Cerpen: November Rain

hujan payung merah
ilustrasi / sumber: Catatan Kecil Seorang Mahasiswi

Salah satu hal yang paling ditakutkan oleh mayoritas mahasiswa perantau adalah kehabisan uang saat bulan baru masih jauh. Tapi aku tidak pernah betul-betul takut pada hantu akhir bulan macamitu. Karena apa gunanya berorganisasi dan punya banyak teman yang melebihi saudara kalau kamu masih kelaparan?

Karena jauh di lubuk hati, aku hanya takut pada satu hal. Hal yang menimpaku hari ini. Mendapatkan telepon dari Ibu di rumah dan menyuruh pulang secepat mungkin. Clueless. Tidak ada penjelasan, hanya satu perintah tegas.

Bagi anak gadis di daerahku, “panggilan pulang” seperti itu memiliki makna ganda. Yang pertama, kamu akan dinikahkan. Tapi itu masih jauh lebih baik ketimbang membayangkan kemungkinan kedua. Keluarga sedang mendapat musibah. Kemungkinan yang sangat menghantuiku mengingat posisiku sebagai anak sulung.

Bus yang kutumpangi baru saja memasuki kota Pare-Pare. Yang artinya masih 4 jam lagi sebelum sampai di kotaku. Pikiran yang carut marut membuatku tidak bisa memejamkan mata. Aku mencoba menerka-nerka ada apa gerangan di rumah. Untuk kemungkinan pertama, sepertinya bukan.

Ibu dan Ayah cukup paham watak keras kepalaku yang sudah pasti akan menolak mentah-mentah untuk dipaksa menikah. Berarti kemungkinan kedua. Ada apa dengan keluarga? Komunikasi dengan Ibu berjalan lancar setidaknya dua hari sekali, sampai tiba-tiba tadi beberapa jam yang lalu beliau menelepon. Dengan adik-adik pun begitu. Dengan Ayah? Ah, Ayah..

Pikiran buruk menghantuiku dengan segera. Bulan berapa sekarang? Teringat kembali pesan ayah belasan tahun yang lalu..

***

“Ayah mau kemana?”

“Duduk-duduk di depan pagar. Ayo ikut Ayah.”

“Ayo ayo!! kita mau apa, yah? Hitung motor yang lewat yah?”

“Ikut saja. Ayah ajarkan kamu mengenal malam.”

Aku masih 5 tahun waktu itu. Baru mulai mencicipi seragam putih merah. Dan jujur, Ayah bukan favoriteku. Ketegasannya yang kadang menakutkan menurutku, membuatku lebih dekat dengan Ibu. Tapi sejak malam itu, aku dan Ayah punya rutinitas baru. Tiap selesai makan malam, Ayah akan mengangkat kursi rotan yang ada di teras menuju halaman depan rumah dan aku berlari-lari kecil di belakangnya.

Ayah akan mengatur posisi kursinya sedemikian rupa di sudut depan pagar, terlindung dalam kegelapan sehingga tidak memungkinkan orang-orang melihat kami, tetap tidak menghalangi pandangan kesegala arah. Rutinitas itu berlangsung setiap hari saat bulan menampakkan diri. Entah itu bulan purnama, bulan setengah, atau bulan sabit. Terkadang Ibu menyusul setelah membersihkan bekas makan malam. Tapi itu tidak sering karena ada adik bayi yang harus ditunggui.

Saat anak-anak lain belajar berhitung dengan lidi, batu, sempoa dan segala macamnya, aku belajar menghitung jumlah motor dan mobil yang lewat dimalam hari dari atas pangkuan ayah. Tentu saja, jangan bayangkan kendaraan seramai sekarang.

Saat anak-anak hanya mengenal satu macam bulan, aku mengenal tiga. Bulan purnama, bulan setengah, dan bulan sabit. Dan bahwa bulan purnama muncul di minggu kedua tiap bulannya dengan pola acak di permukaannya.

“Perhatikan permukaannya. Kira-kira itu gambar apa?” tanya Ayah suatu kali.

“Gambar nenek-nenek sedang duduk merajut?” tanyaku sambil mengingat bone kawol pink rajuta nnenek.

“Coba perhatikan lebih jelas. Menurut Ayah, itu lebih mirip kakek-kakek yang sedang menebar jala di lautan.” Ayah menjelaskan.

Dan dimulai lah pelajaran imajinasiku. Saat anak-anak lain terperangkap oleh kotak televisi, Ayah mengajarkan ku berimajinasi melalui pola random di permukaan bulan. “Bulan mencerminkan apa yang terjadi di Bumi. Dan selalu ada dimanapun  kita berada. Karena bulan itu milik bumi.” Ayah menjelaskan.

“Ayah, Ayah, haus. Ayo masuk minum.”rengekku malam itu.

“Masuk sendiri sana. Ayah tunggu di sini.”

“Takut” kataku. Jarak pagar dan rumah kami memang terbilang jauh untuk ukuran anak kecil.

“Jangan takut. Gelap tidak akan menggigit. Belajar dari malam, Nak. Malam akan membuka matamu lebih lebar. Mengajarkanmu melihat apa yang tidak diperlihatkan oleh siang.”Nasihat Ayah.

“Kamu harus kuat, Nak. Harus kuat seperti Ayah tapi tetap lembut seperti Ibu. Coba perhatikan, Ayah hanya sakit setahun sekali. Tepatnya di bulan November. Ingat baik-baik. Suatu saat nanti kalau Ayah tiba-tiba sakit tidak di bulan November, melihatlah di malam hari. Bertanya pada bulan, artikan polanya. Berharaplah hujan segera turun, selayaknya hujan pertama di bulan November.” Ayah menutup ceritanya.

Dan sejak saat itu, aku tidak pernah takut gelap. Aku bersahabat dengan malam dimanapun aku berada. Bahkan setelah aku sudah terlalu berat untuk duduk di pangkuan Ayah, aku tetap meluangkan waktu berdiri di depan pagar setiap malam. Pun bertahun-tahun kemudian saat hijrah ke kota Bandung, aku menghabiskan malam dari atas genteng rumah kost-kost-an. Atau sekarang di tengah ‘the real world’ yang terkadang tidak menyisakan waktu untuk menghela nafas, aku bersahabat dengan malam dari atas motor. Kuda besi yang mengantarku menjauh sejenak dari kepenatan dunia.

***

“Tidak turun, de?” tegur penumpang di kursi sebelah membuyarkan lamunanku. Rupanya bus sedang mampir di warung makan.

Turun. Aku harus segera turun. Mengikuti petunjuk ayah untuk menjelaskan kekhawatiranku. Semoga kepekatan dini hari bisa membantuku membaca pola bulan. Dan semoga Sang Dalang segera mengirimkan hujan di November  ini..

Penulis: Ns @rokhitam
Red: Hr

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.