Aksi Solidaritas, Kawal Dua Jurnalis Persma UMI yang Dipolisikan

Aksi Solidaritas, Kawal Dua Jurnalis Persma UMI yang Dipolisikan

Penulis : Nurul Waqiah Mustaming

Makassar, Cakrawalaide.com – Puluhan mahasiswa tampak memadati area trotoar di depan pintu masuk Polrestabes Makassar pada Selasa,(2/11/2021). Sekitar 50 massa aksi solidaritas dari berbagai organisasi lintas kampus mulai berdatangan sejak pukul 10:52 WITA. Aksi solidaritas ini dilakukan sebagai bentuk pengawalan dua jurnalis Pers Mahasiswa (Persma) Unit Penerbitan dan Penulisan Mahasiswa – Universitas Muslim Indonesia (UPPM-UMI). Selasa, (02/11/2021).

Yang pada hari ini, memenuhi undangan klarifikasi dari pihak kepolisian, berdasarkan surat pemanggilan Nomor: B/3400/X/Res.1.6/2021/Reskrim tertanggal 30 Oktober 2021 yang ditujukan kepada Sahrul Pahmi dan Nomor B/3401/X/Res.1.6/2021/Reskrim ditujukan kepada Ari Anugrah. Kedua jurnalis persma tersebut dilaporkan atas kasus dugaan penganiyaan dan pengrusakan yang terjadi pada insiden penolakan penggusuran Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Pukul 13:10 WITA, Ari dan Pahmi yang memenuhi undangan pemanggilan dari pihak kepolisian mulai memasuki ruangan pemeriksaan yang didampingi oleh 3 kuasa hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar.

Riuh suara bising kendaraan dan terik matahari tak menyurutkan semangat solidaritas para massa aksi, terlihat semakin banyaknya massa aksi solidariats dari berbagai kampus yang datang menyambangi Polrestabes Makassar.

Amrin, salah satu massa aksi solidaritas dari kampus UMI menuturkan bahwa tindakan pihak kampus saat ini menunjukkan sikap lepas tanggung jawab. Menurutnya, kmpus harus lebih membuka ruang-ruang diskusi sebelum membawa kasus ini keluar sampai kepada pihak kepolisian.

” Pihak kampus harusnya mampu menyelesaikan masalah ini secara internal minimal mereka membuka ruang, berdiskusi dengan pengurus sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bukan malah menolak surat audiensi,” tuturnya.

Dia juga mengatakan bahwa tindakan pembongkaran paksa sekretariat UKM oleh pihak kampus terlalu otoriter dalam mengambil kebijakan, seharusnya ada penyampaian lanjuatan.

” Kalau saya pribadi sangat menyayangkan tindakan pihak kampus dalam mengambil satu kebijakan, sebelum ada pembongkaran pihak birokrasi sudah melayangkan beberapa surat. Namun, isi surat kan tidak berbicara terkait pembongkaran, tapi berbicara terkait pengosongan. sebelum sekretariat di bongkar harus ada tindakan lanjut terkait surat pengosongan,” tambahanya.

Tapri, salah satu pengurus pers mahasiswa Liberatum Universitas Atmajaya menegaskan bahwa kasus yang dialami oleh kawan-kawan saat ini adalah bentuk kriminalisasi dan upaya pembungkaman pers. Menurutnya, tindakan seperti ini tidak boleh di biarkan sebab dalam penyampaian pendapat di hadapan umum telah diatur oleh undang-undang namun nyatanya masih ada tindakan seperti ini.

” Saya kaget mendengar kabar ini, tindakan tersebut adalah bentuk kriminalisasi terhadap jurnalis yang menyampaikan pendapat. Namun, berujung pada pelaporan kepolisian,” ungkapnya.

Lanjut, ia menuturkan bahwa aksi solidaritas seperti ini sangat perlu dilakukan sebagai bentuk mengawal dan memberikan dukungan kepada kawan-kawan jurnalis agar tetap semangat dalam menjalankan kerja-kerja jurnalistik.

” Aksi seperti ini perlu dilakukan agar kawan-kawan tidak pernah merasa takut dan sendiri sehingga tetap semangat,” tambahnya.

Pukul 16.56 WITA, Ari dan Pahmi tak kunjung keluar dari lantai 2 Idik I Pidum Sat. Reskrim Polrestabes Makassar di mana tempat pemeriksaan berlangsung. Namun, teman-teman massa aksi solidaritas masih tetap setia menunggu mereka.

Bagi Don, yang juga merupakan salah satu massa aksi solidaritas dari kampus Universitas Hasanunddin mengatakan bahwa aksi solidaritas ini akan terus berlanjut mengawal kasus ini. Serta ia berharap dalam proses pemeriksaan Si penyidik bisa bebas dari kepentingan dalam menjalankan tugasnya dalam rangka meminta keterangan.

” Kami akan tetap ada untuk mendukung kawan-kawan serta upaya mempertahankan ruang akan terus menyala dan tidak melemah sebab kasus pemanggilan ini,” ungkapnya.

Sebelum adzan solat isya berkumandang, pukul 18:26 WITA dari arah pintu masuk Polrestabes Makassar tampak Ari dan Pahmi beserta pendamping hukumnya berjalan ke arah kawan-kawan yang masih bersolidaritas menunggu mereka.

Ari menjelaskan pemeriksaan tersebut berlangsung di dalam sebuah ruangan, Ia duduk bersama dengan 2 pendamping hukumnya Ari duduk di bagian tengah sedang disebelah kanan dan kirinya adalah pendamping itu duduk. Ia diperiksa oleh satu orang dari pihak kepolisian. Selama proses pemeriksaan berlangsung semua berjalan lancar dan sekitar 16 pertanyaan yang di ajukan mampu ia jawab dengan tenang.

” Proses pemeriksaan berjalan lancar, semua pertanyaan saya jawab tanpa keraguaan sedikitpun,” bebernya.

Ia menuturkan untuk kelanjutannya ia belum tahu, namun Ari berharap agar masalah ini segera terselesaikan dan hukum bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya.

” Semoga tidak ada pihak lain yang bermain dalam kasus sehingga kasus ini bersih dri tindak kecurangan sehingga hukum di negri ini benar ditegakkan,” tutupnya.

Pukul 18.37 WITA massa aksi solidaritas akhirnya meninggalkan Polrestabes Makassar.

Redaktur : Salsadilla Rahim

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *