Intro Mahasiswa Baru

Suasana Pelataran Baruga A.P. Pettarani Unhas.
Suasana Pelataran Baruga A.P. Pettarani Unhas.

Makassar, cakrawalaide.com— Pelataran Baruga Pettarani sore itu terlihat ramai, ada banyak mahasiswa yang menggunakan pelataran gedung besar ini. Ada kelompok mahasiswa yang latihan teater, yang berlari-lari tanpa alas kaki, mahasiswi perempuan yang latihan menari dan mahasiswa yang lalu lalang selepas kuliah.

Disisi lain pelataran ini, ada tali yang teringat diantara dua tiang yang diatasnya terjepit banyak foto tentang reklamasi, berbagai macam poster, lapakan buku, spanduk besar berisi seruan protes serta kerumunan orang yang khidmat mengikuti diskusi.

Kegiatan yang mereka beri nama “Intro” ini adalah rangkaian pengkaderan yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Hasanuddin ( HIMAHI UH ).

Zulmy, ketua Himahi Bercerita bahwa kegiatan ini adalah intro atau pengantar untuk mahasiswa baru.

” Mereka harus tau siapa mereka, sebagai seorang mahasiswa apakah hanya belajar di kelas, apa tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa dan nilai apa yang mereka yang pegang “, dia bercerita tentang tujuan kegaiatan ini.

Kegiatan Intro ini adalah salah satu rangkaian dari proses pengkaderan yang telah disusun oleh pengurus HIMAHI. Ada 3 tahap yang nantinya akan dilaksanakan selama 1 semester mendatang.

Untuk tahun ini mahasiswa baru jurusan Hubungan Internasional berjumlah 52 orang. Pada kegaiatan ini, panitia pelaksanya adalah mahasiswa baru, semua mahasiswa baru terlibat dalam kegaiatan ini dan semua rangkaian pengkaderan.

Persiapan kegiatan ini membutuhkan waktu seminggu. Pada pelaksanaanya, ada beberapa item yang ditampilkan oleh mahasiswa baru antaranya, musikalisasi puisi, menyanyi, lapakan buku, pameran foto dan poster serta acara hiburan lainnya.

Sebelumnya mahasiawa baru tersebut telah melakukan kunjungan ke CPI(Central Point of Indonesia) dan melakukan aksi penolakn terhadap reklamasi. Menurut keterangan Zulmi bahwa ini merupakan bagaian awal agar mahasiswa baru dekat dengan kondisi masyarakat.

Pada bagaian diskusi publik, Edy yang merupakan tim hukum Aliansi Selamatkna Pesisir ( ASP ) dan juga seorang pengacara publik Lembaga Bantuan Hukuk (LBH) Makassaar mengatakan bahwa, reklamasi adalah tindak kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah. PEMPROV Sulawesi Selatan tidak punya wewenang untuk melegalkan reklamasi. Reklamasi melanggar prosedur hukum serta merusak mata pencaharian masyarakat.

“Para aktor perusak lingkungan sudah mengkonsolidasikan diri dalam agenda reklamasi pesisir Makassar. Olehnya itu, kita juga harus mengkonsolidasikan diri kita semua “. Tutur Edy.

Mahasiswa harus melakukan sesuatu, untuk konteks mewujudkan perubahan sosial, kelompok mahasiswa harus mengambil bagian. Karana untuk membatalkan reklamasi dan agenda-agenda perjuangan lain yang dibutuhkan adalah gerakan rakyat.

Dalam pemaparannya, dia menjelaskan bahwa perjuagan secara substansi adalah perjuangan mahasiswa melebur bersama rakyat. Perjuangan ketika dilakukan sendiri adalah mahasiswa adalah perjuangan yang lemah.

Karena hal demikian, ada beberapa hal yang harus dilakukan mahasiswa, antara lain, Membaca apa yang dibutuhkan oleh rakyat dan keinginan rakyat itu sendiri. Tak cukup itu saja, mahasiswa harus turun ke masyarakat untuk melakukan pendidikan politik.
Menjelaskan kepada masyarakat apa yang menjadi hak dan yang perlu mereka perjuangkan.

Salah satu mahasiswa baru yang kami wawancarai mengatakan bahwa kegiatan ini sungguh berkesan buat mereka sebagai mahasiswa baru. Syarif salah seorang dari mahasiswa baru yang sempat kami wawancarai mengatakan bahwa ternyata yang diajarkan kepada kami bukan hanya teori, tetapi juga persoalan bagaiamana melakukan sesuatu.

Sebelum mengikuti kegaiatn ini, dirinya menganggap bahwa reklamasi itu bagus, karena akan membuat pembangunan yang besar-besaran dan akan menjadi simbol baru kota Makassar. Setelah mengikuti diskusi ini, dia kemudian mengetahui bahwa ternyata reklamasi mengandung banyak masalah, merusak lingkungan, membunuh mata pencaharian masyarakat.

Dia menceritakan bahwa sudah banyak warga yang telah menjadi korban, pembakaran rumah, pembakaran kapal serta berbagai tindakan tidak adil kerap mereka dapatkan.

Penulis : Cappa

Red : Rifai Rahayaan

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *