Membaca Karya Sastra Terakhir Saddam Hussein

Ilustrasi Tarian Setan Saddam Hussein.
Ilustrasi Tarian Setan Saddam Hussein.

Makassar, cakrawalaide.com – Saddam Hussein yang Selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh politik berpengaruh di Irak. 18 tahun ia berkuasa sebagai seorang presiden Irak, dan setelah itu ia harus jatuh dari puncak kekuasaan melalui sebuah cara yang mungkin ia tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Melalui sebuah invasi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dibantu sekutunya Inggris, Saddam Hussen kemudian ditangkap dan diadili sehingga harus meninggalkan tanah airnya untuk selamanya. Tahun 2006 dia menghembuskan napas terakhirnya diatas sebuah tiang gantung setelah mendapatkan vonis bersalah oleh pengadilan.

Tarian setan adalah novel terakhir yang ditulis Saddam Hussen yang menjadi tanda terakhir perjalanan kesusastraanya. Dia adalah salah satu dari beberapa tokoh politik yang cukup berpengaruh yang memiliki kemampuan menulis sastra. Jose Rizal, Che Guevara, Marcos adalah beberapa nama yang punya kemampuan dalam menulis karya sastra. Tak hanya itu, mereka menjadikan karya sastra sebagai medium untuk melakukan perlawanan terhadap situasi ( ketidakadilan) yang mereka alami.

Penulisan novel ini dan beberapa karya Saddam Hussen sebelumnya Masih menjadi perdebatan. Ada beberapa pengamat sastra yang meragukan bahwa novel ini adalah hasil pemikiran dan kerja penulisan dari Saddam Hussen. tapi sebagian besar meyakini bahwa novel ini merupakan benar-benar karya sastra dari sang Presiden.

Sebagai seorang Presiden Irak yang telah berkuasa sejak tahun 1979, Saddam Hussen dikenal sebagai salah satu pemimpin yang berani bersebrangan dengan negara adidaya Amerika Serikat. Dua hari sebelum kejatuhannya anaknya melarikan naskah novel ini ke Yordania. Walaupun sempat mendapat banyak pelarangan dari berbagai pihak, novel yang judul aslinya ” Akhreej minha Ya Mal’un ” akhirnya beredar luas termasuk di Indonesia.

Novel ini berlatar masyarakat Arab sekitar tahun 1500 SM yang terdiri dari beberapa kabilah-kabilah (suku) yang hidup damai satu sama lain.’Hasqil adalah tokoh antagonis dalam novel ini. Hasqil adalah salah satu dari 3 bersaudara yang hidup dan tinggal bersama kakeknya bernama Ibrahim. Sedangkan dua orang saudaranya bernama Mahmud dan Ismail. Ayah dari tiga bersaudara ini telah meninggal dunia sehingga ketiganya tinggal bersama kakek dan neneknya yang mereka panggil layaknya Ayah dan Ibu kandungnya.

Hasqil hidup dalam keluarga yang memegang teguh ajaran agama Islam yang dianutnya. Ibrahim kakeknya adalah salah satu pemuka agama yang sangat dihormati oleh masyarakat dikabilahnya.

Namun Hasqil sangat berbeda dengan kedua saudaranya, dia kemudian menjadi orang yang sangat memuja kehidupan dunia, seolah-olah dunia adalah tempat terakhir dari proses kehidupan. Keinginan itulah yang membuat dirinya melakukan segala cara agar dapat mengumpulkan harta sebanya-banyak tak peduli cara apa yang harus ditempuh. Akibat sikap dan perilakunya itulah, ia kemudian meninggalkan diusir keluarganya dan mencari kehidupan sendiri untuk memuaskan hasrat dunianya.

Dia kemudian menjadi seorang pedagang, dilingkungan barunya ia menjadi seorang penjual senjata. Agar barang dagangannya laku maka ia kemudian mengadu suku-suku agar saling berperang satu sama lain. Dia juga kemudian bekerjasama dengan orang orang asing yang dalam novel ini disebut bangsa Romawi ( Non Arab ) untuk kemudian menggapai kekuasaan politik dan akumulasi ekonomi yang semakin besar.

Dengan cara yang picik ia kemudian manjadi kepala suku secara tidak wajar, Yang dalam tradisi Arab pada waktu itu tak membolehkan seseorang menjadi kepala suku apabila tak berasal dari suku asli kabilahnya. Namun, dengan kekuatan uangnya dan bantuan dari pihak asing ia kemudian berhasil mendapat kekuasaan politik ditempat ia menetap.

Tak semua orang menerima Hasqil sebagai kepala suku mereka yang baru, sekelompok pemuda kemudian memutuskan tak akan menerima Hasqil sebagai kepala suku dikarenakan hal tersebut melanggar tradisi yang telah dipercaya selama bertahun tahun oleh suku mereka. Dari peristiwa tersebut mengaku akan melakukan sebuah pemberontakan atas kekuasaan Hasqil.

Tak hanya itu, untuk memperkuat legitimasi kekuasaanya ia kemudian berencana menikahi istri kepala suku yang telah menjanda karena suaminya telah meninggal dunia melalui sebuah pembunuhan yang terencana yang dilakukan oleh Hasqil.

Pemuda tersebut yang tak setuju dengan kekuasaan Hasqil kemudian mengorganisir diri untuk melawan kekuasaan Hasqil. Mereka kemudian mengorganisir masyarakat dan kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan perlawan terhadap kekuasaanya.

Dalam novel tersebut digambarkan Kehancuran yang terjadi didalam masyarakat Arab yang terdiri dari berbagai kabilah-kabilah dikarenakan sikap masyarakat dan para pemuka-pemuka masyarakat meninggalkan tradisi yang telah dijaga secara turun-temurun yang telah teruji oleh waktu dan kemudian menggantinya dengan sesuatu yang baru datang yang mereka terima begitu begitu saja.

Tak hanya itu, persolan kepemimpinan yang lemah juga menjadi sumber kehancuran. Pihak asing kemudian dianggap dapat menyelesaikan masalah yang timbul yang sebenarnya juga masalah yang dihadapi justru datangnya dari luar ( asing).

Pemberontakan yang dilakukan oleh pemuda tersebut berhasil menjatuhkan kekuasaan Hasqil sebagai kepala suku. Hal tersebut berimbas pada harta kekayaan yang telah ia kumpulkan selama hidupnya sebagai seorang pedagang dan selama ia menjadi kepala suku habis dalam waktu yang sangat singkat.

Kalah dari perang tak lantas membuat para kelompok yang telah berhasil menjatuhkan Hasqil membuat tindakan tak manusiawi terhadap Hasqil dan orang orang asing yang selama ini bekerja sama dengan Hasqil dalam membangun kekuasaan ekonomi dan politiknya.
Ditengah ketakberdayaan tersebut mereka berhenti menyerang dan sama sekali tak membunuh mereka karena sudah tak berdaya lagi. Kekalahan Hasqil dalam pertarungan, membuat dirinya harus jatuh dari kekuasaannya.

Dalam pengantar awal novel ini, diceritakan pada saat kekuatan militer Amerika dan Inggria memasuki kota Bagdad, Saddam Hussen sama sekali tak memunculkan dirinya, dalam pengantar novel dijelaskan bahwa alasan Saddam Hussen tak muncul dikaranakan dia sedang menyelesaikan penulisan novel ini.

Saddam Hussen telah memberikan contoh bahwa berjuang tak harus mengangkat senjata, mengangkat pena adalah salah satu amunisi yang sangat mematikan. Menulis karya sastra adalah salah satu pilihannya. Sampai saat ini kekuasaan yang lalim bukan hanya takut pada moncong senjata, tapi juga sangat takut pada kekuatan tulisan. Maka tidak heran jika kekuasaan memiliki hasrat untuk membakar buku.

Penulis : Cappa
Red : Hutomo

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.