Daeng Lallo.. Pekerja Tertua di UMI. Kenalkah Kita?

Foto009
Daeng Lallo / Foto: Ayi Wallacea

Makassar, cakrawalaide.com — Seperti biasa dihari-hari sebelumnya setelah Shalat Ashar usai, Mesjid Umar bin Khattab UMI masih terlihat ramai, beberapa mahasiswa masih nyaman bercengkrama dengan suasana sore, duduk membaca, berdiskusi maupun mengisi perut dengan aneka makanan yang dijajakan ibu kantin di lantai dasar mesjid.

Dari sekian orang yang bercengkrama, terlihat orang tua membasuh muka di tempat wudhu. Mengusap keningnya yang terlihat keriput, dan kaki yang tak begitu kokoh. Sehabis itu ia melangkah ke tangga mesjid, langkahnya aneh, kaki kanannya tak wajar sehingga ia perlu berjinjit untuk melangkah dengan kaki yang lain. Ia adalah Daeng Lallo (83), pekerja kebersihan yang hari-harinya bertugas untuk membersihkan pekarangan Mesjid Umar bin Khattab UMI. Bekerja sejak Tahun 2000, ia mempunyai segudang kenangan tentang UMI.

“dulu Kantor Wakil Rektor III masih dibelakang Al-Jibra, yang depannya Mapala” ia mengenang. Saat ini bekas kantor itu kini berganti menjadi Language Centre (Pusat Laboratorium Bahasa) UMI.

Sebelum bekerja sebagai petugas kebersihan di UMI, Daeng Lallo adalah seorang perantau yang berusaha mencari peruntungan di Jakarta sebagai buruh bangunan selama sepuluh tahun, sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan isteri dan empat orang anaknya. Namun atas desakan keluarga iapun kembali ke Makassar. “Keluarga suruh pulang, mereka bilang istrahat mi, jangan bekerja paksa begitu” ujarnya menirukan.

Setelah tiba di Makassar, pekerjaan tak juga didapat. Susahnya mencari pekerjaan di Makassar memaksanya mengayuh becak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. “pulang ke Makassar, tambah setengah mati. Susah cari pekerjaan” ujar seorang yang pernah menamatkan pendidikan di sekolah rakyat. Pekerjaan sebagai tukang becak, ia jalani lebih tiga tahun, dengan penghasilan yang seadanya.

Daeng Lallo sempat tinggal disekitar Pabaengbaeng. Namun rumah yang ditinggalinya selama bertahun-tahun, digusur oleh orang yang ingin membangun usaha di wilayah itu. Untungnya Daeng Lallo dapat bernapas lega karena pengusaha yang mengambil tanahnya menawarkan kompensasi berupa tanah beserta bangunan yang letaknya di Borong. Meski kondisi banguanan yang ditawarkan tidak lebih baik, Daeng Lallo terpaksa menyetujui tawaran si pengusaha, kini rumah itulah yang menjadi tempat kediamannya hingga kini.

Bekerja sebagai tukang becak dengan penghasilan tak tetap, juga jam kerjanya yang terkadang melampaui, membuat Daeng Lallo sering sakit-sakit. Hal itu disebabkan usia Daeng Lallo yang semakin uzur, kakinya tak mampu lagi mengayuh pedal terlalu lama seperti dulu. Tapi ia tetap bertahan beberapa waktu, sampai ia mendengar dari salah satu rekannya yang bekerja di Kampus UMI pada Juli tahun 2000, bahwa Kampus UMI mencari petugas kebersihan. Waktu itu petugas kebersihan di Kampus UMI bekerja sejak pukul 05.30 WITA sampai pukul 11.00 WITA. Mendengar bahwa petugas kebersihan di UMI tidak bekerja selembur ketika mengayuh becak, Daeng Lallo pun tertarik untuk bekerja di UMI, esoknya ia memutuskan pergi ke UMI untuk memohon pekerjaan.

“itu hari saya melihat teman-teman, kenapa cepat sekali pulang kerja? Jam sepuluh sudah pulang mi, saya tanya kerja apa? teman bilang kerja petugas kebersihan di kampus UMI. Karena itu saya bilang diteman misalnya kalau ada pekerjaan lagi, tolong dikasih tahu” Katanya. Saat itulah merupakan awal Daeng Lallo bekerja di UMI.

Kaki kanannya yang kini cacat, mempunyai kenangan tersendiri. Ia bercerita bahwa itu bermula ketika memperbaiki atap rumah. Hari itu musim hujan, oleh karenanya Daeng Lallo terlebih dahulu mengerjakan atap yang belum rampung, dinding rumah yang berlumut dan licin membuatnya tak dapat menjaga keseimbangannya. Ia pun jatuh, kaki kanannya yang membentur batu, membuat tulang pahanya bergeser. Karena kecelakaan tersebut, Daeng Lallo tak bisa lagi berjalan normal. Karena kecelakaan itupula, ia tak bisa lagi berjalan jauh. Saat ia berjalan 100 meter saja, ia akan merasakan nyeri di pinggangnya.

“waktu itu jatuh, sampai sekarang kaki ku tidak sama panjang. Tidak bisa lagi jalan jauh” ia berkenang tentang kejadian hari itu.

Kini Daeng Lallo telah bekerja di UMI, 14 tahun bekerja di UMI sebagai pekerja kebersihan. Ia hanya menerima gaji Rp.800.000 per bulan dari Yayasan. Tentu ini tak cukup untuk membiayai hidupnya dan keluarganya. Untuk pergi ke kampus dan kembali ke rumah, ia perlu ongkos angkot, ditambah lagi ia perlu naik bentor untuk masuk ke dalam karena rumahnya yang agak jauh dari akses angkot. Banyak yang beranggapan bahwa pihak yayasan perlu menganggarkan biaya operasional bagi orang-orang yang telah sepuluh tahun lebih mengabdi untuk UMI, seperti Daeng Lallo.

Namun hingga hari ini Daeng Lallo masih tetap mengabdi untuk UMI dan berterima kasih pada UMI, karena menurutnya UMI masih tetap peduli dan percaya padanya, meski dengan segala kekurangan yang dimilikinya.

“kita mengabdi di UMI, karena UMI masih peduli. Mungkin kalau saya kerja diluar, saya yang jalannya saja setengah mati, mungkin lama mi tidak lagi bekerja disini”

Mahasiswa yang sering nongkrong di Mesjid Umar bin Khattab UMI, tentu tak asing melihat Daeng Lallo, pria tua ini sering di mesjid, bahkan ia tak mau pulang cepat meski tugasnya telah selesai. Ia lebih memilih menikmati suasana kampus yang telah akrab dengannya sejak 14 tahun silam, ia senang melihat mahasiswa berkumpul dan berdiskusi, menurutnya itu baik. Ia selalu mengenang dan masih memendam secercah harapan, agar cucu-cucunya dapat merasakan hal yang sama.

“saya suka lihat mahasiswa bermusyawarah, serius belajar di mesjid. Semoga cucuku bisa begitu juga” ia berharap.

Setelah ditanya tentang pendapatnya mengenai mahasiswa yang sering melakukan bentrokan, ia hanya menjawab “biasanya saya nonton ji” ucapnya sambil tertawa..

Penulis: Ayi Walacea
Red: Kambuna

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *