Perjuangan Kartini Mulai Luntur oleh Zaman

Perjuangan Kartini Mulai Luntur oleh Zaman
Ilustrasi Raden Ajeng Kartini. /Sumber : Google

Makassar, Cakrawalaide.com- Sosok Kartini pasti sudah tak lazim lagi didengar ditelinga kita, yang dimana setiap tahunnya tepat tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini untuk mengenang jasa-jasanya. Mungkin berbeda dengan khalayak penulis yang setiap peringatan hari Kartini hanya menuliskan tentang sosok Kartini dalam emansipasi kaum perempuan. Dalam kesempatan kali ini saya (penulis) akan mengambil anggle yang berbeda melihat realitas perempuan di Dunia Pendidikan sekarang yang paling besar menjadi objek penindasan didalam lingkup pendidikan. Karena untuk mengenang jasa-jasa beliau untuk kaum perempuan bukan dengan cara  memperingati dengan mengidentikkannya dengan baju kebaya dan kondek.

Itulah yang terjadi sekarang, apakah pantas bentuk penghargaan yang kita berikan terhadap jasanya hanya sebatas dengan kebaya dan kondek? Itu bukanlah jawabannya, tapi untuk menghargai jasa-jasanya, perempuan saat ini haruslah berani mengambil langkah dan melanjutkan kembali perjuangan Kartini. Perlu diketahui, hasil dari perjuangan Kartini hanyalah sebatas membuka pintu buat kaum perempuan sehingga bisa menikmati pendidikan. Perjuangan Kartini hanyalah sebatas itu saja, kemudian tugas dari Kartini Kartini sekarang adalah untuk melanjutkan perjuangan tersebut.

Ingat.! Perjuangan Kartini hanya sebatas membuka peluang bagi kaum perempuan sehingga bisa menikmati pendidikan, tapi perjuangan Kartini tidak sampai kepada persoalan bagaimana agar penindasan tak lagi dirasakannya oleh kaumnya. Kita bisa melihat bagaimana konteks pendidikan sekarang dengan perempuan. Masih banyak permasalahan yang hadir selepas kematian Kartini yang menimpa perempuan sekarang dalam lingkup pendidikan. Misalnya saja, kebijakan-kebijakan yang hadir kemudian itu seakan-akan membatasi kaum perempuan dalam lingkup pendidikan.

Tapi dalam kesempatan kali ini, penulis mungkin hanya mampu menggambarkan situasi pendidikan yang terjadi didalam kampus yang sekarang saya tempati menimbah ilmu.

Universitas Muslim Indonesia kampus II (UMI)  adalah sebuah Lembaga Pendidikan yang berlabelkan islami tapi dalam pembuatan aturan-aturannya terkadang kontradiksi dengan nilai-nilai Islam. Kemudian yang menjadi objek yang lebih besar dari ketimpangan aturan-aturan tersebut adalah kaum perempuan. Contoh peraturan kampus tentang mahasiswi yang diharuskan memakai rok didalam kampus, tujuannya untuk menggambarkan sosok perempuan yang muslimah.

Aturan kampus yang seperti ini, jika kita menganalisanya lebih dalam justru aturan ini mampu melahirkan stigma yang negatif bagi perempuan. Hal ini dapat dirasionalkan dengan konstruksi sosial yang ada sekarang dimasyarakat dalam lingkup kampus. Penilaian masyarakat kampus yang sekarang tertanam khususnya dikepala-kepala para mahasiswa bahkan mahasiswi sekalipun ketika melihat seorang mahasiswi yang memakai celana, pasti akan lahir penilaian yang negatif, penilaian yang lahir antara lain, dari data yang saya dapat dengan melakukan tes tanya jawab kepada beberapa masyarkat kampus.  Dari sepuluh jawaban, delapan diantaranya menanggapinya dengan negatif, selebihnya menyikapinya netral saja.

Pertanyaan yang saya lontarkan sama, meminta penilaian dari masyarakat kampus UMI. “Bagaimana penilaian kamu ketika melihat mahasiswi didalam kampus memakai celana?”. Dari delapan jawaban yang menyikapinya dengan penilaian buruk dengan berbagai alasan-alasannya, dua beralasan memakai celana itu melanggar aturan kampus, dua beralasan tidak mencontohkan seorang muslimah yang baik, empat beralasan tidak baik dipandang karena lekuk tubuhnya nampak, sedangkan dua yang menanggapi hal ini biasa-biasa saja.

Sementara dalam perspektif Islam mengenai persoalan ini, ada perbedaan pendapat dari para ulama, ada yang tidak membolehkan dan ada juga yang membolehkan. Hukum perempuan memakai celana itu boleh dengan syarat-syarat tertentu yang umum berlaku yakni menutupi aurat, tidak transparan, kain tidak tipis, tidak terlalu ketat, bahkan perempuan memakai celana sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Islam hanya menitik beratkan kepersoalan menurut aurat, tidak sampai kepada mengharamkan dan bukankah memakai celana yang tidak ketat, tidak transparan, tidak tipis, itu juga bagian dari menutup aurat?. Lalu bagaimana dengan mahasiswi yang memakai rok yang ketat, fenomena ini juga sering kita temui dan justru ini lebih merangsang syahwat karena lekukan tubuhnya lebih nampak jelas.

Untuk menuntaskan perbedaan pendapat ini sangatlah mudah, kita boleh memilih salah satunya karena sama-sama memiliki dasar dalam Islam. Perlu juga dipahami dan dipetakan antara “konstruksi sosial dengan qodrat”, persoalan rok identik bagi perempuan itu bukanlah qodrat dari Allah SWT tapi itu hanyalah konstruksi sosial yang lahir dimasyarakat. Sebab, qodrat itu adalah hal yang mutlak diberikan oleh Allah SWT kepada kaum perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki sedangkan dalam Al-Quran atau Hadits tak satupun yang menjelaskan bahwa rok adalah qodrat bagi kaum perempuan. Persoalan rok identik dengan perempuan itu hanyalah persoalan budaya yang dibangun dimasyarakat yang melekatkan rok identik dengan perempuan. Jadi, jangan heran kenapa kontruksi sosial ini bisa lahir dan abadi serta sulit dihilangkan karena lembaga pendidikanpun ikut berperan sebagai lakon bahkan dari bangku sekolah dasar sampai ke Perguruan Tinggi.

Selanjutnya mengenai biaya pendidikan yang semakin mahal yang juga berdampak besar bagi kaum perempuan, karena kampus II UMI notabenenya itu lebih diwarnai oleh perempuan. Baru-baru ini pihak Birokrasi UMI mengeluarkan surat keputusan SPP BPP, nomor 0421/YW-UMI/A/IV/2017 yang menuai respon yang sinis dari para mahasiswa-mahasiswi. Secara umum mahasiswa atau mahasiswi sama-sama merasakan dampak buruk dari keputusan pihak birokrasi dalam hal kenaikan SPP dan BPP, tapi kembali lagi kepersoalan perempuan yang lebih mendominasi kampus II UMI.

Kebijakan kampus yang tiap tahunnya terus menaikkan biaya pembayaran sama halnya perlahan-lahan menghapus hasil dari perjuangan Kartini buat kaum perempuan menikmati pendidikan. Pendidikan mahal sehingga bagi mereka yang ekonominya rendah terancam tak lagi bisa menikmati pendidikan. Melihat populasi perempuan yang persentasenya lebih banyak daripada laki-laki sekarang, artinya yang lebih besar merasakan dampak buruk dari pendidikan yang semakin mahal adalah kaum perempuan walaupun subtansinya sama halnya juga yang dialami laki-laki.

Jadi, 5, 10, atau 100 tahun kedepan akan lebih banyak lagi kaum perempuan yang tidak bisa duduk di bangku pendidikan. Keadaan ini sama halnya mengembalikkan perempuan kedalam keadaan yang sulit menikmati pendidikan dimasa Kartini tapi dalam situasi yang berbeda. Dimasa pra kemerdekaan perempuan tidak menikmati pendidikan bukan persoalan pendidikan yang mahal tapi karena konstruksi sosial yang ada dimasyarakat bahkan didalam keluarga sekalipun menilai perempuan tidak usah sekolah karena pada akhirnya perempuan akan kembali ke pekerjaan domestik.

Pendidikan sekarang layaknya bunga yang berduri bagi perempuan, untuk memilikinya harus rela tertusuk oleh duri, bahkan bisa lebih parah lagi sampai kehilangan nyawa. Belum terhapus dalam memori kita sosok perempuan yang beberapa bulan lalu di tahun 2016 buming diceritakan di UMI. Sosok perempuan yang rela berpisah dari keluarga untuk menimbah ilmu dikampus UMI, yang sekarang tak lagi dapat menikmati hasil perjuangan Kartini. Almarhumah Reski salah satu mahasiswa fakultas kedokteran UMI yang meninggal dimalino dalam rangka mengikuti pengkaderan TBM yang hingga kini kasusnya belum tuntas tapi malah didiamkan tanpa ada penangkapan tersangka pelaku pembunuhan.

Sangatlah banyak ketimpangan-ketimpangan yang terjadi didalam lingkup pendidikan sekarang. Dari tulisan ini yang saya ulas hanyalah beberapa bagian kecil dari ketimpangan tersebut yang menimpa perempuan dilingkup pendidikan. Kemudian yang menjadi pertimbangan selanjutnya bagi perempuan sekarang di momen hari Kartini untuk mampu memilih. Apakah dimomen hari Kartini hanyalah sebatas memperingati dengan hal-hal yang seremonial belaka, ataukah kalian berani memilih untuk melanjutkan perjuangan Kartini disektor pendidikan.

Jadilah Kartini Kartini selanjutnya agar kalian dikenang dalam sejarah. Hidupkanlah kembali api semangat perjuangan Kartini tapi bukan dengan cara memakai kebaya dan kondek.! Hidup regeneration Kartini

Selamat Hari Kartini buat calon Kartini Kartini selanjutnya

Penulis : Parle

Editor   : Baso

 

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.