Wajah Pendidikan Indonesia di Mata Mahasiswi La Rochelle Prancis

Jade, mahasiswi universitas La Rochelle sebagai perwakilan pertukaran pelajar di UGM / foto : Yudha
Mahasiswi universitas La Rochelle Prancis sebagai perwakilan pertukaran pelajar di UGM / foto : Yudha
Makassar, Cakrawalaide.com – Fenomena pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini mengalami pasang surut yang tidak menentu mulai dari penerapan Kurikulum yang tidak konsisiten, privatisasi sektor pendidikan, hingga permasalahan penerapan satuan pengajaran. Sehingga bidang yang dipimpin oleh Anies Baswedan ini perlu mendapat perhatian khusus karena menyangkut tentang masa depan bangsa Indonesia. Kru Cakrawalaideide. Com (Winda, Ana) berkesempatan melakukan wawancara dengan Jade, mahasiswi dari Universitas de La Rochelle di Prancis sebagai perwakilan program pertukaran pelajar dengan Universitas Gajah Mada (UGM) disela-sela acara buka puasa bersama di kantor Walhi Sulsel (08/07).

Gadis yang berusia 20 tahun itu telah menjalani program tersebut selama kurang lebih 2 tahun. Jade yang berada di jurusan Antropologi Ekonomi dan Budaya mengaku telah merasakan banyak perbandingan antara Indonesia dan Prancis. Berikut adalah hasil wawancara santai yang dilakukan oleh kru kami dengan Jade tentang pendidikan di Indonesia.

Apa hal yang memudahkan Anda dalam melaksanakan program pertukaran pelajar ini?

Belajar bahasa Indonesia merupakan senjata utama bagiku untuk mampu berinteraksi ataupun beradaptasi dengan orang-orang di sekitarku. Sebelum ke Indonesia, saya telah mempelajari mata kuliah Bahasa Indonesia dari universitasku. Itu membuat saya menjadi lebih mudah dalam menguasai Bahasa Indonesia Hanya perlu diasa sedikit agar lancar. Bahasa Indonesiaku sudah lumayan lancar selama berada di Yogyakarta.
Apa saja perbandingan yang Anda lihat selama berproses di Indonesia?
Oh tentu sangat banyak sekali. Entah itu dari segi pendidikan, pemerintahan, sosial budaya, ekonomi dan masih banyak lagi.

Bagaimana pendapat Anda mengenai pendidikan di Indonesia? (Khususnya perbandingan proses perkuliahan di Indonesia dan Prancis)

Dari segi pendidikan, menurut saya pendidikan di Indonesia begitu miris. Apalagi dalam lingkup perguruan tinggi. Jujur saja, pendidikan di Prancis khususnya perkuliahan, memang belum sempurna. Masih banyak hal-hal yang perlu diperbaiki. Namun jika dibandingkan, di Indonesia jauh lebih parah. Kualitas dan kuantitas pendidikannya begitu lemah. pendidikan di Indonesia tidak begitu menerapkan kedisiplinan dengan tegas. Masih sangat banyak dosen yang jarang hadir dalam perkuliahan. Tentu itu sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran bagi mahasiswa.

Selain itu, apa ada hal positif yang Anda temukan dari pendidikan di Indonesia?

Tentu saja ada. Selain meneropong jauh terhadap bidang akademik,saya juga menemukan hal-hal yang unik selama melakukan study comparison di Indonesia. saya melihat bahwa di Indonesia sangat welcome dalam memberi kebebasan bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat bakat mereka. Baik itu dalam lingkup internal maupun eksternal kampus. Berbeda dengan kampusku di Prancis, disana kita hanya fokus dalam bidang akademik saja. Tidak ada kegiatan organisasi ataupun ekstrakurikuler lainnya.

Bagaimana dengan pihak birokrasi di kampus Anda dalam hal ini?

Mengenai apa?

Dukungan mereka dalam mengembangkan softskill mahasiswa

Pihak birokrasi tidak memberi dukungan terhadap mahasiswa dalam melakukan kegiatan ataupun mengikuti organisasi internal yaitu dalam lingkup kampus. Kami hanya semata-mata dituntut untuk fokus terhadap proses perkuliahan saja. Kampus kami hanya memberikan wadah bagi mahasiswa untuk berekspresi. Seperti olahraga, kampus menyediakan lapangan bagi mahasiswa untuk sekedar menuangkan hobinya dengan gratis.

Bagaimana pendapat Anda tentang hal tersebut?

Setelah menimbang, melihat, dan menilai itu, menurut saya cara belajar yang diterapkan di Indonesia dalam memberi kebebasan mahasiswanya dalam berorganisasi dan berproses jauh lebih efisien dibandingkan dengan hanya fokus terhadap bidang akademik saja. Yang penting mahasiswa itu mau serius dalam berproses.

Mengapa pihak birokrasi tidak mendukung penerapan proses belajar tersebut?

Sejujurnya, saya juga tidak tahu apa alasan khusus mereka mengapa tidak mendukung hal itu. Namun menurut pandanganku, pihak birokrasi hanya menginginkan kami hebat dalam akademik dan lulus dengan nilai yang memuaskan.

Berarti mahasiswa di universitas La Rochelle kurang melakukan praktek?

Iya benar. Mahasiswa kurang terhadap praktek. Karena kami sangat serius dalam mempelajari teori
.
Lalu dimana mahasiswa khususnya di universitas La Rochelle menuangkan keterampilan atau kemampuan mereka dari segala proses pembelajaran yang hanya condong dari teori?

Sebelum lulus meraih gelar sarjana, mahasiswa melakukan magang pada perusahaan-perusahaan ternama di Prancis. Agar mahasiswa kelak mampu bersaing dalam dunia kerja disana.

Apa harapan Anda ke depannya melalui pertukaran pelajar ini?

Harapan saya adalah semoga dunia pendidikan di Indonesia maupun di Prancis menjadi lebih baik lagi. Agar dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang akan datang. Tak lupa pula saya akan share kepada teman-teman saya di Prancis tentang pengalaman saya yang begitu berharga selama berada di Indonesia.

Penulis: Winda/Ana
Red: IDE

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *