Cerpen: Jendral Hati Sesungguhnya

Hari ini aku sepenuhnya terperangkap oleh dirimu tanpa ampun, entahlah perpisahanku tadi pagi didepan gerbang kampus membuat ku sedikit cemas hingga seharian ini. Yah, hari ini adalah peringat Hari Anti Korupsi sedunia, di kotaku semua mahasiswa tergabung dalam aksi besar guna memperingati Hari Anti Korupsi ini.

Seperti biasa, sebelum aksi dilakukan, sehari sebelum hari H dilakukan konsolidasi bagi yang ingin bergabung agar aksi berjalan lancar dan tidak menimbulkan kericuhan yang di sebabkan oleh penyusup-penyusup yang menjadi provokator tak bertanggung jawab.

Fahri lagi-lagi di tunjuk sebagai koordinator lapangan. Ada sebuah rasa cemas yang sangat besar ketika lagi-lagi melihat kekasihmu harus berhadapan dengan para orang-orang yang berseragam menggunakan Tameng serta Tank yang mengeluarkan cairan yang membuat mata perih.

Tepat pukul 09.45 pagi, depan gerbang kampus hijau, saat menatap matanya ada sesuatu yang mengisyaratkanku untuk tidak melepasnya pergi, entah ini hanya perasaan ku saja, ketika jejak suara motornya perlahan menghilang terbersit kerinduanku yang begitu mendalam, ah kenapa aku harus jatuh cinta dengan seorang Aktivis kampus.

Namun demi menunaikan hak dan kewajiban sebagai seorang yang mempunyai tanggung jawab besar bagi bangsa ini, kulepasnya dengan doa dan restu semogah baik-baik saja dan semoga Tuhan senangtiasa melindungi. Seandainya saja aku tak ada Mid Statistika, biasanya aku akan ikut turun kejalan bersama Fahri demi surat cinta pertama yang ia tulis untukku.

Ternyata dibalik predikat seorang Jendral Lapangan dia mampu juga menuliskan syair indah, setahun bersama, hal ini adalah hal pertama yang baru aku ketahui bahwa ternyata aku salah. Fahri adalah orang yang sangat romantis dan aku tidak pernah menyesal telah mencintai seorang Aktivis. Aku mempunyai tanggung jawab lebih sekarang, mimpi Fahri bisa melihat bangsa ini maju dan bersih dari tangan-tangan kotor para tikus berdasi harus bisa aku tunaikan.

Memang tak ada air mata untuk orang sepertimu, air mata hanya pantas untuk orang-orang yang gagal hidupnya sedangkan kamu, kamu adalah orang luar biasa yang pernah aku temui.
Aku akan selalu percaya, disudut hati ini adalah rumahmu. Disinilah kamu kembali. Bagiku kau tidak pernah benar telah meninggalkan ku. Selamat jalan. Cintaku benar untukmu.

Penulis: Siviakirana
Red: Mat

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *