Perjuangan Untuk Masa Depan Yang Lebih Adil

Ilustrasi : Film Cesar Chaves
Ilustrasi : Film Cesar Chaves

Judul film  : Cesar Chavez
Sutradara  : Diego Luna
Genre        : Biopik
Durasi       : 102 Menit

“Penderitaan dan cinta membuat kita bersatu. 5 tahun kita mogok, ini merupakan pengorbanan dan perjuangan untuk esok hari yang lebih baik. hari esok yang kita dambakan.”

Kehidupan masa kecil Cesar Chavez yang begitu pahit seakan mendorong dirinya untuk berbuat sesuatu demi masa depan yang ia dambakan. Terlahir dari keluarga pemilik ladang di Meksiko, kemudian harus pindah karena tak lagi memiliki ladang untuk bercocok tanam.

Pada umur 11 tahun, Cesar Chavez pindah ke California bersama keluarganya. Disana ia harus bekerja di ladang sebagai seorang Buruh Tani. Pada usia yang masih belia, ia melihat begitu banyak ketidak-adilan dan penghinaan terhadap kelompok pekerja di lading tersebut.

Berangkat dari kisah pahit masa lalunya, ia kemudian memutuskan untuk segera merubah keadaan yang penuh ketidak-adilan itu. Pada sebuah Organisasi Masyarakat Sipil, ia belajar bagaiamana membimbing orang dan mengorganisir Petani. Ilmu itulah yang menjadi modalnya untuk mewujudkan masa depan yang memiliki rasa keadilan.

Tak hanya dirinya, Istri dari Cesar Chaves juga turut andil mengambil peran dalam membantu mewujudkan perjuangannya, baginya untuk merubah situasi tanpa pelibatan orang miskin adalah perjuangan yang omong kosong.

Untuk mengorganisir para pekerja dalam perkebunan anggur, ia kemudian harus menyamar menjadi seorang petani dan masuk dalam perkebunan tersebut. Ia kemudian berdiskusi dan mengajak para pekerja untuk melakukan sesuatu untuk merubah situasi yang mereka alami.

Jam kerja yang terlalu lama, upah yang rendah adalah sederetan masalah yang dihadapi oleh para petani anggur yang kemudian ia perjuangkan.

Butuh waktu lima tahun untuk mewujudkan harapan mereka. Lima tahun mereka mogok bekerja, melakukan serangkaian demonstrasi, boikot, berjalan dengan rute yang panjang untuk menggalang dukungan masyarakat luas.
Tak hanya itu, untuk melumpuhkan perusahaan dan perkebunan anggur, ia mengajak masyarakat untuk tidak membeli anggur karena merupakan hasil dari kerja yang tercipta dari ketidakadilan. Dalam perjuangannya bersama petani, ia mengalami banyak tantangan dalam perjuangannya. Mulai dari kekerasan, penangkapan, penembakan, sampai pada pembunuhan baik itu yang dilakukan oleh aparat keamanan maupun preman yang disewa oleh pemilk perkebunan.

Aktifitas perjuangannya membuat dirinya tak punya banyak waktu bersama anak-anaknya. Ia seakan berjarak dan nyaris tak pernah bercengkrama bahkan bermain bersama anaknya. Dalam sebuah surat yang ia tulis kepada anaknya ia meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan pada mereka. Dalam tulisannya yang menarik, ia menyatakan bahwa ia ingin melihat anak-anaknya tak seperti dirinya di masa lalu. Ia berharap kelak nanti bisa bangga terhadap apa yang telah ia kerjakan.

Film yang dirilis pada tahun 2014 ini menceritakan perlawanan terhadap pemilik perkebunan anggur yang memberi gaji tak sesuai dan memperlalukan para pekerja di perkebunan tersebut sangat tidak layak dan semaunya.

Kemiskinan adalah momok yang sangat menakutkan, ketikakadilan dan penindasan bukanlah sesuatu yang diberikan atau jatuh dari langit. Ini adalah kenyataaan yang harus dilawan secara bersama-sama. Karena hari esok yang lebih baik adalah hari yang kita dambakan bersama.

Penulis : Ady Anugrah Rasyak

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.