Ujian Nasional, Pelajar Jadi Kelinci Percobaan Lagi

images
Ilustrasi

Terpilihnya Joko Widodo dan Jusuf Kalla menjadi pemimpin negeri ini telah memberikan angin segar, setidaknya kepada pelajar di Tanah Air. Bagaimana tidak, mulai era pemerintahan Jokowi-JK, Ujian Nasional (UN) yang selalu ditakutkan dan menjadi mimpi buruk bagi sebagian besar siswa, tidak lagi menjadi standar kelulusan.

Tahun ini Pemerintah menyiapkan dua teknis ujian nasional yaitu secara online dan menggunakan lembar jawaban kertas. Penulis berharap jangan sampai pemerintah mengkotak-kotakkan kecerdesan siswa berdasarkan teknis ujian yang dia ikuti dan pemerintah harus menjamin agar tidak terjadi kecemburuan antara siswa yang ujian secara online dan siswa yang ujian menggunakan LJK. Menurut Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kemendikbud Nizam, ujian secara online itu diberi nama computer based test (CBT). (jawapos.com).

Meskipun UN tahun ini sama seperti tahun-tahun kemarin, penulis heran entah mengapa pemerintah masih saja menganggap  UN setiap tahunnya hanya sebagai percobaan. Dan setiap tahunnya pemerintah memberlakukan kebijakan baru tanpa mengevaluasi hasil ujian nasional yang ada setiaptahunnya. Misalnya di tahun 2011 pemerintah memberlakukan 5 jenis paket soal dan di tahun 2013 dinaikkan menjadi 20 paket soal yang dikerjakan siswa di dalam kelas. Sehingga mungkin menjadi penyebab seringnya kita lihat di media tentang siswa yang depresi atau bunuh diri akibat ujian nasional. Mudah–mudahan ujian nasional di tahun ini tidak ada lagi kasus seperti itu yang menghiasi media di Indonesia.

Dilihat dari sisi positif ujian secara online, sebuah langkah baru untuk menyikapi pesatnya perkembangan teknologi, supaya siswa menjadi melek teknologi. Disampingitu, pemerintah juga akan memberikan sejumlah penghematan dalam melaksanakan UN. Alasan penghematan bukanlah alasan kuat untuk menerapkan UN sistem ini. Sebab, dengan pengadaan computer secara massal, juga mengeluarkan miliaran dana. Selain itu, perawatan, servis dan masalah sinyal dan listrik juga membutuhkan uang banyak. Maka UN online tetap sama dan tidak menjadi wujud penghematan namun ”pemborosan” berkedok kebijakan.

Khusus bagi pelajar, perlu adanya try out atau latihan mengerjakan soal sistem online. Sebab, jika ada pelatihan, maka UN online akan sukses seperti pelaksanaan ujian CPNS berbasis Computer Assisted Test (CAT). Perlu ada kesiapan matang dalam teknis pelaksanaan. Sebab, akan kacau jika saat UN berlangsung terjadi listrik padam dan ada computer yang rusak. Juga jaringan yang terganggu serta tidak adanya teknisi yang mumpuni.

Dengan harapan meningkatkan mutu, penghematan, fleksibilitas dan keandalan UN, pengadaannya lancar, maka pemerintah tak boleh main-main dan setengah hati menerapkan UN CBT. Gagasan UN online sangat cerdas dan berorientasi pada kemajuan dan pemanfaatan teknologi. Namun, akan menjadi percuma jika tidak disiapkan matang 100 persen. Tanpa persiapan matang, UN CBT hanya jadi ”kelinci percobaan” dan hal itu akan menjadi ”dosabesar” pemerintah.

Oleh: Hutomo Mariadi Putra.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer angkatan 2012

 

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *