Vodka dan Birahi Seorang Nabi

Ilustrasi Vodka dan Birahi seorang Nabi.
Ilustrasi Vodka dan Birahi seorang Nabi.

Narasi filsafat merupakan deskripsi atau gambaran yang ditulis oleh St.Sunardi melalui pengisahannya dalam pemikiran prof. Jo Verhaar. ia menarasikan kembali pemikiran Verhaar atas gemerannya dalam filsafat, ia mengawali buku filsafat yang berkesudahan, ditulis oleh Verhaar (1999).

Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa apa yang menarik dalam perdebatan sosial filsafat dalam masyarakat pluralistic dan terkhusus untuk perdebatan mengenai hal purnamodernisme, dalam hasil ini memunculkan sikap pragmatis dalam mendekati filsafat. Bukan lagi sebagai pencarian ‘sofia’, akan tetapi melihat dari zaman yang ia sebutkan sebagai postmodern dengan warna yang mencolok yaitu pluralistic.

Dari tinjauan ini, ia mulai menelusuri jejak pemikiran Verhaar yang postmodernis tulen dan mengaitkan postmodern yang menjadi berbincangan hangat di Indonesia yang beranjak dari filsafat berkesudahan, filsafat ini muncul di karenakan kritik atas filsafat yang tak berkesudahan, dari ungkapan tersebut ia ingin mengantikan filsafat yang arti harifiahnya mencari kebijaksanaan, mencari pengetahuan, menjadi basis bahasa dan prinsip pragmatisme dan juga filsafat akan di jadikan sebagai sastra.

Menurut hemat saya jika demikan maka apa metode yang di tawarkan oleh Verhaar untuk merumuskan filsafat tersebut yang akan di jadikan sastra, bagaimana hal ini dhubungkan dan Verhaar sendiri tidak terlalu membahas rumusan tersebut, bukankah sebagian sastra hanya imaji yang di ungkapkan oleh penyair di bukukan sebagai novelis yang mengisahkan kisah fiksi atau non fiksi, padahal filsafat muncul dari pergolakan pemikiran yang gelisah mengenai alam dan pengetahuan mencari kebenaran objektif di alam maupun di ide, filsafat berupaya dalam studi pengetahuannya menghubungkan alam, manusia dan Tuhan.

Bagaimana nasib filsafat jika di sastrakan, apa lagi dengan cerita fiksi yang hanya bermain di imaji, filsafat akan berakhir pada ide semata keterpisahannya dengan alam ini. seperti kata Goenawan Muhammad, Tuhan itu harus melayang-layang atau seperti kata komunitas puisi dalam tulisannya yang pernah saya baca dengan judul Tuhan yang berdosa. jika demikian adanya filsafat bukan lagi pencarian kebenaran pengetahuan yang objektif melainkan hanya bersifat prosa dan imaji, kemudian dalam pemikiran Verhaar yang di narasikan oleh St.Sunardi merumuskan poin untuk tugas intelektual antihumanistik di zaman postmodern, kemunculan antihumanistik ini akibat kritik terhadap humanisme, poin tersebut yaitu :
1. melepaskan diri dari eletisme sosial
2. harus dapat hidup dengan skeptisisme atas dasar kekontigenan eksistensi manusia
3. bersedia dialog dengan mereka yang berkeyakinan imani lain dan dengan mereka yang tidak beriman sama sekali.

Rumusan ini adalah tugas intelektual yang di ajukan Verhaar, kemudian di tafsirkan kembali oleh St.Sunardi. De elitisasi merupakan elit kelompok kecil, pilihan elit sosial biasanya merupakan hasil dari profesionalisasi ilmu-ilmu. Pada zaman modern ada begitu banyak praktik kehidupan untuk menjadikan elit secara sosial. Gejala ini sangat paradoksal dengan cita-cita demokrasi. Kritik atas elitisme sosial juga bisa menjadi kritik atas ideology liberalisme.

Dalam paradigma budaya postmodern, tugas negative dari kaum cendekiawan adalah melepaskan diri dari status elitnya. Peryataan Verhaar dalam poin pertama ini kita melihat dari segi keraguannya terhadap cendekiawan yang akan terjerumus dalam kekuasaan, ia memperingatkan para intelektual untuk terlepas diri dari status elitnya atau membuat barisan oposisi tapi apakah ideal jika para intelektual menjauhkan dirinya dari hal itu bukankah tugas intelektual itu ikut merumuskan masalah yang ada di ranah sosial jika ia menjauh dan tidak masuk dalam kekuasan bagaimana bisa ia ikut andil dalam hal mengubah suatu tatanan sosial, bisa saja Verhaar ragu dalam hal itu akan tetapi para intelektual juga punya cara untuk bagaimana menghadapi kekuasan tanpa menjual diri kepada kekuasaan.

