Quo Vadis Gerakan Pramuka Di Perguruan Tinggi

IMG_3613
anggota UKM Pramuka UMI / foto: Ukhay

Cakrawalaide.com — Gerakan pramuka merupakan salah satu wadah penting untuk dapat mengaktualisasikan nilai-nilai kebangsaan, keegaliteran, keagamaan, dan kehumanisan yang semuanya termaktub dalam Pancasila yang notabenenya sebagai ideologi fundamental NKRI. Sebagai organisasi yang memiliki perspektif tersendiri, Gerakan Pramuka punya andil besar untuk menjawab segala problematika nasional, khususnya dalam pembinaan karakter generasi muda.

Sadar dan tidaknya, Gerakan Pramuka hadir sebagai harapan Bumi Pertiwi, yaitu meningkatkan kualitas karakter anak bangsa.  Soekarno, Presiden pertama kita pernah dengan lantang mengatakan “Berikan aku Sepuluh Pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”. Hal ini membuktikan bahwa pemuda merupakan tulang punggung Negara, sumber kekuatan yang mampu sebagai agitator dalam penentu perubahan arah bangsa ke depannya.

Terkait dengan deskripsi singkat terkait peranan pemuda, maka seyogyanya pula kita perlu menelisik sejauh mana peran lingkungan, khususnya lingkungan kampus (Perguruan tinggi) dalam membentuk pola pembinaan terhadap generasi muda (Mahasiswa). Gerakan Pramuka yang hakekatnya sebagai gerakan moral seharusnya dimaksimalkan dengan baik dalam ruang lingkup Perguruan Tinggi sehingga Bumi Pertiwi melahirkan generasi muda yang berkepribadian Pancasilais, bukan bermental kerupuk yang hanya menjadi penghambat yang ujung-ujungnya bertabiat kontra-Pancasilais.

 Sekilas tentang Racana Kampus Islami UMI-Makassar

Racana kampus islami Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar adalah racana yang berdiri pada tanggal 9 november 1982. Saat itu, kami  mengalami kejayaan yang sangat signifikan dan menjadi yang terbaik pada saat itu. Tahun demi tahun dinamika racana kami berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang diharapkan. Akan tetapi musibah melanda racana kami pada tahun 1996 selama 4 (Empat) tahun lamanya kami mengalami kevakuman akibat dari peristiwa AMARAH (April Makassar Berdarah) di mana kampus kami diporak-porandakan oleh pihak Militer.

Pada tahun 2011, kami kembali bangkit dengan semangat baru dan tujuan baru hingga saat ini. Permasalahan pelik yang melanda racana kami hampir sama dengan racana lain pada umumnya yaitu: kurangnya minat dari mahasiswa untuk ikut serta dan gabung bersama kami dan adanya aktivitas akademik di fakultas masing-masing yang sering membuat anggota racana regresif dalam bekerja membangun racana.

Menerawang Kondisi kekinian Gerakan Pramuka di Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi (Kampus) ibarat miniatur masyarakat, dimana secara deskriptif Perguruan tinggi mengsimulasi kehidupan masyarakat. Hal itu ditandai dengan adanya berbagai manusia dengan latar belakang, karakter, ras, agama, pemikiran, status sosial dan kepentingan kolektif dalam suatu sistem yang jika dilihat, hampir menyerupai suatu kelompok masyarakat meskipun secara kompleksitasnya tidak sebanding dengan suatu kelompok masyarakat.

Secara konseptual, apa yang terkandung dalam falsafah Gerakan Pramuka sebenarnya secara substansi sangat konteks dengan dinamika Perguruan Tinggi pada umumnya. Harapan Perguruan Tinggi secara Institusional terhadap Mahasiswa yang nantinya mampu mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, merupakan hal yang patut diapresiasi. Gerakan Pramuka seyogyanya mampu dipergunakan sebagai metodologi dalam mencapai harapan tersebut.

Akan tetapi peranan Gerakan Pramuka di Perguruan tinggi kian hari kian mengalami kemerosotan. Pembinaan gerakan Pramuka sudah semakin tumpul, yang pada akhirnya berimbas pada stagnannya dinamika Racana bahkan kevakuman Racana. Dari hasil investigasi kami, sekitar 50 % mahasiswa menganggap Gerakan Pramuka hanyalah organisasi yang diperuntukkan bagi tingkat Sekolah Dasar (Siaga), Sekolah Menengah Pertama (Penggalang), dan tingkat SMA/MA (Penegak). Dan sekitar 15% menganggap bahwa Gerakan Pramuka hanya organisasi yang sebenarnya tidak memiliki prospek untuk kemajuan bangsa dan Negara dengan berbagai macam argumentasi. Hanya 35% yang di dalam benaknya masih tetap optimis dengan Gerakan Pramuka. Mati surinya gerakan pramuka di Perguruan tinggi memunculkan tanda Tanya besar, apakah memang benar Gerakan Pramuka tidak kontekstual lagi dengan dunia Kampus (Perguruan tinggi)? Ataukah perlu suatu upaya untuk menguak kembali prinsip-prinsip Kepramukaan yang relevan dengan dunia Perguruan tinggi?

Faktor-faktor anomali dalam Gerakan Pramuka di Perguruan Tinggi

Berbagai macam permasalahan dalam gerakan pramuka di Perguruan Tinggi memang menjadi diskursus yang takkan pernah ada habisnya. Karena permasalahan racana yang terdapat dalam suatu perguruan tinggi dapat diamati dan di bahas dalam berbagai perspektif. Namun bukan terkesan untuk mengeneralisasi permasalahan. Pada umumnya, di setiap racana yang berada dalam suatu perguruan tinggi memiliki akar permasalahan yang cenderung sama.

Jika argumentasi itu benar, maka dapat di cari resolusi untuk meminimalisir atau menghapus segala permasalahan tersebut dalam kamus sejarah suatu racana. Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu permasalahan dalam gerakan pramuka di perguruan tinggi, baik yang sifatnya internal maupun eksternal.

Faktor-faktor internal yang menjadi penyebab kemerosotan gerakan pramuka di Perguruan tinggi yaitu pada umumnya berupa faktor-faktor yang sering ditemui di organisasi-organisasi non pramuka, yaitu kurang dimaksimalkan ruang-ruang koordinasi, baik bersifat vertikal antara anggota dengan Pembina, maupun bersifat horizontal antara anggota dengan anggotan (dalam bentuk Evaluasi).

Hal itu berimplikasi di pelbagai hal, yaitu pada pola pembinaan terhadap anggota baru, maupun pelaksanaan program kerja. Pola pembinaan anggota pramuka di racana di nilai sudah mulai menumbra unsur edukatif maupun kreatifnya. Berbagai pola perekrutan anggota baru yang kecenderungan militeristik (terkesan keras) hanya menghasilkan anggota yang bermental feodalistik.  Pelaksanaan program kerja yang kontradiksi dengan logika kerja (ketidaksesuaian antara realisasi program kerja dengan output dan outcomenya) juga menjadi permasalahan yang selalu menjadi budaya di dalam racana, seakan-akan tidak pernah ada upaya dalam mengevaluasi. Sehingga wajar jika gerakan pramuka di perguruan tinggi di nilai masih tidak kontekstual dengan logika kemahasiswan pada umumnya, yaitu rasionalis, analitik, kritis, universal, dan sistematis (RAKUS).

Ada juga faktor-faktor tambahan yang berasal dari internal anggota secara personal yang juga ikut mempengaruhi.

Perlu dipahami bahwa individu-individu yang aktif sebagai anggota dalam suatu racana memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Kesombongan antroposentris (berwatak elitis) masing-masing anggota, loyalitas yang cenderung setengah hati, dan oversenioritas juga ikut memperburuk dinamika racana, bahkan biasanya memicu destruktifnya kultur organisasi. Padahal organisasi merupakan wadah yang menuntut kita untuk selalu bersinergi, solid, dan bekerja sesuai dengan tujuan organisasi (Pramuka)

Adapun faktor-faktor  eksternal juga tidak kalah pengaruhnya dengan faktor internal. Kurangnya membangun jaringan dengan racana-racana lain ataupun kurang dimaksimalkan ruang-ruang koordinasi antar sesama racana (dalam bentuk konsolidasi bersama), sehingga dinamika gerakan pramuka di perguruan tinggi tidak terlalu berdampak signifikan dalam membangun masyarakat, seperti yang diamanahkan dalam trisatya.

Rekonstruksi, kemudian Revitalisasi

Permasalahan yang terjadi dalam gerakan pramuka di perguruan tinggi (Racana) memang menjadi PR besar bagi kita semua yang masih tetap konsisten dan berkomitmen dalam praja muda karana. Jika kita menelisik faktor-faktor penyebab terdegradasinya pembinaan gerakan pramuka di perguruan tinggi, maka seharusnya ada upaya-upaya soluktif. Menurut kacamata kami, wacana Revitalisasi gerakan Pramuka di Perguruan Tinggi hanya bersifat teoritik (constituendum). Bahkan wacana yang telah digaung-gaungkan itu tidak terimplementasikan secara massif. Mengapa demikian? Karena perlu suatu mekanisme pembinaan dalam perguruan tinggi yang setidaknya relevan dengan dunia kemahasiswaan.

Maka kami dari Racana Kampus Islami, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menganggap perlu adanya suatu rekonstruksi pola pembinaan gerakan pramuka di perguruan tinggi (racana) yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa, baik yang bersifat emosional, intelektual, maupun spiritual. Karena sudah menjadi rahasia umum, bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kekuatan militer dan para politikus ulung. Melainkan bergantung pula pada tabiat generasi muda yang telah disiapkan jauh hari oleh pemimpin bangsa ini. Lewat gerakan pramuka, mental dan kemandirian tunas muda di gembleng, apalagi dalam ruang lingkup kampus yang nantinya akan menghasilkan generasi penentu arah bangsa kelak.

Penulis: Ukhay
Red: Her

redaksi

One thought on “Quo Vadis Gerakan Pramuka Di Perguruan Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *