Kampus Lepas Tanggung Jawab, Mahasiswa UMI Duduki Rektorat

Kampus Lepas Tanggung Jawab, Mahasiswa UMI Duduki Rektorat

Penulis : Salsadilla Rahim

Makassar, Cakrawalaide.com – Menanggapi perihal pemanggilan kedua jurnalis Pers Mahasiswa (Persma) Universitas Muslim Indonesia (UMI) oleh Polrestabes Kota Makassar, Rabu (03/11/2021), berbagai elemen Persma serta lembaga-lembaga mahasiswa dari berbagai kampus yang mengadakan konsolidasi dalam rangka membicarakan perihal peran kampus yang terkesan tidak peduli terhadap kedua mahasiswanya. Dari hasil konsolidasi tersebut, semua pihak sepakat untuk membentuk Aliansi Pro Demokrasi (APi) Kampus dan juga bersepakat untuk melakukan aksi damai pada hari Kamis, (04/11/2021) di depan Gedung Rektorat UMI.

Pukul 13.00 WITA massa aksi telah berkumpul di halte 2 depan kampus UMI Makassar yang kemudian bergerak menuju gedung Rektorat UMI. Massa aksi yang diperkirakan kurang lebih dari 80 orang, ketika sampai di depan gerbang Gedung Rektorat UMI sempat mendapat penolakan oleh pihak keamanan dan seluruh akses keluar-masuk ditutup, dan meminta massa aksi untuk menunggu dipinggir jalan.

Sembari berorasi depan gerbang Gedung Rektorat UMI, massa aksi juga membagikan selebaran kronologi hingga tuntutan mengenai pemanggilan kedua Persma UMI yang dibawa oleh APi Kampus.

Tidak berlangsung lama berorasi, massa aksi mulai melakukan pergerakan untuk masuk ke dalam, tampak di bagian gerbang pihak keamanan dan beberapa pegawai Gedung Rektorat UMI menghadang para massa aksi untuk masuk ke dalam gedung. Sempat terjadi aksi dorong mendorong antara massa aksi dengan para pihak keamanan, namun massa aksi akhirnya bisa menembus masuk ke pelataran Gedung Rektorat UMI.

Pemanggilan terhadap kedua jurnalis persma UMI ini merupakan buntut dari penggusuran Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UMI, Sabtu (16/10/2021) yang berakhir kacau dan menimbulkan satu korban atas insiden ini. Laporan tersebut diketahui oleh pihak kepolisian yang merupakan laporan dari pihak korban.

Selaku massa aksi, Nugi mengungkapkan bahwa aksi kali ini merupakan bentuk solidaritas dari berbagai elemen kampus untuk mengawal kawan jurnalis yang dilaporkan. Ia juga menambahkan bahwa aksi ini diperuntukkan untuk para birokrasi kampus yang terkesan tidak peduli terhadap mahasiswanya yang terjerat hukum.

“Kampus terlalu fasis terhadap hal-hal yang bersangkutan dengan mahasiswa, terlihat acuh tak acuh, sama sekali tidak mencerminkan itikad baik,” ungkapnya.

Terhitung sampai pukul 13.00-18.30 WITA, pihak birokasi kampus baru keluar untuk menemui massa aksi yang dimana diwakili oleh Wakil Rektor III UMI, dalam pertemuan tersebut beliau menuturkan bahwa perihal pelaporan terhadap kedua jurnalis Persma UMI di kepolisian sama sekali kampus tidak ada campur tangan di dalamnya. Namun dalam pertemuan tersebut WR III UMI tidak menanggapi perihal Layanan Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UMI itu sendiri, yang secara tidak langsung terlihat jelas tindak campur tangan kampus itu sendiri.

“Kampus sama sekali tidak ada kaitannya dengan hal tersebut, laporan tersebut murni dari korban sendiri,” tuturnya.

WR III yang ditemani oleh beberapa pihak kepolisian seusai menemui para massa aksi, langsung saja meninggalkan tempat tanpa ada penjelasan yang lebih runut mengenai pergerakan dan tuntutan teman-teman Aliansi.

Sampai pada pukul 21.07 WITA, massa aksi tetap berusaha untuk bersikeras menemui pihak Birokrasi Kampus dengan maksud untuk menyampaikan nota kesepakatan yang berisikan mengenai:
1. Membuka ruang mediasi antara pelapor Sulaiman (supir excavator) dengan terlapor Ari Anugrah dan Sahrul Pahmi (mahasiswa UMI) yang diduga melakukan penganiayaan dan pengrusakan dan
2. Meminta LKBH UMI berhenti mendampingi pihak perlapor.
Namun sampai massa aksi bubar, pihak rektorat sama sekali tidak menanggapi teman-teman Aliansi.

Redaktur : Muh. Abirama Putra

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *