Trash , Jangan Pernah Remehkan Anak-Anak

 Film trash / sumber : Google
Film trash / sumber : Google

Makassar, cakrawalaide.com – Sekali lagi anda jangan pernah meremehkan anak-anak, kadang anak-anak dapat melakukan sesuatu yang tak dipikirkan dan dilakukan oleh orang dewasa. Hal inilah yang menjadi cerita dari film Trash.

Film ini disutradarai oleh Stephen Deldy yang merupakan adaptasi dari sebuah novel karya Andy Mulligan.

Trash yang tayang perdana oktober tahun 2014 ini bercerita tentang 3 orang bocah yang mampu membongkar skandar korupsi salah seorang politikus sekaligu calon walikota di Rio De Jeneiro.

Cerita ini bermula ketika Raphael bocah 14 tahun yang bekerja sebagai seorang pemulung menemukan sebuah dompet ditumpukan sampah pada saat ia bekerja. dompet tersebut berisi uang dan benda berharga yang kemudian ia kembangkan menjadi barang bukti untuk membongkar skandal korupsi.

Raphael tidaklah sendirian, bersama dua orang temanya Gabo dan Gabriel mereka mampu membongkar skandal korupsi dengan mengikuti petunjuk dank ode yanga ada didalam didompet yang ditemukan.

Mereka bertiga tinggal diwilayah lingkungan kumuh dan akrab dengan kemiskinan yang berada dipinggir kota Rio De Jeneioro. Keseharian mereka selain bekerja sebagai pemulung, mereka juga aktif membantu pendeta membersihkan gereja dan  belajar digereja tersebut.

Karena dompet tersebut berisi sebuah barang penting, maka Santos yang adalah politikus berpengaruh dan calon walikota tersebut menyewa polisi untuk mencari dompet tersebut. Para polisi pun datang ketempat pembuangan sampah mencari dan menyampaikan kepada para pemulung akan memberikan imbalan kepada siapa saja yang menemukan dompet tersebut.

Raphael dan Gabo yang mengetahui hal tersebut tak tergiur dengan imbalan yang cukup besar yang dijanjikan oleh polisi. Menurut mereka pasti isi dompet tersebut sangat penting sehingga segala cara dilakukan agar dompet tersebut ditemukan.

Raphael kemudian diculik oleh polisi tersebut, dirinya dipaksa untuk mengatakan dimana dompet tersebut, namun Raphael tak memberi jawaban kemudian dirinya disiksa dan hamper dibunuh.

Namun hal tersebut tak membuat mereka berhenti untuk mencari tau tentang petunjuk yang ada pada dompet tersebut. Justru disinilah letak keseruan dari film ini. Mereka bertiga kemudian mengikuti petunjuk yang ada didalam dompet, mendatangi salah satu aktifis/pengacara yang bersebrangan dengan Santos yang ditahan dipenjara, mauk kerumah Santos dan berkejar-kerjaran dengan polisi.

Setelah mengikuti petunjuk yang mereka dapat, mereka menemukan sekantong uang dan berkas sumber-sumber dana korupsi Santos. Uang yang mereka dapat kemudian mereka hamburkan di atas bukit tempat para pemulung mengais sampah.sementara barang bukti berupa daftar sumebr sumber hasil korupsi yang mereka dapat dipublikasikan lewat internet oleh pendeta dan seorang relawan perempuan yang juga membantu aksi mereka.

Setelah itu, mereka bertiga pun lari meninggalkan tempat tinggal mereka, setelah peristiwa tersebut publikasi mengenai skandal tersebut memicu kemarahan dan Santos pun dipenjara.

Anak-anak dalam film ini memberikan gambaran bagaimana meraka tak tergiur oleh suap yang ditawarkan kepada mereka. Tak hanya itu, mereka juga memberi insirasi bahwa ternyata dalam hal korupsi ternyata anak anak juga memiliki sumbangsih.

Jika di Indonesia Komisi Pemberantasan Korupsi ada paling depan dalam pemberantasan korupsi, maka dala film ini anak anaka menjadi actor paling penting. Kita berharap anak anak Indonesia dimasa depan yang juga (akan) dewasa bisa menjadi bagian dari gerakan anti korupsi minimal tak korupsi.

Untuk kesekian kalinya. jangan remehkan anak-anak.

 

penulis : Cappa

Red : Hutomo

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *