Rumah Bernyanyi dan Apatisme Mahasiswa

download
Ilustrasi

Bisnis rumah bernyanyi atau tempat karaoke di Makassar tumbuh bak jamur di musim penghujan. Sekitar tiga tahun belakangan, bisnis tersebut merambah berbagai pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di kota berjuluk Anging Mammiri ini. Tak ubahnya dengan bisnis minimarket yang lebih dahulu mewabah di kota ini, outlet rumah bernyanyi ini pun berhadap-hadapan secara frontal dalam merebut pasar.

Lihat saja kawasan Tamalanrea yang selama ini dikenal sebagai pusat pendidikan karena keberadaan sejumlah perguruan tinggi, turut dijamah bisnis karaoke tersebut. Di Jalan Perintis kemerdekaan misalnya, sejumlah rumah bernyanyi berdiri tegap dan saling berhadapan satu sama lain dalam radius hanya ratusan meter.

Hal ini mengindikasikan sengitnya persaingan di bisnis ini. Tak pelak lagi, adu strategi pemasaran, mulai dari perang merek, kualitas pelayanan hingga menjurus ke perang tarif yang sudah nampak kasat mata. Persaingan brand-brand nasional yang mengusung nama besar para artis terkenal, tak berarti memupus harapan brand-brand lain untuk mencicipi manisnya laba bisnis hiburan yang satu ini.

Di tempat yang menjadi favorit mahasiswa kala tidak ada perkuliahan ini, memang sangat menggoda iman. Musik jedag-jedug membuat mahasiswa gampang sekali tergiur. Mabuk, dan bergoyang, Penulis jadi kepikiran kondisi mahasiswa sekarang memang memprihatinkan, malas belajar, membaca apalagi mengerjakan tugas.

Pantas saja banyak pihak yang mengkhawatirkan masa depan negara ini. Ada ditangan siapa lagi masa depan negara kalau bukan ada ditangan generasi muda sekarang ini. Kini mahasiswa hanya menjadi juru tepuk tangan di acara-acara talkshow dan bertepuk tangan sesuai instruksi.

Label mahasiswa sebagai Agent of Change (agen perubahan) kini sudah mulai memudar. Mahasiswa lebih senang nongkrong di mall, cafe, dan bioskop. Mahasiswa lebih senang mengejek rekan sesama mahasiswa yang melakukan demonstrasi menuntut upah layak bagi buruh atau menurunkan tarif BBM dengan alasan hanya memacetkan jalan. Mahasiswa lebih senang membincangkan drama Korea, film terbaru, artis idaman, atau model baju terbaru.

Hiburan di era modern ini semakin beragam saja. Dan kini, mahasiswa punya banyak pilihan untuk menjadi apatis atas gejala sosial, politik dan ekonomi di Negeri ini. Dengan pergi karaokean di rumah bernyanyi, mahasiswa sukses menyuburkan sikap apatis mereka, melupakan sejenak tugasnya atau bahkan lupa untuk selamanya. Kalau sekedar hiburan, tonton saja kesenian apa pun yang jelas adalah kebudayaan asli daerah. Mahasiswa bisa bertemu banyak orang dari berbagai macam kelas dan bercengkerama bersama.

Bisa jadi ini juga usaha dari pihak kampus untuk merepresif mahasiswa. Mahasiswa sengaja dibuat tidak kritis lagi agar tidak tahu ada praktik penyelewengan dari pihak kampus. Kalau sudah begini, siapa yang akan membantu masyatakat yang membutuhkan bantuan sang agen perubahan untuk menyelesaikan masalah mereka?

Oleh: Hutomo Mariadi Putra.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer angkatan 2012

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.