Transformasi Pluralisme Agama Perlu Pendekatan Studi Lokal

Ahmad Suaedy (Direktur The Wahid Institute) / Foto : google.com
Ahmad Suaedy (Direktur The Wahid Institute) / Foto : google.com

Makassar, cakrawalaide.com – Permasalahan pluralisme agama masih saja menjadi sesuatu yang masih dianggap “the new perspective” dalam skala wacana kontemporer, khususnya di Indonesia Timur. Namun bukan hanya itu, pluralisme agama cenderung distigmakan dengan pemahaman yang akan merusak tatanan nilai agama yang bersifat fundamental. Apalagi bagi kaum yang berparadigma skriptualistik, tentunya wacana pluralisme menjadi sesuatu yang alergi di telinga mereka. Pluralisme agama sebenarnya merupakan konsep yang mencoba mencari irisan antara nilai-nilai agama dengan kultur masyarakat, bukan berarti menyama-ratakan semua pemeluk agama. Sederhananya, pluralisme agama menawarkan sebuah perspektif cara beragama yang cenderung bermakna “apa yang kita yakini itu benar namun belum tentu diluar dari keyakinan kita salah, atau yang diiluar dari keyakinan kita salah namun belum tentu keyakinan yang kita benar”. Pluralisme agama hadir dengan wajah baru yang kemudian sebagai antithesis dari cara beragama yang eksklusifisme.

Pro kontra mengenai pluralisme agama selalu mencuat dalam ruang-ruang diskusi, dan fenomena tersebut sampai menerobos ruang lingkup pendidikan tinggi. Wacana pluralisme agama dibeberapa kampus di Indonesia masih menjadi barang langka, khususnya di ruang lingkup Makassar. Konsep pluralisme agama masih belum tertransformasi dengan baik di tataran kehidupan kampus. Perguruan tinggi yang notabenenya merupakan miniature masyarakat seharusnya telah matang dalam memahami sampai mengimplementasikan substansi dari pluralisme agama itu sendiri.

Ketika ditemui oleh awak cakrawalaIDE di Acara pelatihan Jurnalisme Berperspektif HAM di Raising Hotel Makassar, Jumat (09/10) Direktur Eksekutif The Wahid institute, Ahmad Suaedy banyak memaparkan mengenai pentingnya wacana pluralisme dalam dinamika perguruan tinggi.

 

Seberapa pentingkah wacana pluralisme agama itu dan korelasinya dengan Perguruan Tinggi?

Pluralisme Agama di Indonesia itu adalah sesuatu yang kita punya sejak dahulu. Agama ada banyak, ada berbagai agama, berbagai tradisi. Islam di Indonesia saja punya ciri khas tertentu, islam Makassar dengan dengan islam di jawa berbeda, dengan Kalimantan berbeda, dengan Sumatera beda. Bahkan sesama Sumatera pun berbeda, seperti islam di Sumatera Barat dan Sumatera Tengah pun beda. Seharusnya kita lebih banyak belajar apa yang kita punya, baru kemudian kita belajar dari luar. Jadi, perguruan tinggi itu sebenarnya fungsinya memberdayakan apa yang kita punya untuk dapat bersaing di luar, salah satunya konsep pluralisme agama. Eropa, Amerika, dan Australia adalah masyarakat yang cenderung monolitik atau mono culture, jadi sangat berbeda dengan Indonesia.

 

Bagaimana tanggapan anda mengenai kurangnya transformasi wacana pluralisme agama ditataran Perguruan Tinggi masih belum massif ?

Saya cenderung kritis terhadap situasi kampus di Indonesia sekarang ini. Dimana kampus itu cenderung melihat dan berhaluan ke luar negeri. Ini bukan hanya dalam agama tapi dalam semua ilmu pengetahuan, seperti pertanian, ekonomi, dan sebagainya. Itu semua dilihat ke atas. Jadi seolah-olah apa yang ada di luar negeri iu lebih baik dari apa yang kita punya.

 

Misalnya, seperti apa?

Misalnya kita belajar pertanian di Amerika, Eropa, dan di Australia. Lalu ilmu itu kita paksakan ke dalam negeri kita. Jadi begitu juga dalam agama. Dosen-dosen atau guru-guru besar kita mereka belajar ilmu ke luar dan memaksakan di Indonesia, seperti di Timur Tengah. Padahal sesungguhnya yang terpenting dari ilmu pengetahuan adalah apa yang ada di kita sendiri. Jadi, kita boleh ke luar negeri, boleh ke mana-mana. Tapi itu seharusnya sebagai perbandingan dan metodologi saja. Yang terpenting bagaimana agar apa yang kita punya ini bisa lebih maju, lebih bisa bersaing dengan Eropa atau dengan sesuatu yang maju. Jadi, bukan memaksakan dari luar.

 

Salah satu hambatan tertransformasinya wacana Pluralisme Agama di lingkup perguruan tinggi karena faktor kuatnya pemahaman radikalisme. Menurut anda sendiri dengan fenomena ini?

Perlu kita pahami, radikalisme merupakan produk globalisasi. Analoginya seperti ini, dampak dari globalisasi sangatlah luas, baik secara ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya. Radikalisme memang murni lahir dari priduk globalisasi dan sama halnya dengan Mc Donald. Makanan cepat saji ini kemudian hadir di Indonesia dan mensingkirkan makanan-makanan local misalnya. Dan ini sama halnya dengan radikalisme itu sendiri. Pemahaman agama radikal yang datang dari luar kemudian membabat habis kultur cara beragama di Indonesia. Padahal, kita sudah mempunyai cara berislam secara berbudaya, ialah tradisi Islam Nusantara itu.

Radikalisme agama sampai mengakar menerobos ke kampus-kmpus dikarenakan yang tadi itu, bahwa beberapa dosen atau guru besar di kampus yang studi di luar negeri, seperti di timur tengah, dan lain-lain. Dan apa yang mereka serap selama studi disana kemudian dipraktekkan dalam ruang-ruang kampus yang secara kultur sangat jauh berbeda dengan Indonesia.

 

Jadi, apa masalah sesungguhnya sehingga pemahaman dan cara beragama di luar Indonesia itu jauh lebih dijunjung, atau menjadi kiblat cara beragama?

Ini permasalahan hegemoni. Radikalisme di luar negeri, seperti di Timur tengah itu sangat kuat. Disana, cara beerislam mereka sangat jauh berbeda dengan cara berislam ala Nusantara. Konteks Islam di timur tengah itu penuh dengan konflik dan peperangan. Kalau di Indonesia, cara berislam sungguh menjunjung perdamaian. Kita mrupakan bangsa yang sangat heterogen. Beda dengan Negara-negara lain yang cenderung homo culture. Dan cara berislam di luar itu merupakan bagian dari proses hegemoni. Dan sebaiknya kita buru-buru cepat bertindak untuk menghalang hegemoni luar yang mencoba menelisik masuk ke Indonesia.

 

Menurut anda, apa solusi yang efektif sehingga transformasi wacana pluralisme agama ditataran perguruan tinggi itu dapat terimplementasi secara baik?

Yah, solusinya kampus-kampus melalui dosen-dosen atau guru besar harus melakukan banyak studi lokal. Mempelajari setiap kebudayaan kita. Karena kita selalu terhegemoni dengan kultur-kultur luar yang merembes masuk. Saya pernah ke India, dan disana menurutku luar biasa sekali. Di India dikenal memiliki tradisi budaya dan kepercayaan agama yang banyak sekali. Dan hal itu mampu dijaga sampai sekarang oleh masyarakat India. Bahkan Negara-negra lain seperti dari Rusia, dan beberapa Negara di Eropa kemudian ke India dan mempelajari setiap tradisi dan agama yang ada di sana. Seharusnya Indonesia seperti itu. Ada tradisi dan cara beragama kita yang harusnya dapat dipelajari oleh orang luar, bukan kita terus yang mencaplok kultur dari luar. Dan untuk dapat seperti itu, maka dosen-dosen dan guru-guru besar yang ada di kampus-kampus harus perbanyak studi local. Karena kekayaan tradisi kita yang begitu beragam itu menjadi kekhasan sendiri bangsa kita yang tak pernah dimiliki oleh bangsa-bangsa lain.

 

Penulis : Ukhay dan Rizal

Red : Yudha

redaksi

11 thoughts on “Transformasi Pluralisme Agama Perlu Pendekatan Studi Lokal

  1. Howdy I am so glad I found your weblog, I really found you by error, while
    I was browsing on Aol for something else, Nonetheless I am here now and
    would just like to say thanks for a marvelous post and a
    all round interesting blog (I also love the theme/design), I don’t have
    time to go through it all at the minute but I have saved it and also
    added in your RSS feeds, so when I have time I will be back to read much more, Please do keep
    up the great work.

  2. Very good site you have here but I was wanting to know if you knew
    of any message boards that cover the same topics
    discussed here? I’d really love to be a part of group where I can get opinions from other experienced people that share the same interest.
    If you have any suggestions, please let me know.
    Appreciate it!

  3. Its like you read my mind! You appear to know so much about this, like you wrote the book in it or something.
    I think that you can do with a few pics to drive
    the message home a little bit, but other than that,
    this is wonderful blog. An excellent read. I will
    certainly be back.

  4. Hey I am so thrilled I found your weblog, I really found
    you by error, while I was browsing on Askjeeve for something else, Anyways I am here now and would just like to say many thanks for a marvelous post and a all round enjoyable blog (I also love the theme/design), I don’t have time to look
    over it all at the moment but I have book-marked it and also added in your
    RSS feeds, so when I have time I will be back to read a lot more,
    Please do keep up the great work.

  5. I’m not that much of a online reader to be honest but your blogs really
    nice, keep it up! I’ll go ahead and bookmark your site to
    come back later on. Cheers

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.