Pesan Irawan untuk Pendaki Indonesia

Irawan salah satu pendaki 7 summit / Foto : DHA
Irawan salah satu pendaki 7 summit / Foto : DHA
Irawan atau kerap disapa bang iwan seorang pendaki sekaligus pecinta alam yang tidak asing lagi namanya di Indonesia. Dia adalah salah satu pendaki dari tim expedisi 7 Summits, Petualangannya selama 2,5 tahun tidak sekedar berwisata saja. menurutnya perjalanan itu memberi banyak pengetahuan dan tentu saja membuatnya menjadi paham betul tentang arti dari keingin tahuan manusia menjajaki puncak yang menjulang di bumi ini. Iwan menggambarkan bahwa mendaki gunung itu tidak hanya sekedar naik kemudian berfoto, tetapi pendaki itu harus mempunyai jiwa yang suci dan tidak hanya sekedar mendaki. Saat menjadi pembicara di Talk Show and sharing Session yang diadakan Mapala – UMI di Auditorium Al-Jibra (12/2).

Perlengkapan Individu dan tim tentu bukan hanya kesiapan materil, namun juga membutuhkan tekad dan kesiapan fisik. Bayangkan saja tubuh yang terbiasa dengan suhu tropis akan menghadapi perubahan iklim berbeda di belahan dunia lainnya. Seperti di Amerika Utara yakni puncak Denali suhunya bisa mencapai – 83 derajat Celcius. Selain tantangan ekstrim ini iwan dan tim tidak pergi dan pulang hanya dengan pengalaman untuk mempertaruhkan nyawa, namun tentu saja membawa target dan isu yang akan dikampanyekan saat pulang, yakni hasil konservasi tentang global warming.

Saat diwawancarai oleh tim Cakrawalaide.com, iwan mengungkapkan pengalaman dan hasil konservasinya. Berikut hasil wawancara bersama beliau

Terkait dengan petualangan yang anda lakukan, apa orientasi awal melakukan hal tersebut?

Saya berfikir bahwa orang Indonesia belum ada yang melakukan hal se-ekstrem itu. Jadi, saya pun punya mimpi dan ide yang kemudian dituangkan melalui ekspedisi tersebut. Saya ingin membangun sesuatu yang baru bahwa orang Indonesia juga mampu mendaki dan mencapai puncak gunung di 7 benua.

Dari 7 benua, puncak mana yg menurut anda paling berkesan ?

Seperti yang sudah saya eksplor tadi, Denali di Amerika utara tentu menjadi puncak yang berkesan, apalagi suhu yang sangat dingin, tapi disini saya menyadari bahwa anugerah manusia untuk bertahan hidup dibumi ini adalah kemampuannya beradaptasi, sebab manusia tidak mengandalkan bulu, atau apapun seperti binatang, tapi manusia menggunakan akal agar keluar dari masalah yang dihadapi.

Isu global warming menjadi isu yang anda bawa, bagaimana pandangan anda tentang ini?

Global warming tentu hal yang kadang diisukan namun hanya sebatas wacana, kami mencoba berbeda, pendakian ini harus diikuti dengan konservasi atas perubahan mendasar suhu didunia dan terkhusus apakah berdampak juga pada ketinggian, lebih jelasnya kami dan tim akan memberi data terkait hal ini.

Nah soal fenomena pendaki alay, yang hanya berfoto dan menghasilkan sampah, apa pendapat anda tentang itu?

Yah menurut saya fenomena pendaki alay itu merupakan prilaku yang tidak produktif. Tidak ada gunanya take foto hanya untuk ajang pamer atau gaya-gayaan apalagi sampai menuliskan nama di batu. Mereka harus sadar bahwa itu telah merusak alam.

Dari issue yang anda gagas, apa hasil yang anda dapatkan secara pribadi?

Secara pribadi saya menjadi lebih sadar akan pentingnya keseimbangan alam.

Apa harapan anda untuk para pendaki gunung dan pencinta alam di indonesia?

Untuk para pendaki gunung di indonesia, jadilah pendaki yang tidak sekedar menikmati keindahan alam tetapi jadilah pendaki-pendaki yang berkualitas.

Penulis : WInda
Red : Yudha

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *