaitu perbaikan pribadi yang berakhlak mulia. Ber-Islam itu adalah sebuah proses perjalanan spiritual yang medannya tidak enteng. Puncaknya ada di akhirat bukan di dunia. Oleh sebab itu jangan jadikan hijrah hanya sebatas trend belaka. Sebagai kesimpulan dan penutup penulis mengutip nasehat dari Gus Nadir.

“Hijrah merupakan sesuatu yang baik dan bagian dalam proses ber-Islam. Tapi harus dilakukan dengan niat yang bersih, tahap demi tahap seraya menuntut ilmu biar tidak kagetan, serta tidak merasa lebih baik dari yang lain, dan ujungnya itu akhlak mulia, bukan sekedar berubah tampilan”.

PENULIS : A.TAN

Red : Shim

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.