Skeptis tugas ilmuan yang kedua ialah menjadi seorang skeptis diungkapkan dengan bahasa yang lebih menterang, tugas ilmuwan harus siap menghadapi ketidakpastian dengan gagah berani. Dalam pembahaan ini St.Sudardi tidak mendeskripsikan lebih detail mengenai skeptis yang dinyatakan oleh Verhaar, sebab tidak cukup untuk membahasa pemikiran skeptisnya hanya dengan filsafat berkesudahan akan tetapi artikel-artikelnya juga patut untuk kita baca. Dari uraian ini ia menawarkan skeptisme untuk para ilmuan agar mendapatkan kebenaran yang absolut, rumusan ini merupakan gagasan yang ia tawarkan akan tetapi skeptis berlarut-larut akan membawa hasil yang tidak objektif sebab dalam hal analisa kami bahwa Verhaar sangat meyakini hal ini, bahkan ia melanjutkannya lagi : pencarian kepastian lahir dari keinginan untuk mengatasi skeptisme, keinginan tersebut lahir dari rasa cemas, dalam istilah ‘kecemasan cartesian’ ia mengatakan skeptis tidak menjadi soal karena munusia itu kecil, mahluk terbatas, dan skeptisme menjadi pembuka jalan untuk yang tak terduga dan kepastian dapat saja menutup semua pintu.

Pernyataan ini beranggapan bahwa manusia itu terbatas akan keberfikirannya untuk mendapat kebenaran yang objektif, ia meragukan keberfikiran manusia bahkan menganggap manusia itu kecil, mungkin Verhaar tidak mengetahui bahwa fitrah manusia ingin selalu mencari kebenaran dana hidupnya dan manusia sangat ingin mendapatkan pengetahuan yang pasti dalam proses berfikirnya meski kadang kita diperhadapkan dengan keraguan tapi keraguan yang terus menerus juga akan menjadikan manusia terkunci dalam keberfikiranya apa lagi ungkapannya mengatakan kepastian akan menutup semua ilmu seakan kita tidak lagi bisa mendapatkan kebenaran yang objektif.

kita mampu menemukan kebenaran objektif tersebut sebab kita mempunyai akal yang pontesial, selama manusia melakukan aktifitas keberpikirannya dan menggunakan neraca pengetahuan, kita akan mendapatkan kebenaran itu. Bukan hanya sebagai skeptis tapi objektif. Dialog untuk solidaritas, seorang ilmu perlu melakukan dialog terus menerus mereka yang berkeyakinan imani dengan mereka yang tidak beriman sekalipun, pandangan Verhaar dalam poin ketiga ini cukup menarik, ia menyarankan para ilmuan untuk terus berdialog dengan masyarakat tanpa memandang status sosial, agama, ras dan suku. pendangan berlandaskan prular yaitu masyarakat politik akan tetapi ia tidak merumuskan metode untuk bagaimana menghadapi masyarakat yang prular tersebut, ia hanya menawarkan filsafat naratifnya untuk sebuah pandangan ini tentang pengisah, menghasilkan kisah baru, tentang pengisah oleh pengisahyang dapat membebaskan dirinya dari penguasa.

Jadi hanya kisah yang membuat menemui teman baru di masyarakat prular, narasi yang membuat tujuan berdialog untuk membebaskan diri dari kekuasaan orang lain suapaya dia menjadi teman dan harapan tapi apakah dia hanya cukup untuk itu tanpa metode dan analisis mengenai apa persoalan yang di hadapi masyarakat tersebut, rumusan apa yang kita bawa untuk hal itu dan dialog apa yang kita tawarkan sebagai jalan untuk memecahkan masalah sosial ini, hemat saya Verhaar tidak cukup hanya dialog seperti yang saya ungkapkan di atas, kita perlu metode dan analisis, filsafat itu objektif dalam berpikir, bukan narasi dekskripsi sebagai modal untuk masalah sosial tapi nilai pengetahuan yang objektif dan berfikir disposesi.

Penulis : Rahmat

redaksi

13 thoughts on “Vodka dan Birahi Seorang Nabi

  1. I’m now not positive where you are getting your info, however good
    topic. I needs to spend some time learning more or working out more.
    Thank you for wonderful info I used to be searching for this
    info for my mission.

  2. I’m excited to discover this great site. I wanted to thank you for your time for this particularly fantastic
    read!! I definitely enjoyed every part of it
    and i also have you saved as a favorite to see
    new things on your web site.

  3. I’m curious to find out what blog system you’re utilizing?
    I’m experiencing some minor security problems with my latest website and I
    would like to find something more safe. Do you have any recommendations?

  4. When someone writes an paragraph he/she maintains the image of a user in his/her brain that how a user can know it.
    So that’s why this piece of writing is great. Thanks!

  5. Fantastic beat ! I would like to apprentice while you amend your web site,
    how can i subscribe for a weblog web site? The account helped me a
    applicable deal. I have been a little bit familiar
    of this your broadcast offered shiny transparent concept

  6. When someone writes an paragraph he/she keeps the idea of a user in his/her brain that how a user can be aware of it.
    Thus that’s why this post is great. Thanks!

  7. My partner and I stumbled over here by a different web page and thought I might check
    things out. I like what I see so i am just following you. Look
    forward to checking out your web page for a second time.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.