Terkait Pencopotan Spanduk, WR 3 UMI: Mahasiswa Itu Kalau Tidak Punya Kritik, Bukan Mahasiswa Namanya

Pada Senin 16 Juli 2018, Unit Penerbitan dan Penulisan Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UPPM-UMI), keberatan atas dicabutnya Baliho yang bertuliskan sebuah kritikan yang terpasang di halaman sekretariat UPPM.

Hal tersebut ditanggapi langsung oleh Wakil Rektor (WR) 3 UMI, dengan cara melayangkan surat panggilan kepada pihak UPPM, untuk mengklarifikasi kejadian pencopotan spanduk, Rabu (18/7/2018).

Lanjut, setelah menerima surat panggilan tersebut, Muhammad Firman langsung memenuhi panggilan tersebut, Seusai sampai di ruang Prof Laode Husein Selaku WR 3, yang bertanggung jawab dalam bidang kemahasiswaan.

Baca di : http://www.cakrawalaide.com/terkait-pencopotan-spanduk-rektor-umi-saya-tidak-tahu-adanya-kejadian-itu/

Prof Laode mengatakan “Mahasiswa itu kalau tidak punya kritik, bukan mahasiswa namanya, selagi kritik yang masih dalam koridornya.”

Ia juga menambahkan, nanti ada saatnya kita undang WD 3 nya, pembina ukmnya, setelah rapat kerja kami akan undang Untuk berdiskusi bersama. Nanti saat perumusan program, mahasiswa rumuskan sendiri, wd 3 rumuskan sendiri.

Muhammad Firman Ketua Umum mengangkat salah satu permasalah tentang biaya kuliah di UMI, dengan hasil survei yang di telah lakukan kepada MABA yang berjumlah 50 orang, bahwa biaya kuliah di UMI mahal.

Ketua Umum UPPM – UMI, Muhammad Firman “Kalau berbicara soal spanduk-kan itu betul ji bahwa yang terjadi di UMI” ungkapnya. Lanjut “misalnya persoalan UMI mahal, ini dari data teman-teman pas Ujian seleksi MABA, kami sempat mewancarai maba dulu sekitar 50 orang.”

Penulis : Shim

Red : Anshari

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.