Hakikat Mahasiswa dan Sistem Cerdas

Ilustrasi Hakikat Mahasiswa dan Sistem Cerdas. /Sumber : www.google.com

Cakrawalaide.com – Mahasiswa adalah social of control, begitulah julukan masyarakat terhadap seorang mahasiswa untuk menyemangati sebuah perubahan pada masyarakat ke arah yang lebih baik. Namun, ketika dihadapkan dengan beragam masalah, bagaimanakah harusnya mahasiswa bersikap ? bagaimana dengan sebuah sistem cerdas ? apa kaitan antara mahasiswa dengan sistem cerdas ?

Sekadar menyegarkan kembali ingatan mahasiswa terkait sebuah gerakan rakyat di Indonesia yang merespon keruntuhan ekonomi akibat krisis finansial ASIA 1997 pada pemerintahan orde baru, dimana gerakan ini didominasi oleh mahasiswa dan selalu menjadi spirit tersendiri dalam bingkai gerakan mengkritik pemerintahan,sayangnya gerakan rakyat kala itu sangat jauh dari benih-benih realitas gerakan hari ini yang menumbuhkan rasa skeptis akan terulang di era digital seperti sekarang. Semangat gerakan 1998 hanya  mampu jadi tontonandibalik layar empat inchi hingga puluhan inchidengan semangat perjuangan yang berkobar pula, gerakan tersebut sangat jauh berbeda dengan gerakan hari ini sehingga harapan menemui gerakan seperti itu pada hari ini adalah ekspektasi semata. Dengan bermodalkanmedia informasi yang sangat minim ditambah lagi represif pemerintahan yang tak terelak, mahasiswa tak hentinya  melakukan transaksi informasi dengan masyarakat dari mulut ke mulutyang terus dimassifkan, ideologi makin menyatu, perlawanan makin sesak hingga akhirnya tumpah ruah ke jalan, kondisi saat itu benar-benar muak,aparatur negara lariterbirit-birit, jumlah mereka lebih kecil dari masyarakat yang menuntut. Kerusuhan tak terelakkan hingga meregang 3 (tiga) Mahasiswa Universitas Trisakti menelan peluru milik negara dalam raganya yang para militer harusnya lebih bijak atas hak picunya.

Peristiwa tersebut bukanlah tanpa ketegangan dan bukan semata-mata drama masyarakat Indonesia, bukan pula ajang unjuk  pahlawan darimahasiswa di berbagai kampus, namun apapun tuduhan kepentingan dari masing-masing individu dalam kerusuhan pada bulan Mei sembilan belas tahun lalu, yang pasti adalah sebuah konsekuensi dari sebuah perjuanganbahwa akan selalu ada air mata dikandungnya. Beberapa video di youtube yang menayangkan pedihnya perjuangan kala itu merupakan tamparan keras melihat gerakan mahasiswa hari ini. Hembusan nafas terakhir 3 (tiga) mahasiswa Universitas Trisakti sebaiknya menjadi nafas baru bagi mahasiswa hari ini untuk terus menghidupkan perlawanan pada ketidakadilan yang diproduksi oleh negara dan penindasnya.

Lagi pula mahasiswa hari ini dengan suara lantang menyuarakan tuntutannya di jalan sembari menyanyikanlaguketidakadilan, jangan tinggi hati mencela orasimahasiswa 1998, dengan begitusama saja meginginkan masa yangpanjang untuk orba. Orasi tersebut tampak relevan dengan zamannya dimana telepon seluler belum terlalu menyentuh saraf-saraf otak mahasiswa. Sumber ilmu pengetahuan tampak jauh. Namun, tanyakan kembali pada mahasiswa jika orasi buruk saja mampu menumbangkan Presiden, bagaimana dengan orasi yang diagung-agungkan keilmiahannya pada hari ini ? kita bisa melihat bahwa kritik gerakan hari ini bukan sekadar terletak pada kualitas orasi namun juga pada kuantitas yang menyuarakan kedengkian yang sama. Apakah kamu percaya bahwa kuantitas selalu mempengaruhi kualitas ? berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memindahkan meja berukuran 10 meter dengan memindahkannya sendiri dibandingkan dengan adanya bantuan oleh 10 atau 20 orang ? tentu saja, jawabannya statis, yakni semakin banyak orang yang membantu maka semakin cepat pula meja tersebut berpindah, begitu pula konsep dalam sebuah gerakan demi menggapai tujuan yang dicita-citakan.

Gerakan mahasiswa yang menumbangkan seorang presiden di zaman yang otoriter karena menciptakan beragam pelanggaran HAM di masanya. Meski dianggap peluang keburukan pada rezim orba sangat relevan mengingat masa jabatan Soeharto yang membentuk tim kerja yang disebut kabinet pembangunan hingga mencapai kabinet pembangunan VII maka selama 32 tahun memimpin namun akhirnya secercah keadilan menuai cuaca cerah, Soeharto lengser dari kepemimpinannya mengingat desakan rakyat beserta para menteri dan kabinetnya, hal ini merupakan sebuah catatan sejarah pergerakan di Indonesia, terlebih lagi beberapa masyarakat Indonesia hingga ssat ini masih mempercayai jika gerakan yang mencuat dengan istilah tragedi 1998 tersebut adalah gerakan mahasiswa, artinya bahwa pandangan intelektual mahasiswa hari itu mampu tersampaikan dan mampu menggerakkan akal dan hati masyarakat untuk turun ke jalan. Lantas bagaimana intelektual mahasiswa hari ini ?

Hari ini dengan banyaknya permasalahan yang perlu direspon oleh mahasiswa, buruh, petani dan masyarakat lainnya mengakibatkan konsentrasi perlawanan pecah sehingga hanya tampak sebagai semangat perlawanan yang menggebu, merespon permasalahan hanya di hari-hari tertentu yang dilegalkan oleh pemerintah dalam bingkai kalender, tentu saja ekspresi kita kembali dijinakkan dengan pola pikir menunggu waktu yang tepat untuk merespon isu A, B, C, atau Z. Bukan hanya negara yang membatasi waktu merespon isu namun rasa juga spirit perlawanan saat tidak berminat juga membatasi, hal ini telahsewajarnya terjadi sebagai bentuk respon dari diri  melihat perjuangan hari ini terkesan tak mampu memproduksi buah yang dianggap manis dari sebuah gerakan sehingga memilih untuk berdiam diri bukan lagi pilihan tetapi kebutuhan sebahagian mahasiswa. Perspektif ini terkandang dalam akal sebahagian mahasiswa teknik informatika yang lebih memilih ngoding  daripada harus turun ke jalan merespon isu yang mereka anggap penting namun metode turun ke jalan bukanlah solusi menurut sebahagian besar diantara mereka. Rasa kebencian jelas tergambarkan kepada beberapa gerakan mahasiswa yang merespon isu dengan melayangkan selebaran sembari menutup jalan, kemacetan hingga berpuluh kilo meter pun menjadi wacana yang merusak citra gerakan mahasiswa dihadapan masyarakat juga mahasiswa lainnya, belum lagi jika seorang supir angkutan umum yang harus memelas kasihan terhadap mahasisiwa agar diberi jalan melewati titik aksi yang telah menjadi sarang ban mobil dan kepulan asap kianjadi saksi pada tuhannya, siapakah yang ia benarkan ? pemerintah yang berbuat dzalim ataukah mahasiswa yang menutup jalan tersebut ? melihat asap yang mengepul ke langit, mahasiswa tentunya berharap ketidakadilan yang sedang terciptalah tersampaikan pada tuhan pemilik hati nurani yang maha akan kepekaan-Nya.

Bercermin Pada Sistem

Di sisi lain, mahasiswa lainnya yang tak turun ke jalan berdoa depan layar komputer, berpikir kerasdapat membuat sistem yang cerdas untuk para birokrat kampus dan birokrat pemerintahan. Tentunya tanpa disertai nalar kritis, mereka tinggallah budak yang sesukanya sang analisis sistem membuat algoritma pada programmernya. Kita semua tahu bahwa sistem cerdas memang diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menyelesaikan pekerjaannya, misalnya saja di Indonesia kekurangan dokter spesialis penyakit jantung, maka dengan adanya sistem cerdas yang kerjanya hampir menyerupai kerja manusia, yakni dinamis dalam menjawab segala permasalahan layaknyamendiagnosa sebuah penyakitjantungyang mirip dengan seorang pakar, secara singkat yang mudah kita pahami dalam praktik pembuatan sistemnya adalah sistem yang belum dibekali kecerdasan buatan hanya mampu menjawab ya atau tidak, namun dengan sistem yang dibekali kecerdasan buatan,  mampu menjawab pertanyaan dengan penjelasan berupa kalimat. Contoh lain sistem yang memiliki kecerdasan buatan adalah traffic lightyang peka terhadap pengendara, dimana lampu yang berwarna hijau akan menyala saat tak ada pengendara lain yang berlawanan arah, begitu pula dengan air conditioner(AC)yang suhunya meningkat atau menurun sesuai dengan sensor terhadap jumlah manusia yang ada dalam ruangan tersebut.

Dalam beberapa kasus diatas mencerminkan bahwa sistem didefinisikan sebagai sistem cerdas bukan kerena bentuk atau warnanya melainkan sifat dinamis mirip manusia yang dimiliknya, semakin dinamis sebuah sistem maka semakin tinggi pula apresiasi masyarakat melihat perangkat itu bekerja, semua tergantung dari bagaimana seorang analisis sistem mampu mengarahkan programmer bekerja sesuai tujuan dan bagaimana si programmer  memiliki kemampuan untuk menciptakan sistem yang cerdas. Jika keduanya belum professional dalam artian masih berstatus mahasiswa maka dalam pembuatan sistem cerdas itu sendiri terbentuk kaum pemikir dan kaum pekerja, meski keduanya harus mampu berinteraksi satu sama lain menggunakan bahasa pemrograman. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa masyarakat diluar sana masih menyamakan seorang programmer sebagai tukang batu sedangkan seorang analisis sistem sebagai mandornya yang senantiasa memberi instruksi dan tukang batusenantiasa mengerjakan segala instruksi dengan terus mawas diri mengasah kemampuan membangun dan mengembangkan sistem untuk membekali diri seadanya dengan dua kemampuan tersebutmeskisangat mustahil menyempurnakan kemampuan keduanya dalam diri seorang mahasiswa teknik informatika, meskipun satu hingga dua orang dianggap mampu memadukan dua kemampuan tersebut. Apa lagi yang kita harapkan dari mahasiswa teknik informatika ?

Hakikat Mahasiswa Terlupakan

Seksama kita ketahui tanggung jawab intelektual terhadap disiplin ilmu yang ia tekuni sejak awal adalah tanggung jawab besar, karena dalam beberapa kepala masih mengiyakan bahwa sebuah kemampuan dalam bidang ilmu yang kita geluti adalah bukti kecerdasan seseorang, bukan lagi bagaimana kau peduli dengan kata kemanusiaan dan perbudakan. Kelaparan yang merajalela bukan lagi bagian dari hakikat mahasiswa. Melainkan disiplin ilmu yang mampu menciptakan sebuah aplikasi dianggap kemewahan dari intelektual seorang mahasiswa teknik informatika. Namun, pertanyaannya siapakah pemilik apikasi tersebut ? apakah nalar kritis mahasiswa teknik informatika yang tertuang dalam sebuah aplikasi ditujukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat ?

Sesuai dengan salah satu komitmenTri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat,kita tahu bersama bahwa beberapa tahun silam, mahasiswa selama berbulan-bulan lamanya mengabdi pada masyarakat dengan melawan penjajah, hingga hari ini pengabdian itu terbalas dengan menjauhkan lingkungan mahasiswa dengan masyarakat pedesaan, apakah ini tuntutan dari birokrasi kampus ataukah pilihan dari mahasiswa itu sendiri untuk mengabdi mewah di perusahaan-perusahaan yang kemajuan teknologinya begitu pesat dari pedesaan, bak langit dan bumi. Setiap ruangan dalam gedung tersebut dimanjakan oleh sistem cerdas, mahasiswa tidak usah mendorong pintu, dengan dibekali sensor pada pintu yang mampu mendeteksi suhu tubuh manusia maka pintu akan bergerak sendiri dan memberikan ruang bagi manusia untuk memasuki gedung mewah tersebut. Tak cukup sampai disitu, sistem cerdas yang diletakkan pada hand dryer yang mampu mengeringkan tangan dalam waktu sekejap juga anugerah yang tak tertandingi kenikmatannya.Dari berbagai perangkat yang telah disisipi sebuah kecerdasan buatan, hendaknya mahasiswa tidak terbuai untuk turun ke jalan mengampanyekan isu yang terjadi di negara tua ini, tak jua menyampingkan sifat bermewah-mewahan sehingga angkuh mengabdi pada kepentingan masyarakat. Namun, siapakah masyarakat yang dimaksud dan berwenang untuk diabdikan ?

Jawabannya ada pada tugas akhir dari seorang mahasiswa teknik informatika yang kecerdasannya bukan lagi sekadar melihat caranya mengoperasikan komputer melainkan aplikasi yang diciptakan pasca menyelesaikan kuliah tatap muka. Di negara Indonesia mengenalnya dengan skripsi, dalam dunia teknik informatika, selemah-lemahnya pengetahuan tentang ilmu komputer tentu saja dilihat dari model sistem yang diciptakan, apakah statis atau dinamis ? jelas mahasiswa tak bersalah dalam maksimal pemanfaatan sistem yang terbangun, karena disadari, dosen pembimbing yang berjumlah dua hingga tiga orang adalah pengarah ide sekaligus pemilik isi kepala mahasiswa bimbingannya, bayangkan saja mulai dari tujuan, alur hingga bahasa pemrograman yang digunakan untuk membangun sebuah sistem harus ditentukan oleh mereka yang telah merasa kenyang ilmu komputer. Sadar atau tidak sadar, mahasiswa teknik informatika bukanlah sekadar seorang programmeryang hanya mencari potongan codedi mesin pencari google lalu mem-buildnya dalam editor pembangun aplikasi. Mereka juga pantas menjadi pemilik dari isi kepala mereka sendiri terhadap sistem yang akan dibangun. Tak jua terlepas dari hakikat seorang mahasiswa yang masih dilekatkan dengan intelektualnya, bukan sekadar intelektual membangun sistem namun menanggapi kebijakan pemerintah dalam mengarahkan negara adalah tugas bersama, bukan sekadar mahasiswa yang duduk di fakultas hukum namun mahasiswa ilmu komputer juga harus mampu menganalisa setiap kebijakan dari pemerintah. Demi apa ? demi memperbaiki tatanan negara dimana mahasiswa teknik informatika melangsungkan hidupnya untuk makan, minum dan tidur. Negara ini terlalu sempit jika hanya digunakan untuk sekadar ngoding, berpura-pura tuli dengan julukan mahasiswa dan berpura-pura bodoh dengan sejarah gerakan mahasiswa.

Pada kenyataannya, hakikat dari seorang mahasiswa dan sistem cerdas adalah relasi yang berjalan searah, bukan berlawanan arah seperti beberapa alasan mahasiswa teknik informatika yang menolak terlibat dalam sebuah gerakan mahasiswa karena kurungan laboratorium yang terus dimassifkan agar output sarjana ilmu komputer mampu berguna bagi masyarakat dengan disiplin ilmunya, siapa yang bisa menjamin dosen tak memperdagangkan aplikasi dari mahasiswa teknik informatika ? mari bernalar, jadikan status mahasiswa sebagai perlawanan, penolakan terhadap kepatuhan serta sistem cerdas sebagai solusi dari ketidakadilan di negeri ini. Seperti halnya sebuah sistem cerdas yang dilengkapi dengan sensor atau kepekaan, mahasiswa teknik informatika haruslah bercermin pada sistem tersebut, lebih dinamis dan lebih peka pada persoalan-persoalan yang ada pada masyarakat, dimana kepedihan masyarakat adalah kumpulan luka pada tubuh manusia yang perlu dirasakan jua oleh seluruh kalangan mahasiswa termasuk mereka yang bercita-cita menjadi seorang programmer.

Penulis : Israwati Nursaid

Editor   : Hasim

 

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *