Nestapa Etnis Tiongkok Di Negeri Kebhinekaan

IMG_9903
“Dengan rendah hati aku mengakui : aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orang tua memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat” Pramoedya Ananta Toer

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Daeng, sempat saya diherankan dengan sebuah istilah yang mungkin hampir telah menyatu bahkan mendarah-daging dalam mindset warga Makassar pada umumnya. Istilah yang menurutku unik, agak humoris, namun sekaligus memuat unsur-unsur dehumanisasi atau lebih tepatnya memandang sebelah mata etnis tertentu.

Istilah itu pertama kali terdengar ketika pada tahun 201,1 saya dan beberapa kawan se-fakultasku dijanjikan traktiran alias makan gratis sama seorang teman yang pada hari itu sedang berulang tahun. Namun, dengan alasan tertentu, janji traktiran makan berakhir dengan bualan semata. Langsung saja ada seorang kawan yang agak terbesit rasa kecewa mengumbar istilah aneh itu dengan tekanan suara yang lantang “Deh, di Cinai kita semua sama ……”. Mataku terbelalak mendengar istilah yang pada saat itu masih asing di pendengaranku. Cinai, itulah istilah yang menjadi tanda tanya besar dalam benakku. Apa makna dari istilah itu? Apakah istilah itu merupakan salah satu dari sejuta kosa kata dalam budaya Bugis Makassar?

Namun, makna dari istilah itu membuatku terhenyak. Istilah itu ibarat gelar buruk atau identitas anomali yang dilekatkan kepada siapa saja yang suka menipu dan giat dalam berbohong. Dan lebih mengherankan lagi, istilah itu muncul akibat dari konklusi yang dihasilkan dari proses overgeneralisasi terhadap etnis Tionghoa yang dianggap suka membohongi pelanggan dalam dunia perniagaan atau bisnis. Istilah itu seolah-olah telah menjadi kata baku dalam beberapa momen percakapan sehari-hari.

Keberagaman yang Terbelenggu
Eksistensi etnis Tionghoa di negeri yang telah menobatkan dirinya sendiri sebagai negeri pluralis yang selalu membuka lebar pintunya bagi segala macam etnis, agama, dan budaya ini masih sangat jauh dari apa yang diharapkan. Diskriminasi masih saja mencuat bahkan sejak zaman pra-kemerdekaan. Keadaan tersebut terjadi terus-menerus ibarat air mengalir dan semakin memburuk ketika rezim berganti wajah menjadi Orde Baru yang kental dengan lumpur fasisme (otolitarianisme). Pintu kebebasan ditutup rapat bagi mereka yang berkulit putih dan bermata cipit.

Apalagi pada saat itu, kekejaman sang pemegang otoritas sedang gencar-gencarnya menyebarkan virus-virus kebencian terhadap paham-paham Marxisme, Leninisme, dan Komunisme. Etnis Tiongkok pun dilekatkan dengan paham-paham yang dianggap “terlarang” pada saat itu. Imbasnya, penggebirian Hak Sipil Politik warga Tionghoa tak bisa terelakkan. Bahkan dalam film Dokumenter karya Joshua Oppenheimer yakni Jagal (The Act of Killing) dan Senyap (The Look of Silence), sempat diceritakan bagaimana mereka dibantai pada saat itu yang kemudian diaminkan sebagai bentuk penyelamatan negara sesuai perspektif penguasa Orde Baru. Dalam beberapa literatur sejarah mejelaskan pembantaian terhadap warga yang terlibat langsung atau hanya sekedar simpatisan PKI bukan hanya terjadi pada warga pribumi saja. Etnis Tionghoa pun tak bisa terlepas dari stigma komunisme yang dianggap musuh bersama pada saat itu.

Menguak Kembali Spirit Keberagaman
Hingga orde baru runtuh melalui perjuangan panjang, nasib etnis Tionghoa masih saja berkutik di lingkaran yang sama. Tindakan diskriminasi masih saja terjadi meskipun tidak separah di era-era sebelumnya. Era reformasi telah datang menyapa sebagai asa menuju kebebasan yang ditandai dengan terjaminnya nilai-nilai hak asasi manusia, dijunjungnya supremasi hukum, dan kemerdekaan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Meskipun demikian, perjuangan warga Tionghoa dalam menuntut keadilan tidak akan pernah berhenti. Reformasi di sektor pendidikan juga perlu dilakukan sehingga kesadaran akan pentingnya keberagaman dapat diajarkan sejak dini melalui kurikulum yang berperspektif pancasilais. Adanya regulasi yang mampu menjawab permasalahan diskriminasi etnis juga andil dalam mendukung terciptanya gagasan multikulturalisme dalam dinamika negeri yang berkebhinekaan ini.

11141335_551653498306954_1176412525652905573_n

Ukhay Figaromnetho,
Penulis adalah Mahasiswa Hukum Universitas Muslim Indonesia

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *