Jelang Penerimaan Maba, 1 Mahasiswa UMI Meninggal Saat Mengikuti Pengkaderan

Makassar, cakrawalaide.com – Dunia pedidikan di Makassar sedikit tercoreng disebabkan salah satu mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) meninggal dunia akibat mengikuti proses pengkaderan Study club di desa tombolo, malino kabupaten gowa.

Saat ini Universitas Muslim Indonesia sedang membuka penerimaan mahasiswa baru untuk tahun ajaran 206/2017. Tetapi dalam mempersiapkan penerimaan mahasiswa baru, kampus UMI di rundung duka atas berpulangnya rezky evienia syamsul mahasiswi fakultas kedokteran angkatan 2014 yang tak sadarkan diri saat mengikuti proses pengkaderan team bantuan medis (TBM) hingga meninggal dunia pagi tadi di rumah sakit wahidin sudirohusodo.

Beberapa mahasiswa memberikan komentar atas kejadian ini, salah satu mahasiswa fakultas hukum, asrul mengatakan, hal ini bisa mencoreng citra kampus islami yang saat ini melekat di UMI. “kejadian ini sangat memalukan kampus UMI apalagi ini terjadi di fakultas kedokteran yang sejak dulu tidak memiliki stigma negatif tentang pengkaderan,” katanya.

Lain halnya yang diungkapkan Naim mahasiswa fakultas teknologi industri yang berpendapat bahwa, kegiatan pengkaderan di kampus UMI sekiranya sudah di hilangkan dan diganti dengan pencerahan qalbu di padanglampe. “bukan nya UMI telah dari dulu melarang mahasiswanya untuk beraktifitas pengkaderan ke mahasiswa junior, kalau ini terbukti bubarkan saja proses di padanglampe kalau masih saja ada pengkaderan yang dilakukan di kampus,” ujarnya

Hal senada juga di utarakan winda bestari mahasiswa sastra, ia beranggapan kematian rezky bisa saja menjadi bumerang bagi universitas jika tidak di selesaikan dengan baik karena ini berkaitan dengan citra kampus apalagi saat ini UMI di sibukkan dengan proses penerimaan baru. “kampus harus mengeluarkan statetment terkait kejadian ini apabila hal ini berbau kekerasan, tolong ditindaki semaksimal mungkin,” ungkapna

Diharapkan pihak UMI bisa secepatnya menyelesaikan kejadian ini apabila hal ini bersinggungan dengan kekerasan, sudah seharusnya ditindaki tanpa memandang fakultas apa pun yang coba-coba melakukan kekerasan di UMI.

penulis : Hutomo
Red : Mari

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *