Merajut Mimpi di Kota Mati

Merajut Mimpi di Kota Mati

Gambar : https://news.detik.com/

Oleh : Nurul Waqiah Mustaming

Hari itu Kia bangun lebih awal dari biasanya. Ia segera beranjak dari tempat tidur, sambil berjalan sempoyongan, mengikat rambut, sembari menyusuri lantai berwarna putih kearah kamar mandi, “tik-tik-tik,” terdegar syahdu rintikan air yang jatuh menyentuh lantai. Di ruangan yang bercat putih dengan kipas angin yang tepat berdiri di samping kanannya, Kia nampak khusyuk menunaikan ibadah salat sunnah tahajjud. Matanya terlihat sembab dengan lelehan air mata dipipi chuby nya, sesekali terdegar ia berbisik lirih ketika memanjatkan doa kepada sang khalik.

Setelah salat tahajjud Kia kemabali ke tempat tidur dan melanjutkan tidurnya. Suara adzan subuh terdengar, Kia bangun dan segera bergegas melakanakan salat subuh dengan menggunakan mukenah batik hitam favoritnya.

Sarapan pagi telah tersedia di atas meja, nasi goreng, telur dadar, dan secangkir teh beraroma melati. Saat Kia sedang makan terdengar ponselnya berdering. Itu telefon dari ibunya, “nak, jam berapa berangkat ke tempat bimbingan belajar nya?” tanya wanita paruh baya yang ia panggil dengan sebutan mammi. “jam 07.30 mammi” jawab Kia. “belajar yang baik yah nak!” menasehati. “siap mammi” ujar Kia dengan penuh semangat.

Setelah makan dan mengakhiri perbincangannya, Kia bersiap-siap berangakat ke tempat Bimbelnya. Ia mengenakan  celana hitam dan baju berwarna abu-abu serta balutan jilbab yang diperindah dengan polesan liptin merah merona di bibirnya, ia nampak terlihat anggun hari itu.

Kia berangkat diantar oleh sepupunya, Darman. Dengan mengendarai mobil avansa berwarna abu-abu, dan berplat merah. Mobil itu ialah mobil dinas milik sepupunya. Disepanjang jalan matanya tak pernah lelah menatap ke arah luar kaca mobil. Ia melihat deretan pepohonan yang mengering dan tak lagi memiliki daun, reruntuhan bangunan yang berserakan menunggu untuk dibersihkan, tumpukan tanah yang bercampur dengan puing-puing bangunan dan beberapa aspal yang retak. Wajah Kia nampak pucat melihat potret kota Palu setelah digunjangan gempa 7,7 dan tragedi liquivaksi yang menerjangnya. Melihat keadaan saat itu, wajar saja jika orang menyebutnya dengan sebutan kota mati.

“Kalau mau pulang telefon kakak yah?” ujar Darman ketika telah sampai di tempat Bimbel. Kia menganguk lalu mencium tangan sepupunya. Wajah gadis yang berusia 18 tahun nampak ragu sembari menaiki 10 anak tangga untuk samapai ke ruangan tempat ia belajar. Kia mengambil posisi duduk di bagian tengah.

Salah seorang peserta Bimbel bernama Raisa, memulai perbincangan dengan Kia. “Asal dari mana?” tanya Raisa. “Makassar” jawab Kia dengan singkat sambil melemparkan senyuman. “Kenapa jauh-jauh ke Palu dan menyerahkan hidup di kota mati ini? Dan bahkan Makassar adalah salah satu kota yang paling maju” tutur Raisa dengan sedikit heran. Kia tertawa kecil kemudian menjawab, “ini adalah pilihan saya menggantungkan mimpi di kota ini, bukan suatu masalah kan kalau saya orang Makassar lantas kemudian mendaftar di Palu,” jawab gadis bermata bulat itu dan kemabali melemparkan senyuman.

redaksi

18 thoughts on “Merajut Mimpi di Kota Mati

  1. I am really loving the theme/design of your blog. Do you ever run into any
    web browser compatibility problems? A couple of my
    blog audience have complained about my website not working correctly
    in Explorer but looks great in Safari. Do you have
    any ideas to help fix this problem?

  2. When I originally commented I clicked the “Notify me when new comments are added” checkbox and now each time a comment is
    added I get four e-mails with the same comment. Is there any
    way you can remove people from that service?
    Bless you!

  3. F*ckin’ tremendous issues here. I’m very satisfied to look your article. Thanks so much and i’m looking ahead to touch you. Will you please drop me a mail?

  4. I relish, lead to I discovered exactly what I used to be
    having a look for. You have ended my four day long hunt!
    God Bless you man. Have a nice day. Bye

  5. Hmm it looks like your site ate my first comment (it was
    super long) so I guess I’ll just sum it up what I had
    written and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I too am an aspiring blog writer
    but I’m still new to everything. Do you have any tips for rookie blog
    writers? I’d certainly appreciate it.

  6. Helpful info. Lucky me I discovered your website unintentionally, and I’m stunned why this
    accident did not happened earlier! I bookmarked it.

  7. Howdy this is somewhat of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML. I’m starting a blog soon but have no coding know-how so I wanted to get advice from someone with experience. Any help would be enormously appreciated!

  8. My wife and i ended up being so cheerful Ervin managed to round up his web research through the entire ideas he acquired out of the web site. It is now and again perplexing to just continually be freely giving tips which often some people may have been trying to sell. And we all see we have got the website owner to give thanks to because of that. The type of illustrations you have made, the simple site menu, the relationships your site make it easier to foster – it’s got everything astounding, and it is making our son and us imagine that the theme is amusing, and that is exceedingly essential. Many thanks for the whole thing!

  9. An interesting discussion is worth comment. I think that you should write more on this topic, it might not be a taboo subject but generally people are not enough to speak on such topics. To the next. Cheers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.