Kesepian dan Keterasingan Sang Guru

Kesepian Dan Keteransingan Sang Guru. / Sumber : www.google.com
Kesepian Dan Keteransingan Sang Guru. / Sumber : www.google.com

Makassar, cakrawalaide.com – Saya tak pernah dengar namanya sebelumnya. Saat mengunjungi toko buku langganan, saya menemukan novel karya penulis Norwegia Dag Solstad. Novel  yang tanpa bab demi bab ini, yang jauh berbeda dengan beberapa novel yang pernah saya baca sebelumnya. nyaris tanpa paragraf, saya diajak untuk terus membacanya hingga cerita novel ini bisa saya selesaikan.

Di dalam novel yang tak terlalu tebal ini, saya menemukan seorang guru sastra Norwegia yang telah lama menjalani profesi sebagai seorang guru sastra Norwegia. Guru yang bernama Elias Rukla ini  adalah tokoh utama dalam novel yang berjudul Aib dan Martabat (versi Bahasa Indonesia).

Elias Rukla mengajar disalah satu sekolah menengah di kota Oslo Sebagai guru sastra Norwegia, setiap tahunnya kepada murid-muridnya, ia akan selalu  mengajarkan  drama Itik Liar karya Hendrik Ibsen. Setiap perjumpaan diruang kelas, bertatap muka dengan para murindya, ia menemukan kejenuhan, malas dan rasa frustasi yang tergambar dari raut wajah dan tingkah para muridnya setiap bertatap muka dengannya. Ia menemukan aksi para murid yang begitu gembira dan langsung berlari ketika mendengar bunyi bel. Rutinitas ini  yang membuat dirinya merasa sepi dan merasa apa yang ia lakukan adalah sia-sia.

Ia merasa kesepian dengan pekerjaannya itu, ia menemukan anak-anak murid yang tidak tertarik terhadap sastra Norwegia yang ia ajarkan. Dua puluh lima tahun ia menjalani kehidupan menjadi seorang pengajar untuk sebuah warisan kesusastraan Norwegia yang menurutnya harus dilestarikan.

Elias Rukla melihat sastra sebagai salah pencapaiaan terbaik umat manusia. Ia sempat terharu dengan salah satu temannya yang juga seorang guru Matematika  yang suka dengan sastra tak seperti dengan murid-muridnya yang bertatap langsung dengannya di depan kelas yang tak jarang justru memunculkan kebencian terhadapnya.

Masa lalunya, sebelum ia menjadi guru, ketika melanjutkan kuliahnya, ia bertemu John Corneliussen mahasiswa filsafat yang dianggapnya begitu cerdas dan  pemikir yang sangat ia kagumi.  Sebagai mahasiswa S2 Ketika kuliah ia harus belajar filsafat sebagai mata kuliah dasar untuk mahasiswa sastra Norwegia. John Corneliussen adalah seorang pengagum Marx dan Filsuf Imannuel Kant yang berpacaran dengan gadis pujaan Elias Rukla. Kekaguman kepada perempuan yang bernama  Eva Linde dibawanya sampai Eva dan John menikah dan memiliki anak yang mereka beri nama Camilla.

John yang merupakan sahabat dekat Elias Rukla ini, tiba-tiba meninggalkan Eva Linde dan anaknya demi mengejar hidup yang dianggapnya realistis dan harus ia kejar. Lantaran hal tersebut, Eva dan Elias memilki hubungan yang cukup dekat yang berujung pada pernikahan antara keduanya.

Eva Linde sosok perempuan yang padanya terdapat paras cantik yang membaut Elias Rukla begitu mengaguminya ketika dirinya masih muda, sebagai seorang lelaki ia berharap dimasa depan ia bisa hidup seatap dengan Eva. Hal tersebut benar-benar telah terjadi dikehidupannya.

Kehidupan rumah tangga mereka berjalan sangat sederhana, tatapi sosok perempuan yang telah tidur serumah dan seranjang denganya, tak terlalu dekat dengannya. Eva seakan menutup diri kepada suaminya. Tanggung jawab sebagai seorang istri seakan hanyalah sebuah tindkan yang dilaksanankan antara tuan dan majikan. Elias merasakan hal terebut dan menjalani itu sebagaimana adanya walaupun sebenanya dirinya tak menginginkan hal tersebut.

Pada sebuah peristiwa pagi penuh amarah telah memicu amarahnya keluar dari dirinya, saat payung yang dibawanya tak bisa ia buka dan tak bisa ia gunakan ia kemudian membanting payung tersebut. Peristiwa emosional yang dilakukanya itu disaksikan oleh muridnya yang memicu kata kata kasar dkeluar dari mulutnya. Peristiwa tersebut adalah peristiwa yang mamalukan yang membuat dirinya malu kepada murid, rekan-rekan guru. Peristiwa tersebut membuat dirinya memutuskan untuk menyudahi rutinitasnya sebagai seorang guru.

Saya melihat Elias Rukla sebagai seorang guru yang kesepian dalam menjalani profesinya sebagai seorang guru, banyak pertanyaan yang berputar dalam pikirannya tentang apa yang setiap hari dan telah lama  ia lakukan, tentang istri yang tak pernah mengucap kata sayang padanya yang membaut dirinya seakan berfikir sendiri. Ia telah mengakhiri semua kesepiaan dan keterasinganya pada peristiwa pagi itu. Iya dan ia telah melakukannya.

Penulis : Ady Anugrah Rasyak

Red : Hutomo Mariadi Putra

 

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.