Tak Ada Lokalisasi, PKL UNM Menolak Penggusuran

ist
ist
Makassar, cakrawalaide.com — Pedagang kaki lima (PKL) di depan Universitas Negeri Makassar Parangtambung (UNM Parangtambung) mendatangi Balai Kota Makassar, Selasa (7/7). Mereka meminta kejelasan atas surat yang diterima padagang perihal teguran untuk mengosongkan lapak karena akan adanya penggusuran. para pedagang menganggap surat dengan Nomor : 503/34/KPT/VII/2015 yang ditandatangani oleh Lurah Parangtambung Yudistira Nugraha dianggap terlalu cepat, sedangkan pembicaraan mengenai penggusuran tidak melibatkan pedagang.

68 kios usaha masyarakat terancam jika penggusuran tetap dilakukan. Mereka mengatakan masih membutuhkan waktu untuk mengosongkan lokasi. Tak adanya pembicaraan solusi maupun lokalisasi kemana pedagang akan ditempatkan pasca penggusuran, membuat para pedagang menolak penggusuran dan tetap bertahan.

Di Balai Kota, para pedagang datang untuk memverifikasi surat teguran yang telah di keluarkan dua kali oleh Lurah Parangtambung. Mereka ditemui oleh Rahim Mallu, Kepala Bidang Penertiban Umum Bidang Operasional Satuan Polisi Pamong Praja Kota Makassar.

Rahim Mallu dihadapan para pedagang mengatakan bahwa surat teguran telah ada dan tinggal menunggu surat dari kecamatan sebagai tindak lanjut untuk memulai penggusuran.

“hanya kelurahan atau kecamatan yang menyetop Satpol PP untuk melakukan penggusuran, kalau misalnya kecamatan menandatangani surat, kami tinggal menunggu surat tugas dari walikota yang telah berkoordinasi dengan lurah atau camat untuk melakukan penertiban”

Para pedagang kemudian pergi ke Kantor Kecamatan Tamalate dan menemui camat, Djalil Sikki. Djalil juga belum bisa memastikan untuk berbuat apapun dan hanya menunggu perintah dari atasan.

Ia menjelaskan kasus ini berawal dari pihak kampus UNM (Rektor) yang menyurat ke Walikota Makassar untuk diadakan penertiban di depan Kampus UNM karena dianggap kumuh. Sehingga kemudian diadakanlah rapat bersama yang dihadiri oleh Walikota, Pihak Kampus UNM juga Pihak Kecamatan Tamalate.

Pedagang menilai tenggak waktu yang diberikan terlalu cepat, dan pembicaraan masalah penertiban tidak melibatkan pedagang.

“kita tidak dilibatkan, kami hanya meminta kita dilibatkan, supaya nasib pedagang jelas dan ada lokalisasi” ujar Umar, salah satu pedagang

Umar juga mengatakan telah adanya pembicaraan sebelumnya antara pedagang dan Rektor UNM, Arismunandar, ada beberapa yang dibicarakan yaitu pedagang akan dimasukan kedalam kampus tapi pihak UNM menolak, juga pedagang akan mencoba ke gedung IKA UNM (di depan kampus) untuk berdagang. Tapi Rektor UNM menyarankan para pedagang untuk berbicara dengan pihak IKA untuk membicarakan hal tersebut.

Penulis : Ayie
Red : Walla

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.