Wajah Anak Negeri di Bara-barayya

Makassar, Cakrawalaide.com – Ditengah-tengah kerumunan aksi massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Bela Bara-barayya yang memenuhi bawah jalan layang (flyover) Makassar. Nampak wajah – wajah murung dari anak kecil, calon penerus pemimpin bangsa, di antara mereka tampak  beberapa anak yang masih memakai baju seragam sekolahnya tepat pukul 15:20 WITA, Jumat (10/03).

Untuk menuntut keadilan atas tanah tempat tinggal masyarakat Bara-barayya yang terancam dirampas oleh Mafia tanah tampak anak-anak kecil ikut dalam barisan aksi massa. Mereka rela panas-panasan di bawah terik matahari dan kepungan asap yang menutupi penglihatan mata. Dengan berbekalkan keberanian dan petaka-petaka yang mereka pegang, bertuliskan tuntutan-tuntutan serta perlawanan mereka yang ditujukan kepada Mafia tanah yang ingin menggusur tempat tinggal mereka. Sesekali terdengar teriakan dari mulut mereka yang tak tahan lagi dengan ulah Mafia tanah, “pencuri tanah”, “jangan gusur rumah kami” terdengar sangat menyentuh suara dari mulut seorang anak usia 9 tahun.

Fenomena sosial dimana aksi yang digelar ini lebih didominasi oleh anak-anak kecil. Seharusnya mereka sibuk dengan bermain dan tugas sekolahnya, tapi mereka lebih memilih turun ke jalan bersama peserta aksi lainnya. Menurut mereka sekolah tak lagi penting, urusan-urusan sekolah dinomor duakan, yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana cara untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. Tak ada lagi ketenangan yang mereka dapat diruang-ruang belajar, yang ada hanyalah pikiran yang dipenuhi dengan ketegangan hingga ketakutan. Jika sewaktu-waktu disaat pulang sekolah, rumah yang sudah sejak lama mereka tinggali digusur oleh pihak Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), tentu saja hal ini dianggap mengganggu psikologi mereka.

TNI-AD selaku eksekutor bekerja sama dengan Paska Sukses terus melakukan eksekusi lahan yang dihuni oleh 77 kepala keluarga dalam wilayah asrama Bara-barayya, ancaman perampasan ruang hidup sedang menanti bagi 28 kepala keluarga yang bermukim diluar wilayah asrama Bara-barayya. Bahkan saat ini, pihak TNI-AD telah menerbitkan surat peringatan kedua kepada masyarakat Bara-barayya dengan nada ancaman penggusuran.

Jadi mau tidak mau, untuk mempertahankan tempat tinggal mereka yang tanahnya di klaim milik TNI-AD, merekapun harus ikut berjuang dibarisan aksi massa. Tak sedikit jumlah anak kecil yang ikut dalam kegiatan aksi aliansi masyarakat bela Bara-barayya, dimana mata kita memandang ditengah kerumunan peserta aksi, pasti terlihat wajah-wajah anak kecil yang memancarkan kesedihan dari matanya.

Dari kejauhan aksi, tampak seorang anak kecil dengan topi Sekolah Dasar (SD) yang ia kenakan di kepalanya. Ketika awak Cakrawala menghampiri untuk mengambil gambar lebih dekat, anak itu menjauh dan menolak untuk difoto. Beberapa menit kemudian barulah penulis temukan jawabannya. Mungkin sikapnya yang tertutup dengan tatapan sinis penuh rasa takut ketika melihat penulis disebabkan karena jaket yang penulis kenakan saat itu warnanya hampir sama dengan pakaian seragam yang biasa dikenakan oleh TNI-AD.

Sungguh sangat dalam ketakutan yang mereka rasakan, seorang anak kecil yang sangat butuh ketenangan serta kebahagiaan di dalam rumah bersama keluarga. Tapi kini mereka harus menghirup udara yang menyesakkan hati, serta kerasnya  kehidupan melawan penguasa yang menindas untuk menegakkan sebuah keadilan. Masa depan mereka kini terancam, impian dan cita-cita yang telah mereka gantungkan, perlahan hilang dari benak mereka. Sebab, pendidikan yang kini mereka jalani nampak buram dan perlahan hilang akibat dari ulah Mafia tanah.

Penulis merasa beruntung, ada seorang anak dengan seragam sekolah yang masih lengkap ia kenakan, bersedia untuk penulis mintai keterangan tentang apa yang dia rasakan. Namanya Rifki anak sekolah menengah pertama (SMP) kelas VII, tinggal di Bara-barayya. Tak tanggung-tanggung, penulis langsung melontarkan beberapa pertanyaan kepada Rifki mengenai sekolahnya. Hingga penulis lontarkan pertanyaan yang membuatnya tertunduk dan hanya mampu menjawab pertanyaan dengan gerakan isyarat melalui kepalanya.

Apakah adik akan terus melanjutkan sekolah, walaupun rumah adik digusur ?

Dengan tatapan mata mengarah ketanah, Rifki hanya mampu menganggukkan kepalanya dan lambat laung suasana menjadi diam. Nampaknya penulis harus  mengakhiri proses wawancara dengannya dan langsung mengabadikan gambarnya dengan kamera ponsel penulis.

Apa yang Rifki rasakan saat ini adalah segelintir dari banyaknya anak sekolahan yang bertempat tinggal di Bara-barayya, terlihat tak ada gairah bersekolah. Jika saja rumah yang dia huni digusur atau diratakan dengan tanah. Tak ada lagi tempat untuk berkumpul bersama keluarganya, tak ada lagi meja belajar yang menghiasi kamar dengan buku dan pensil diatasnya, hanya ada debu serta polusi udara akibat dari kendaraan yang lalu-lalang. Sebab, jika tak ada lagi rumah keluarga yang sedia untuk menampungnya, bisa saja kolong jembatan sebagai pilihan terakhirnya.

Tak hanya itu, Nasib buruk menanti mereka dimasa yang akan datang, peluang yang sangat besar bagi anak kecil yang tinggal di Bara-barayya bisa jadi gelandangan, bahkan lebih parah lagi mereka bisa menjadi begal di masa mendatang, karena hanya melalui pendidikan di sekolahlah yang mampu meminimalisir tindak kriminalitas. Mengapa demikian, karena lembaga pendidikan didirikan untuk mendidik para generasi bangsa. Logikanya, jika yang bersekolah saja ada  yang menjadi pelaku begal, bagaimana dengan mereka yang tidak bersekolah ?

Disinilah perlunya peranan pemerintah yang adil menyikapi tragedi yang seperti ini. Pemerintah harus mengambil sikap yang tegas dan cepat menyelesaikan kasus sengketa tanah yang terjadi di Bara-barayya. Karena pertimbangan akan masa depan penerus bangsa sebagai gambaran Negara Indonesia dimasa yang akan datang.

Penulis : Parle

Red. Nursaid

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *